Pengembang Sukirman (Universi

Pengembang
Sukirman (Universitas Negeri Yogyakarta)
Paulina Pannen (Universitas Terbuka)
Adi Suryanto (Universitas Terbuka)
Penelaah
Drs. Umar Samadhy, M.Pd (Universitas Negeri Semarang)
Drs. U.Z. Mikdar, M.Pd (Universitas Palangkaraya)
Dr. Muazza, M.Si (Universitas Jambi)
Drs. Masengut Sukidi, M.Pd (Universitas Negeri Surabaya)
Suryadi, S.Pd (Universitas Pendidikan Indonesia)
Perancang Grafis:
A.A. Bagus Dwipayana
Alamsyah YDM, ST
Arief Mukti Yuliyanto
Rindy Andina, A.Md.
Yance Ferdian
Profil Kebutuhan Guru
(c) 2008
Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Departemen Pendidikan Nasional
Gedung D Lantai 15 Jl. Jenderal Sudirman Pintu I Senayan Jakarta
Telp/fax. 021-57974128, 57974129, 57974130, 57974131, 57974132, 57974133
bermutu_diknas@yahoo.com
Kata Pengantar
Dalam rangka mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) melaksanakan Program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) dimulai pada tahun 2008 sampai tahun 2013 yang tersebar di 75 Kabupaten/Kota di 16 provinsi. Program BERMUTU bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran sebagai dampak peningkatan kompetensi, kualifikasi, dan kinerja guru. Salah satu komponen strategis Program BERMUTU untuk mencapai tujuan tersebut adalah penguatan peningkatan mutu dan profesional guru secara berkelanjutan.
Besarnya jumlah guru yang belum memenuhi kualifikasi minimal S1/D4 menjadi dasar pemikiran untuk memberdayakan Kelompok Kerja Guru (KKG) yang mewadahi guru SD, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang mewadahi guru bidang studi di SMP, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Program Studi (MKPS). Dalam Program BERMUTU, peningkatan kompetensi guru akan ditingkatkan dengan memberdayakan KKG dan MGMP sehingga mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan pengembangan profesional guru termasuk pendidikan dan pelatihan yang terakreditasi bagi guru yang belum memiliki Ijazah S1/D4 dan juga bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Bahan Belajar Mandiri BERMUTU telah dikembangkan untuk dimanfaatkan sebagai perangkat utama dalam proses pendidikan dan pelatihan terakreditasi bagi guru di KKG/MGMP, dan kepala sekolah serta pengawas sekolah di KKKS/MKKS, KKPS/MKPS. Bahan Belajar Mandiri BERMUTU untuk bidang studi yang dirancang dengan mengintegrasikan pendekatan penelitian tindakan kelas, lesson study, dan studi kasus, diharapkan dapat memandu guru-guru untuk melakukan kajian kritis terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan, memperbaiki dan mengembangkan kurikulum pembelajarannya, serta mempraktekkan pembelajaran yang baik berdasarkan metode PAKEM dan strategi pembelajaran inovatif lainnya. Sementara itu, Bahan Belajar Mandiri BERMUTU untuk bidang manajemen dirancang untuk menjadi panduan praktis bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas pengelolaan dan penyeliaan.
Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dikembangkan dengan melibatkan sejumlah widyaiswara dari P4TK, dosen LPTK, guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta mengintegrasikan berbagai masukan dari praktisi lapangan dan nara sumber ahli dari LPTK. Dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU, beragam kegiatan pengembangan profesional guru di KKG/MGMP, dan pengembangan kepala sekolah dan pengawas di KKKS/MKKS, KKPS/MKPS dapat dilaksanakan secara aktif.
Penghargaan dan terima kasih setinggi-tingginya disampaikan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam pengembangan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU ini yang dikoordinasikan oleh Direktorat Pembinaan Diklat, Ditjen PMPTK. Semoga Bahan Belajar Mandiri BERMUTU ini dapat bermanfaat bagi guru-guru dan komtopikas pendidikan pada umumnya, sehingga pada akhirnya dapat tercapai cita-cita luhur peningkatan kualitas pendidikan di tanah air.

Jakarta, 20 November 2008
Direktur Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan

Sumarna Surapranata, Ph,D.
NIP. 131 470 163

Daftar Isi

Kata Pengantar i
Daftar isi…. iii
BAB I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2
BAB II Model Belajar Bermutu 5
A. Integrasi Penelitian Tindakan Kelas, Lesson Study dan Case Study sebagai Model Belajar BERMUTU 5
B. Model Belajar BERMUTU 8
C. Bahan Belajar Mandiri BERMUTU 12
BAB III Pembinaan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas melalui Kelompok Kerja atau Forum 29
A. Hasil yang Diharapkan 29
B. Indikator Keberhasilan Program 30
C. Manfaat Program 32
D. Dampak Program 33
BAB IV Sistem Penyelenggaraan 35
A. Tugas dan Tanggung Jawab Berbagai Pihak
dalam Program BERMUTU 36
B. Kegiatan Pelatihan Model Belajar BERMUTU di Kelompok Kerja, Musyawarah Kerja, dan Forum 38
BAB V Peserta 51
A. Peserta Pelatihan Guru dalam KKG (Kelompok Kerja Guru) 51
B. Peserta Pelatihan Guru dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) 51
C. Peserta Pelatihan Kepala Sekolah dalam KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) 52
D. Peserta Pelatihan Kepala Sekolah dalam MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) 52
E. Peserta Pelatihan Pengawas dalam KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah) 53
F. Peserta Pelatihan Pengawas dalam MKPS (Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah) 53
BAB VI Kegiatan Pembelajaran dalam KKG dan MGMP dengan Model Belajar BERMUTU 55
A. Kegiatan Pembelajaran 55
B. Guru Pemandu dan Dosen Pendamping 58
C. Hasil Belajar 59
BAB VII Evaluasi Hasil Kegiatan 61
A. Jenis Evaluasi 61
B. Sertifikasi 62
BAB VIII Koordinasi 63
A. Persiapan 63
B. Pelaksanaan 63
C. Pelaporan 64
D. Monitoring dan Evaluasi (Monev) 64
BAB IX Pembiayaan 67
A. Sumber Dana 67
B. Penggunaan dan Pertanggungjawaban Dana 68
Glosarium 69
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru harus memiliki: (i) kualifikasi akademik minimum S1/D4, (ii) kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, dan (iii) sertifikat pendidik. Agar guru dapat memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana yang diamanatkan pada UU tersebut, maka guru harus meningkatkan kompetensinya melalui berbagai upaya, antara lain melalui pelatihan, penulisan karya tulis ilmiah, dan berbagai pertemuan di kelompok kerja atau forum. Kelompok kerja dan forum tersebut mencakup: Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Forum Kelompok Kerja Guru (FKKG). Selain itu, terdapat kelompok kerja yang erat kaitannya dengan kelompok kerja tersebut, yaitu: Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS), Forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (FKKKS), dan Forum Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (FKKPS).
Keberadaan kelompok kerja atau forum sebagaimana tersebut selama ini kurang memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi guru. Berbagai kendala yang dihadapi oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas saat ini dalam usaha menciptakan kelompok kegiatan yang aktif dan efektif adalah sebagai berikut.
1. Manajemen kelompok kerja (pokja) masih perlu ditingkatkan kualitasnya dalam upaya optimalisasi intensifikasi pembinaan kegiatan kelompok kerja.
2. Program-program kegiatan kelompok kerja masih kurang sesuai dengan kebutuhan pengembangan profesionalitas guru, kepala sekolah, dan pengawas.
3. Dana pendukung operasional belum memadai dan kurang dimanfaatkan secara tepat.
4. Bervariasinya perhatian dan kontribusi pemerintah daerah melalui dinas pendidikan terhadap program dan kegiatan kelompok kerja.
Oleh karena itu, diperlukan upaya revitalisasi kelompok kerja atau forum, agar aktivitas/kegiatan yang dilakukannya dapat memberikan manfaat dalam upaya peningkatan kompetensi guru. Melalui berbagai aktivitas dari kelompok kerja dan forum, diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk menumbuhkembangkan budaya pembelajaran yang berpusat pada sistem instruksional yang prima, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran yang berujung pada peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Dalam rangka mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) akan melaksanakan Program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) yang dimulai pada tahun 2008 sampai tahun 2013 yang dilaksanakan di 75 Kabupaten/Kota di 16 provinsi. Program BERMUTU bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran sebagai dampak peningkatan kompetensi, kualifikasi, dan kinerja guru. Salah satu komponen strategis Program BERMUTU untuk mencapai tujuan tersebut adalah penguatan peningkatan mutu dan profesional guru secara berkelanjutan yang terwadahi dalam komponen kedua dari program BERMUTU. Program pada komponen 2 ini terkait dengan usaha memantapkan struktur pengembangan mutu guru pada tingkat lokal. Salah satu kegiatannya adalah pemberdayaan berbagai forum dan kelompok kerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Dalam upaya pemberdayaan kelompok kerja atau forum tersebut, program BERMUTU mengembangkan Model Belajar BERMUTU serta Bahan Belajar Mandiri BERMUTU yang akan menjadi salah satu aktivitas utama dari kelompok kerja dan forum tersebut.
Dengan dilaksanakannya Program BERMUTU, kegiatan kerja kelompok dan forum dapat berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi peserta kelompok kerja dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Diharapkan dengan terstrukturnya kegiatan di kelompok kerja dan forum dapat meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan. Di samping itu kegiatan-kegiatan kelompok dan forum juga membantu guru dalam perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat, peningkatan kualifikasi guru, dan persiapan guru dalam menghadapi proses sertifikasi.
Keberhasilan penerapan Model Belajar BERMUTU bukan hanya dapat diukur dengan ketersediaan Bahan Belajar Mandiri yang sudah dirancang dan dikembangkan secara sistematis dan handal bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas serta keterlibatan berbagai pihak, yaitu LPTK, P4TK, LPMP dan guru. Selain itu, dapat diukur juga melalui pelaksanaan Model Belajar BERMUTU di KKG, MGMP, KKKS, KKPS, MKKS dan MKPS, untuk memperoleh Recognition of Prior Learning (RPL) atau Pengakuan Hasil Belajar Sebelumnya (PHBS), yaitu pengakuan kredit oleh LPTK/perguruan tinggi setempat, serta mekanisme evaluasi dan monitoringnya.

B. Tujuan
Model Belajar BERMUTU dikembangkan dan diimplementasikan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk terlibat dalam proses pengembangan profesional secara berkelanjutan melalui kegiatan KKG, MGMP, KKKS, KKPS, MKKS dan MKPS dengan menggunakan Bahan Belajar Mandiri yang berkualitas. Secara khusus, Model Belajar BERMUTU ditujukan untuk dapat meningkatkan keterampilan guru, kepala sekolah dan pengawas dalam hal berikut ini.
1. Melakukan penelitian tindakan kelas dengan Lesson Study secara berkelanjutan sebagai upaya untuk memahami proses belajar mengajar pada pendidikan dasar dan menengah pertama.
2. Mengembangkan kurikulum dan perencanaan pembelajaran sesuai dengan aturan yang berlaku bagi jenjang pendidikan dasar kelas awal, pendidikan dasar kelas tinggi, dan pendidikan menengah pertama.
3. Menambah wawasan bidang ilmu berdasarkan permasalahan keilmuan yang muncul dalam rangka penerapan kurikulum sekolah pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
4. Melaksanakan proses pembelajaran inovatif berbasis penelitian tindakan kelas dan Lesson Study dalam mata pelajaran di sekolah pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
5. Memanfaatkan beragam sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri, proses pembelajaran, dan sumber belajar mata pelajaran di sekolah pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
6. Menambah wawasan bidang manajemen berdasarkan permasalahan manajemen yang muncul dalam rangka meningkatkan efektivitas kepemimpinan, kompetensi, peran pengembangan profesi dan organisasi profesi kepala sekolah dan pengawas pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
Model Belajar BERMUTU dengan memanfaatkan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU yang telah dikembangkan secara sistematis akan menjadi program pokok dalam aktivitas KKG dan MGMP. Untuk menjamin terjadinya pelaksanaan aktivitas KKG dan MGMP yang baik diperlukan Panduan Pengelolaan. Panduan Pengelolaan Model Belajar BERMUTU di KKG dan MGMP merupakan panduan teknis yang berfungsi untuk memberikan kejelasan aturan pengelolaan kegiatan KKG dan MGMP, aturan pemanfaatan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU, serta aturan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan KKG dan MGMP sebagai wadah pengembangan profesional guru.
Panduan pengelolaan ini juga mengatur kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh KKKS, KKPS, MKKS dan MKPS dalam memanfaatkan Bahan Belajar Mandiri manajemen untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengelola sekolah, melakukan supervisi akademik dan ikut serta mengelola KKG dan MGMP. Selain itu, panduan ini mengatur kegiatan-kegiatan pada forum-forum KKG, MGMP, KKKS dan MKKS dalam memfasilitasi komunikasi antar kelompok/musyawarah dalam suatu kabupaten dan mendistrbusikan hasil-hasil terbaik mereka kepada pihak-pihak terkait.
BAB II
Model Belajar BERMUTU

A. Integrasi Penelitian Tindakan Kelas, Lesson Study dan Case Study sebagai Model Belajar BERMUTU
Model Belajar BERMUTU merupakan suatu model belajar bagi guru dalam meningkatkan kompetensi profesionalnya secara kolaboratif melalui kajian pembelajaran yang komprehensif dan berkelanjutan menuju terciptanya komunitas belajar.
Model Belajar BERMUTU pada dasarnya merupakan model penerapan penelitian tindakan kelas oleh guru yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah atau perbaikan pembelajaran. Model pembelajaran ini dimulai dari kajian pembelajaran, identifikasi masalah, penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, pengumpulan dan analisis data, refleksi dan tindak lanjut, serta pelaporannya. Untuk memperkaya khasanah penelitian tindakan kelas, pendekatan kerja kolaboratif guru dalam berbagai tahap perencanaan, pembaharuan/perbaikan pembelajaran, dan refleksi dalam model Lesson Study diintegrasikan ke dalam Model Belajar BERMUTU. Selain itu, digunakan juga teknik studi kasus sebagai alat untuk mengumpulkan data dalam observasi dan refleksi.
Berikut ini disajikan suatu skema yang menunjukkan bahwa Model Belajar BERMUTU merupakan integrasi dari Penelitian Tidakan Kelas (PTK), Lesson Study dan Case Study, seperti tampak pada tabel 1.

Tabel 1. Integrasi Lesson Study dan Case Study dalam Model Berlajar BERMUTU

LESSON STUDY PTK MODEL BELAJAR BERMUTU CASE STUDY SIKLUS PERTAMA SIKLUS PERTAMA Pembentukan Kelompok Lesson Study (Berbasis MGMP/KKG) Observasi Awal:
Kurikulum, Penguasaan materi ajar, strategi pembelajaran Menuangkan hasil observasi dalam tulisan narasi tentang
kondisi pembelajaran (siswa, guru, kurikulum, materi, strategi, dll) 1. PLAN:
Perencanaan pembelajaran (skenario) berdasarkan kondisi kelas dan fokus kompetensi yang ingin capai secara kolaboratif.
– Skenario (RPP)
– Perangkat (LKS, media, sumber belajar, instrumen) 1. Identifikasi dan Perumusan Masalah
– Kurikulum, Penguasaan Materi Ajar, Strategi pembelajaran. 2. Penyusunan Rencana Tindakan:
– menyusun skenario pembelajaran (RPP)
– menyiapkan perangkat pembelajaran (LKS, media, sumber belajar, instrumen)
– Menuliskan proposal singkat
2. DO:
– Pelaksanaan pembelajaran oleh “guru model” dengan skenario yang telah dikembangkan bersama
– Observasi pembelajaran oleh anggota kelompok (tim LS) yang difokuskan pada aktivitas belajar siswa, dan merekam fakta/fenomena belajar yang menarik (kapan siswa konsentrasi, kapan tidak konsentrasi, interaksi siswa-siswa-guru-media) 3. Melaksanakan Tindakan (KBM di kelas)
Dilaksanakan oleh guru kelas dengan skenario atau rencana tindakan yang telah dirancang dan dipersiapkan

4. Observasi dan Pengambilan Data
– Keterlaksanaan rencana tindakan (lembar observasi)
– Aktivitas belajar siswa (lembar observasi)
– Penguasaan hasil pelajar (kognitif, psikomotorik, dan afektif?) –> Nilai hasil tes, observasi dengan rubrik
– Catatan anekdotal (hasil pengamatan yang tidak termuat dalam lembar observasi)
Menuangkan hasil pengamatan atau poin-poin temuan dalam catatan anekdotal 3.SEE:
Refleksi melalui kegiatan diskusi (forma)
– refleksi diri guru model
– komentar semua pengamat (fokus pada aktivitas belajar siswa, sedikit tentang langkah guru)
– komentar pengamat ahli (pakar) jika ada (Dosen, Pengawas, KS, yg lain)
– Revisi skenario berdasarkan masukan dari refleksi (jika diperlukan) 5. Analisis dan Interpretasi Data
– Kompilasi dan pengelolaan data
– Analisis data kuantitatif (secara deskriptif atau statistik)
– Analisis data kualitatif secara deskriptif
– Menginterpretasi data (membaca/mencermati, menghubung-hubungkan, menarik simpulan)
Menyusun kembali data-data hasil pengamatan dan hasil interpretasi ke dalam narasi yang lebih sistematis 6. Refleksi dan Tindak Lanjut
– Dilakukan dengan diskusi antara anggota kelompok MGMP/tim peneliti
– Uraian refleksi dituliskan dalam narasi ilmiah
– Dipikirkan kemungkinan alternatif/rencana tindak lanjut
Menuliskan uraian refleksi dan rencana tindak lanjut dalam narasi ilmiah
SIKLUS LS BERIKUTNYA
(tergantung waktu atau tercapainya tujuan pemecahan masalah) Melanjutkan ke siklus berikutnya (jumlah siklus sesuai yang diperlukan atau sesuai dengan waktu yang tersedia) 7. Penyusunan Laporan PTK
Menyusun hasil PTK ke dalam bagian-bagian
Kemampuan menulis dari hasil melaksanakan Case Study diperlukan untuk menuliskan hasil-hasil PTK dalam narási ilmiah
Model Belajar BERMUTU menekankan pada kajian pembelajaran sebagai langkah awal untuk membuka cakrawala guru tentang proses pembelajaran dari tiga aspek, yaitu aspek kurikulum, aspek bidang studi, dan aspek praktik pembelajaran. Melalui kajian pembelajaran, di mana guru melakukan observasi dan menganalis proses pembelajaran yang berlangsung secara cermat, guru diharapkan dapat mengidentifikasi beragam masalah dalam proses pembelajaran, terutama dari sisi kurikulum, bidang studi, dan praktik pembelajaran.

Pengakuan Kredit atas Belajar BERMUTU
Bahan Belajar Mandiri BERMUTU menjadi sarana utama bagi kerjasama dan partisipasi LPTK dalam pembinaan kegiatan KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS. Dengan demikian, dapat dilaksanakan program pengembangan profesional guru yang lebih terstruktur dan berbobot serta terjamin mutunya di KKG/MGMP untuk kemudian peserta memperoleh pengakuan kredit oleh LPTK secara berkelanjutan.
Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dapat diberi pengakuan kredit oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sesuai dengan aturan akademik yang berlaku di setiap LPTK, sehingga dapat digunakan untuk mengumpulkan satuan kredit semester (sks) dalam rangka mencapai kualifikasi D4/S1. Untuk menjamin diperolehnya pengakuan sks oleh LPTK, Bahan Belajar Mandiri BERMUTU, Proses Belajar BERMUTU, serta hasil belajar program BERMUTU yang berbentuk portofolio dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi aturan akademik yang berlaku di LPTK. Bagi guru/peserta yang telah memenuhi kualifikasi D4/S1, maka peserta yang menempuh Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dapat menggunakannya untuk perolehan kredit poin untuk kenaikan pangkat/jabatan.
B. Model Belajar BERMUTU
Model Belajar BERMUTU tampak sebagaimana Gambar 1 berikut ini.

Sementara itu, dalam pelaksanaannya, Model Belajar BERMUTU dilakukan dalam 6 langkah utama seperti tampak pada Gambar 2 berikut ini.
Langkah 1: Kajian Pembelajaran
Kajian pembelajaran diharapkan membuka cakrawala guru terhadap proses pembelajaran secara otentik dan dapat menganalisis suatu proses pembelajaran secara kritis.
Pada tahap ini guru mengobservasi proses pembelajaran dari 3 aspek, yaitu: kurikulum, bidang studi, dan praktik pembelajaran.
a. Kurikulum
Apakah guru sudah memahami KTSP? Apakah guru sudah membuat silabus? Apakah guru mengerti perbedaan standar kompetensi dan kompetensi dasar? Apakah guru sudah membuat RPP dengan benar? Apakah guru mampu membuat lembar kerja siswa dengan benar? Apakah guru sudah mampu membuat soal untuk mengukur pencapaian hasil belajar dengan benar?
b. Bidang Studi
Adakah kesalahan konsep yang disampaikan guru dalam suatu topik? Apakah ada konsep-konsep yang bertentangan ? Apakah urutan penyajian konsep-konsep sudah runtut ? Apakah keluasan dan kedalaman sajian konsep atau prinsip sesuai dengan tingkat intellektual siswa ?
c. Praktik Mengajar
Bagaimana sikap guru terhadap siswa yang berbeda-beda keaktifannya? Apakah guru sudah menerapkan PAKEM? Bagaimana guru memanfaatkan media belajar dengan tepat? Apakah guru sudah mengajukan pertanyaan kepada siswa dengan tepat sehingga siswa terpacu untuk berpikir secara analitis? Apakah strategi guru dalam mengajarkan suatu topik sudah cukup menarik dan tepat dengan struktur materi? Apakah ada cara lain untuk mengajarkan suatu topik pada murid? Apakah guru menguasai konsep yang disampaikan untuk memberi contoh penerapan konsep pada konteks yang berbeda?
Hasil observasi kemudian dituliskan oleh guru dalam bentuk studi kasus secara rinci. Laporan observasi tersebut dianalisis oleh guru sampai pada akhirnya guru dapat menyimpulkan masalah-masalah yang muncul dalam proses pembelajaran. Masalah-masalah itu perlu diseleksi dan diidentifikasi sebagai fokus untuk langkah selanjutnya, yaitu penelitian tindakan kelas.
Selain mampu mengidentifikasi masalah dari kajian pembelajaran, guru diharapkan dapat menyimpulkan pentingnya pelaksanaan PTK sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran di kelas dan di sekolahnya.

Langkah 2: Identifikasi Masalah dan Perencanaan Tindakan
Bagaimana mengidentifikasi masalah yang potensial untuk dijadikan fokus penelitian tindakan kelas dalam Model Belajar BERMUTU? Ragam masalah yang potensial untuk menjadi fokus penelitian tindakan kelas, antara lain masalah strategis dan otentik yang berkaitan dengan pembelajaran sehari-hari membutuhkan penanganan yang relatif segera dan berkelanjutan, cakupan masalahnya tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, serta sesuai dengan kemampuan guru.
Berikut ini beberapa contoh masalah pembelajaran sehari-hari yang potensial untuk menjadi fokus Penelitian Tindakan Kelas.
a. Siswa kurang aktif dalam kegiatan diskusi.
b. Rendahnya motivasi siswa dalam belajar.
c. Siswa kurang mampu mengerjakan latihan.
d. Rendahnya kemampuan dan keberanian siswa mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat dalam proses pembelajaran.
e. Rendahnya kemampuan siswa mengerjakan soal-soal cerita pada pelajaran matematika.
f. Sulitnya siswa mengenal dan memahami peta buta dalam pelajaran IPS.
g. Rendahnya kemampuan siswa kelas satu dalam mengenal huruf.
h. Rendahnya kemampuan siswa dalam mengarang.
Identifikasi masalah berguna untuk mendapatkan kejelasan masalah yang sesungguhnya, menemukan kemungkinan faktor penyebab serta menentukan kadar permasalahan yang akan berdampak pada perancangan tindakan perbaikan oleh guru.

Perancangan tindakan perbaikan dilakukan guru dengan merinci langkah-langkah strategis apa yang akan dilakukan guru dalam rangka tindakan perbaikan bagi masalah yang telah dipilih, termasuk di dalamnya adalah guru mempersiapkan rencana proses perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam siklus penelitian tindakan kelas. Rencana proses perbaikan pembelajaran seyogyanya menggambarkan perbedaan dari rencana PBM yang sekarang berjalan dan bermasalah, serta perbaikan yang diharapkan dapat dicapai. Guru dapat menggunakan format RPP yang berlaku di sekolahnya dalam mengembangkan rencana proses perbaikan pembelajaran.

Langkah 3: Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Proses penelitian tindakan kelas merupakan suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. Pada Model Belajar BERMUTU, siklus tindakan dilakukan berulang-ulang, yang masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, melakukan perbaikan pembelajaran dan observasi, serta kegiatan refleksi. Perencanaan adalah perencanaan perbaikan pembelajaran oleh guru. Ketika guru melaksanakan perbaikan proses pembelajaran di kelas berdasarkan rencana yang sudah disusun, dilakukan observasi oleh rekan sejawat guru. Kemudian, guru menuliskan refleksi diri tentang hal-hal yang sudah dilakukan dalam proses pembelajaran. Kemudian, diadakan diskusi refleksi secara bersama antara guru dengan rekan sejawat yang mengobservasinya.

Langkah 4: Pengumpulan dan Analisis Data
Pengumpulan data dilaksanakan pada saat guru melakukan tindakan perbaikan proses pembelajaran di kelas, dengan dilakukan observasi oleh rekan sejawatnya. Selama proses pembelajaran observer (rekan sejawat) tidak boleh mengganggu/melakukan intervensi, baik terhadap guru pelaksana pembelajaran maupun terhadap murid. Oleh karena itu, proses dan cara pengumpulan atau perekaman data diharapkan tidak menyita waktu guru sehingga guru kehilangan konsentrasi dalam membahas materi pelajaran dan melaksanakan proses pembelajaran. Kemudian hasil observasi rekan sejawat, hasil tes belajar siswa, dan hasil refleksi guru dikumpulkan, selanjutnya dilakukan analisis sebagai bahan dalam kegiatan refleksi bersama. Hasil refleksi bersama ini digunakan oleh guru sebagai pertimbangan dalam penyusunan rencana tindakan pada siklus berikutnya.
Analisis data sederhana yang bersifat deskriptif dapat dilakukan terhadap beragam jenis data yang telah terkumpul. Hasil observasi rekan sejawat dilakukan analisis untuk menemukan key point (ide kunci) masukan dan kritikan yang diberikan oleh rekan sejawat terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Hasil tes belajar siswa dapat dianalisis dengan statistik deskriptif sederhana seperti rerata, perubahan rerata dari waktu ke waktu, gain score (beda nilai dari tes awal dan tes akhir) nilai tertinggi, nilai terendah, sebaran nilai, serta identifikasi kompetensi yang bermasalah bagi siswa. Untuk refleksi guru, juga digunakan analisis key point, sama seperti analisis terhadap hasil observasi rekan sejawat.

Langkah 5: Refleksi dan Tindak Lanjut
Kegiatan refleksi merupakan kilas balik terhadap proses pembelajaran yang telah berjalan. Bagi guru pelaksana PTK, kegiatan refleksi memberikan kesempatan untuk mengingat kembali proses belajar mengajar yang telah dijalankan, serta analisis terhadap keberhasilan serta kekurangan proses belajar mengajar yang dijalankan tersebut. Sementara itu, bagi rekan sejawat yang melakukan observasi, refleksi dapat dilakukan terhadap berbagai aspek proses pembelajaran yang telah berjalan.
Tindak lanjut merupakan upaya guru untuk melakukan tindakan perbaikan selanjutnya terhadap masalah yang dihadapi, berdasarkan masukan dari rekan sejawat dan refleksi yang dilakukan.

Langkah 6: Pelaporan
Keseluruhan langkah-langkah dalam Model Belajar BERMUTU termasuk pelaksanaan proses penelitian tindakan kelas didokumentasikan dengan sistematis, untuk kemudian dirangkum dalam satu bentuk laporan. Secara sederhana, laporan ditulis dengan mengikuti format sebagai berikut.
* JUDUL (Halaman Judul)
* LEMBAR PENGESAHAN
* KATA PENGANTAR
* ABSTRAK
* DAFTAR ISI
* BAB I PENDAHULUAN
o Latar Belakang
o Perumusan Masalah
o Tujuan Penelitian
o Manfaat Penelitian
o Definisi Operasional
* BAB II KAJIAN PUSTAKA
* BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
* BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
* BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
* DAFTAR PUSTAKA
* LAMPIRAN

C. Bahan Belajar Mandiri Bermutu
Pada pelaksanaan Model Belajar BERMUTU, guru dibekali dengan sejumlah Bahan Belajar Mandiri BERMUTU, yang merupakan Bahan Belajar Mandiri yang dirancang untuk menunjang program pengembangan profesional guru yang berbasis pada kegiatan kesejawatan yang dilaksanakan pada serangkaian pertemuan KKG dan MGMP. Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dirancang untuk memenuhi kegiatan pengembangan profesional guru selama 16 kali pertemuan di KKG dan MGMP yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu satu semester atau satu tahun.
Bahan Belajar Mandiri BERMUTU diarahkan untuk menggunakan beragam sumber belajar yang tersedia sebagai hasil pengembangan dari berbagai lembaga donor, LSM, LPTK, atau P4TK dalam mencapai peningkatan keterampilan guru dalam:
1. melakukan kajian sistematis terhadap proses pembelajaran dari beberapa aspek, yaitu aspek kurikulum, aspek bidang ilmu, dan aspek praktik pembelajaran,
2. merancang tindakan perbaikan secara cermat dan sistematis,
3. melaksanakan tindakan perbaikan, dan
4. melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan, menganalisis dampak perbaikan yang dijalankan, serta merangkum hasilnya sebagai acuan untuk proses pembelajaran berikutnya.
Ada dua Bahan Belajar Mandiri BERMUTU, yaitu Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu untuk guru dan Bahan Belajar Mandiri Manajemen untuk Kepala Sekolah dan Pengawas. Dalam setiap Bahan Belajar Mandiri, proses dan interaksi belajar selama 16 x pertemuan yang terdiri dari belajar tatap muka, tugas terstruktur dan tugas mandiri dengan beragam sumber belajar, serta Buku Kerja Guru yang digunakan untuk mengerjakan tugas mandiri dan tugas terstruktur yang harus dikerjakan guru selama belajar dan dikemas menjadi satu dalam Bahan Belajar Mandiri.
Semua Bahan Belajar Mandiri dari Bahan Belajar Mandiri BERMUTU tersedia dalam bentuk tercetak di KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS, dan dalam bentuk elektronik yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja melalui website Cakrawala Guru.

1. Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu
Jenjang Kajian Belajar (Generic) Kurikulum Penguatan Bidang Ilmu Praktik Mengajar ICT dalam Pembelajaran SD Kelas awal 1. Bahan Belajar Mandiri Model Belajar BERMUTU (PTK)
o Proses dan Interaksi Belajar

o Sumber Belajar

o Buku Kerja Guru 2. Bahan Belajar Mandiri Tematik 11. Bahan Belajar Mandiri ICT dalam Pembelajaran
o Proses dan Interaksi Belajar

o Sumber Belajar

o Lembar Kerja Guru

SD Kelas tinggi 3. Bahan Belajar Mandiri Matematika
4. Bahan Belajar Mandiri IPA
5. Bahan Belajar Mandiri IPS
6. Bahan Belajar Mandiri Bahasa Indonesia
SMP 7. Bahan Belajar Mandiri Matematika
8. Bahan Belajar Mandiri IPA
9. Bahan Belajar Mandiri Bahasa Inggris
10. Bahan Belajar Mandiri Bahasa Indonesia Tabel 2. Bahan Belajar Mandiri Bidang ilmu

Seperti tampak pada Tabel 2, Bahan Belajar Mandiri bidang ilmu, selain terdiri dari buku kerja guru dan sumber belajar, berupa Bahan Belajar Mandiri tematik (untuk SD kelas awal), matematika, IPS, IPA dan bahasa Indonesia (untuk SD kelas tinggi), matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (untuk SMP).

Peran Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu adalah sebagai berikut.
1. Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu akan meningkatkan kualifikasi maupun kompetensi guru dalam pembelajaran bidang ilmu secara profesional.
2. Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu sebagai satu kesatuan program pengembangan profesional yang sistematis dan fleksibel dan kaya akan sumber belajar dan akan menjadi kunci bagi keberhasilan kegiatan KKG/MGMP pada masa mendatang.
3. Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu akan meningkatkan kualifikasi maupun kompetensi guru dalam pembelajaran bidang ilmu secara profesional.

Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu akan membekali guru dalam keterampilan untuk:
1. melakukan observasi secara terbuka dan sistematis terhadap kinerja pembelajarannya sendiri,
2. mengevaluasi hasil dan dampak proses pembelajarannya terhadap siswa,
3. membiasakan diri berbagi pengalaman secara profesional, merencanakan tindakan perbaikan pembelajaran secara kolaboratif, serta melaksanakannya dengan cermat,
4. menuliskan pengalaman pembelajarannya dalam bentuk refleksi dan studi kasus yang dikompilasi dalam bentuk portofolio setara dengan karya akademik pada tingkat pendidikan tinggi, dan
5. mengintegrasikan berbagai sumber belajar untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang bidang ilmu dan strategi pembelajaran dari berbagai program pelatihan berdasarkan isu yang ingin dipelajari.

Proses Belajar dengan Bahan Belajar Mandiri Bidang Ilmu
Setiap Bahan Belajar Mandiri BERMUTU memiliki bobot untuk dipelajari selama 16 minggu dalam waktu 1 semester sampai satu tahun. Namun demikian, proses pertemuan di KKG dan MGMP diatur untuk mengakomodasikan peserta mempelajari beberapa Bahan Belajar Mandiri selama 16 minggu, sehingga diperoleh pola pertemuan sebagaimana dalam Tabel 3 dan Tabel 4.

Hasil Belajar Peserta
Diakhir proses belajar, setiap peserta Program Belajar BERMUTU untuk Kepala Sekolah dan Pengawas diharapkan menghasilkan (minimal):
1. 1 buah Rancangan PTK
2. 1 buah Laporan PTK
3. 3 buah Kajian kritis bidang ilmu
Untuk seorang guru SD, hasil maksimal yang dapat dilakukan adalah 5 buah rancangan PTK, 5 buah laporan PTK, dan 3 buah Kajian Kritis Bidang Ilmu. Sementara itu, untuk seorang guru SMP, hasil maksimal yang dapat dilakukan adalah 4 buah rancangan PTK, 4 buah laporan PTK, dan 3 buah Kajian Kritis Bidang Ilmu.
Hasil kerja peserta ini dikemas dalam bentuk Portofolio Belajar BERMUTU untuk dinilai sebagai bukti partisipasi dalam Program Belajar BERMUTU, serta dinilai oleh LPTK sebagai bentuk pengakuan kredit akademik bagi guru.
Tabel 3.Rencana Kegiatan Pelatihan dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU
16 x Pertemuan dalam waktu 1 tahun I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI Generik ICT Bidang Ilmu Laporan Pendahu-luan (Model BERMUTU Identifikasi Masalah Perenca-naan Tindakan Pelaksanaan Tindakan Analisis dan Interpretasi Refleksi dan Tindak Lanjut Keteram- pilan ICT
1& 2 Identifi-kasi Masalah Peren-canaan Tindakan Penyu-sunan Proposal Pelaksa-naan Tindakan Analisis dan Inter-pretasi Refleksi dan Peren-canaan Siklus 2 Penyusunan Laporan

Tabel 4. Rencana Kegiatan dalam Pembelajaran BERMUTU
Pertemuan Topik Kegiatan Pokok Tugas Peserta Terstruktur Mandiri 1 Pendahuluan (Pengenalan Program BERMUTU dan Pendekatannya) o Pejelasan umum tentang Program Bermutu dan Pendekatan/Model Belajarnya (PTK untuk guru, Lesson Study (plan, open class dan observasi), dan Case Study)
o Latihan Kajian Pebelajaran (identifikasi aspek kurikulum, materi ajar, strategi)
o Penjelasan dan latihan menyusun Case Study
o Menyusun refleksi diri tentang hasil pembelajaran hari itu (Kegiatan no 4 ini diulang untuk setiap tahapan/pertemuan KKG/MGMP) o Mengobservasi pembelajaran di sekolah/di kelasnya sendiri
o Menggunakan lembar observasi
o Menyusun Case Study o Mempelajari “konsep dan prinsip Lesson Study dan Case Study”
o Mempelajari sumber belajar tentang PTK 2 Identifikasi Masalah o Membahas hasil observasi dari lembar observasi/Case Study untuk mengidentifikasi dan analisis masalah untuk PTK, dilanjutkan penyusunan kalimat rumusan masalah (dari salah satu peserta terpilih sebagai contoh, pleno dan dipandu Guru Pemandu)
o Latihan identifikasi dan analisis masalah berdasarkan hasil observasi pembelajaran (lembar observasi/Case Study).
o Latihan perumusan kalimat masalah dari masing-masing guru. Melanjutkan perumusan kalimat rumusan masalah sesuai dengan masalah yang dipilih masing-masing. o Mempelajari “indentifikasi dan analisis masalah dalam PTK” dari buku sumber
o Memikirkan rencana tindakan untuk penyelesaian masalahnya.
3 Perencanaan Tindakan o Diskusi hasil penyusunan kalimat rumusan masalah dari masing-masing guru (berkelompok/berpasangan)
o Latihan bersama menyusun rencana tindakan dan instrumennya dari salah satu masalah terpilih (untuk persiapan open class).
o Latihan menyusun rencana tindakan dan instrumennya berdasarkan masalah dari masing-masing guru. Melanjutkan penyusunan rencana tindakan dan instrumen dari masing-masing guru. Mempelajari “penyusunan rencana tindakan” dari buku sumber
4 Pelaksanaan Tindakan o Persiapan open class di sekolah tempat kegiatan (penjelasan skenario dan penggunaan instrumen)
o Melaksanakan tindakan (open class) oleh guru model, peserta yang lain mengobservasi
o Diskusi refleksi berdasarkan hasil observasi (pleno, dipimpin guru pemandu)
o Diskusi tentang rencana tindakan dari masing-masing guru (kelompok/berpasangan) o Melaksanakan pelaksanaan tindakan di sekolah masing-masing (disarankan berpasangan dengan peserta yang lain, agar dapat saling mengobservasi, atau meminta observer dari teman di sekolahnya).
o Menyusun Case Study
o Kompilasi data Mempelajari tentang “pelaksanaan tindakan dalam PTK” dari buku sumber. 5 Analisis dan Interpretasi o Mendiskusikan hasil pelaksanaan tindakan (Case Study) dari kelas masing-masing (kelompok/berpasangan).
o Latihan mengalisis dan interpretasi data dari hasil open class (pleno)
o Setiap peserta berlatih melakukan analisis dan interpretasi data (berdasarkan data hasil pelaksanaan tindakan masing-masing) o Melanjutkan analisis data dan interpretasi
o Menuliskan hasil analisis dan interpretasi data Mempelajari tentang “analisis dan interpretasi data” dari buku sumber. 6 Refleksi dan Tindak Lanjut o Diskusi tentang hasil analisis dan interpretasi data dari masing-masing guru (kelompok/ berpasangan).
o Latihan merefleksi hasil pelaksanaan tindakan berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data dan menyusun rencana tindakan lanjut (pleno, dari data open class).
o Setiap peserta berlatih melakukan refleksi dan penyusunan rencana tindak lanjut (berdasarkan data/hasil tindakan yang telah dilakukan oleh masing-masing peserta).
o Penjelasan tentang format penyusunan proposal dan laporan PTK Melanjutkan menuliskan hasil refleksi dan penyusunan rencana tindak lanjut dari data masing-masing. Mempelajari tentang “refleksi dan tindak lanjut” dari buku sumber. 7 & 8 ICT-1 & 2 Keterampilan ICT dalam Pembelajaran o Penjelasan tentang peran dan fungsi ICT dalam Pembelajaran
o Latihan praktis keterampilan ICT dalam Pembelajaran Mengerjakan latihan dan tugas-tugas keterampilan ICT dalam Pembelajaran Mempelajari dan berlatih keterampilan ICT dalam Pembelajaran di warnet atau ICT center secara mandiri 9 Identifikasi Masalah o Mengidentifikasi masalah dari contoh Case Study
o Setiap peserta menyampaikan masalah-masalah dari hasil obsrvasi pembelajaran di sekolahnya (bahan lembar observasi dan Case Study)
o Latihan menganalisis dan merumuskan masalah (penyebab dan alternatif solusi) dari salah satu peserta (sebagai contoh, sebagai bahan perencanaan open class)
o Setiap peserta berlatih analisis masalah dan membuat rumusan masalah masing-masing. o Melanjutkan analisis masalah
o Membuat rumusan masalah
o Mempelajari buku sumber yang terkait dengan topik
o Memikirkan rencana tindakan
10 Perencanaan Tindakan o Diskusi rumusan masalah dari masing-masing guru (kelompok/ berpasangan)
o Latihan menyusun rencana tindakan dan instrumennya (pleno, satu masalah terpilih)
o Setiap peserta berlatih menyusun rencana tindakan dan instrumen (berdasarkan rumusan masalah masing-masing) Melanjutkan penulisan rencana tindakan dan menyusun instrumen o Mempelajari buku sumber yang terkait dengan topik
o Menyiapkan pelaksanaan open class (khusus calon guru model) 11 Penyusunan Proposal o Diskusi tentang rencana tindakan dari masing-masing guru (kelompok/berpasangan)
o Latihan menyusun proposal (pleno, dari satu masalah terpilih)
o Setiap peserta berlatih menyusun proposal (berdasarkan rumusan masalah masing-masing)
o Diskusi tentang draf proposal dari masing-masing guru (kelompok/berpasangan) Melanjutkan penulisan Proposal PTK Mempelajari buku sumber yang terkait dengan topik. 12 Pelaksanaan Tindakan o Persiapan open class di sekolah tempat kegiatan (penjelasan skenario dan penggunaan instrumen)
o Melaksanakan tindakan (open class) oleh guru model, peserta yang lain mengobservasi
o Diskusi refleksi berdasarkan hasil observasi (pleno, dipimpin guru pemandu) o Melaksanakan pelaksanaan tindakan di sekolah masing-masing (disarankan berpasangan dengan peserta yang lain, agar dapat saling mengobservasi, atau meminta observer dari teman di sekolahnya.
o Menyusun Case Study
o Kompilasi data Mempelajari buku sumber yang terkait dengan topik 13 Analisis dan Interpretasi Data o Latihan mengalisis dan interpretasi data hasil observasi dan hasil tes (pleno, dari salah satu peserta)
o Setiap peserta berlatih melakukan analisis dan interpretasi data (berdasarkan data masing-masing) o Melanjutkan analisis data dan interpretasi
o Menuliskan hasil analisis dan interpretasi data
Mempelajari buku sumber yang terkait dengan topik 14 Refleksi dan Perencanaan Siklus 2 o Diskusi tentang hasil analisis dan interpretasi data dari masing-masing guru (kelompok/berpasangan)
o Latihan merefleksi hasil pelaksanaan tindakan berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data dan menyusun rencana tindakan siklus 2 (pleno, dari salah satu hasil terpilih)
o Setiap peserta berlatih melakukan refleksi dan penyusunan rencana tindakan untuk siklus 2 (berdasarkan data/hasil tindakan masing-masing peserta)
o Diskusi tentang hasil rencana tindakan untuk siklus 2 dari masing-masing peserta o Melanjutkan menuliskan hasil refleksi dan penyusunan rencana tindakan pada siklus 2.
o Melaksanakan tindakan siklus 2 di sekolah masing-masing (disarankan berpasangan atau meminta observer dari teman di sekolahnya, diberi waktu 2-3 minggu) o Mempelajari buku sumber yang terkait dengan topik
o Mempelajari contoh-contoh laporan PTK 15 Penyusunan Laporan o Diskusi tentang hasil pelaksanaan tindakan siklus 2 yang sudah dianalisis, diinterpretasi dan direfleksikan dari masing-masing guru (kelompok/berpasangan)
o Latihan menyusun laporan (pleno, dari satu hasil PTK terpilih)
o Setiap peserta berlatih menyusun laporan PTK (berdasarkan hasil PTK dalam dua siklus dari masing-masing peserta Melanjutkan penulisan Laporan PTK (sampai menjadi laporan draf-1)
Mempelajari buku sumber tentang penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. 16 Penyusunan Laporan o Diskusi kelas (pleno) untuk membahas contoh hasil penulisan laporan draf-1 dari salah satu guru (kelompok/berpasangan)
o Diskusi kelompok/berpasangan untuk membahas hasil penulisan laporan draf-1 dari masing-masing guru
o Melanjutkan penyelesaian penulisan laporan PTK oleh masing-masing guru o Menyelesaikan penulisan laporan akhir (termasuk penjilidan)
o Penyerahan laporan ke Guru Pemandu Setelah Kegiatan 16 kali pertemuan o Penyerahan laporan akhir ke Guru Pemandu ( 1 bulan setelah pertemuan 16)
o Penyerahan kumpulan laporan dari Guru Pemandu ke koordinator tingkat Kabupaten, untuk pengurusan sertifikat dan pengakuan nilai sks
2. Bahan Belajar Mandiri Manajemen
Bahan Belajar Mandiri Manajemen terdiri dari:
1. Bahan Belajar Mandiri untuk Penilaian Kebutuhan Guru dalam Gugus/Rayon KKG dan MGMP serta Peran Kepala Sekolah dan Pengawas sebagai Pembina
2. Bahan Belajar Mandiri untuk Pengelolaan Kualitas Pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Pengawas.
3. Bahan Belajar Mandiri untuk Pengelolaan Keuangan bagi Kepala Sekolah dan Pengawas.
4. Bahan Belajar Mandiri untuk Diseminasi ‘Best Practice” dalam Forum.

Peran Bahan Belajar Mandiri Manajemen
Bahan Belajar Mandiri Manajemen akan meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan pengawas dalam melaksanakan tugas Kepala Sekolah dan Pengawas secara profesional.
Bahan Belajar Mandiri Manajemen menjadi acuan program pelatihan pengembangan profesional yang sistematis dan fleksibel berbasis aneka sumber belajar bagi kepala sekolah dan pengawas di KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS.

Proses Belajar dengan Bahan Belajar Mandiri Manajemen
Walaupun Bahan Belajar Mandiri Manajemen hanya terdiri dari 4 (empat) paket, pada pelaksanaan pelatihan di KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS, ada dua paket tambahan yang diharapkan dipelajari Kepala Sekolah dan Pengawas untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam pembinaan KKG dan MGMP. Dua paket tambahan tersebut adalah Bahan Belajar Mandiri Model BERMUTU (PTK), dan Bahan Belajar Mandiri Keterampilan ICT dalam pembelajaran. Dengan demikian, proses pelatihan di KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS dilakukan sesuai dengan ruang lingkup utama dan tambahan untuk Bahan Belajar Mandiri Manajemen.
Setiap Bahan Belajar Mandiri BERMUTU bidang manajemen memiliki bobot untuk dipelajari oleh Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah selama 16 minggu dalam waktu 1 semester sampai satu tahun. Namun demikian, proses pertemuan di KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS diatur untuk mengakomodasikan peserta mempelajari beberapa Bahan Belajar Mandiri selama 16 × pertemuan, sehingga diperoleh pola pertemuan sebagai berikut.
Tabel 5. Rencana Kegiatan Pelatihan di KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS
16 x pertemuan dalam waktu 1 tahun I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI Pengantar & Profil Guru ICT Kualitas Keuangan Diseminasi * Pengantar Program BERMUTU
* Penilaian Kebutuhan Guru dan Peran Kepala Sekolah sebagai Pembina Keteram-pilan ICT Pengelolaan Kualitas Pendidikan dalam gugus Himpunan & Pengelolaan Keuangan dalam gugus Diseminasi ‘Best Practice” dalam gugus
Tabel 6. Uraian Kegiatan pada Pertemuan di KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS
No. Pertemuan Keterangan Tugas Mandiri 1. * Pengantar Program BERMUTU
* Penilaian Kebutuhan Guru dan Peran Kepala Sekolah sebagai Pembina 1) Diskusi awal tentang Model BERMUTU
2) Diskusi tentang Pembinaan dan pengembangan KKG/MGMP
* Penjelasan tentang Penilaian Kebutuhan Guru dan Peran Kepala Sekolah sebagai Pembina
* Pengenalan Karakteristik Pembelajaran yang baik.
* Latihan Penilaian Guru Berbasis Kinerja
* Latihan dan Praktik Pendampingan guru
* Latihan Analisis Kebutuhan Guru, Kualifikasi, Kompetensi dan Permasalahan Guru.
* Latihan Peningkatan Aktivitas Guru dalam KKG/MGMP * Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based.
* Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas Analisis Kebutuhan guru dan pendataan profil guru
* Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Kebutuhan Guru, Profil Guru, dan Kepala Sekolah sebagai Pembina. 2. * * 3. * * 4. * * * * 5. Keterampilan
ICT * Penjelasan tentang peran dan fungsi ICT dalam Pembelajaran
* Latihan praktis pengenalan ICT dan peralatan pendukung program ICT * Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas pengenalan ICT dan peralatan pendukungnya. 6. * * 7. Pengelolaan Kualitas Pendidikan dalam gugus * Penjelasan tentang Konsep Kualitas Pendidikan, Kendali Mutu, dan Penjaminan Kualitas Pendidikan
* Identifikasi dimensi dan indikator kualitas pendidikan
* Evaluasi dan Refleksi Kegiatan KKG/MGMP * Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Pengelolaan Kualitas Pendidikan
* Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas identifikasi dimensi dan indikator kualitas pendidikan
* Kepala Sekolah dan Pengawas melakukan reviu dan refleksi terhadap kegiatan KKG/MGMP berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan dokumentasi yang tersedia. 8. 9. 10. 11. Himpunan & Pengelolaan Keuangan dalam gugus * Praktik menulis proposal hibah
* Praktik perencanaan keuangan untuk unit pendidikan * Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Pengelolaan Keuangan
* Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan penulisan proposal hibah untuk unit pendidikan
* Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas perencanaan keuangan untuk unit pendidikan 12. 13. 14. Diseminasi ‘Best Practice” dalam gugus * Penjelasan tentang Best Practice dalam pendidikan
* Strategi umum diseminasi Best Practice
* Latihan perencanaan diseminasi Best Practice dalam gugus
* Seminar * Kepala Sekolah dan Pengawas membaca dan mempelajari bahan-bahan: bahan ajar cetak, AV, dan web-based tentang Best Practice dan Diseminasi
* Kepala Sekolah dan Pengawas mengerjakan latihan dan tugas-tugas perencanaan diseminasi Best Practice 15. * * 16. * *
Hasil Belajar Peserta
Diakhir proses belajar, setiap peserta Program Belajar BERMUTU untuk Kepala Sekolah dan Pengawas diharapkan menghasilkan:

1. Laporan penilaian dan analisis kinerja guru
2. Laporan reviu dan analisis kualitas KKG/MGMP
3. Laporan seminar best practice
4. Perencanaan Keuangan
5. Proposal Hibah

Hasil kerja peserta ini dikemas dalam bentuk Portofolio Belajar BERMUTU untuk dinilai sebagai bukti partisipasi dalam Program Belajar BERMUTU, serta dinilai oleh LPTK sebagai bentuk pengakuan kredit akademik atau angka kredit kumulatif kenaikan pangkat bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah.

BAB III
Pembinaan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas melalui Kelompok Kerja atau Forum
Pembinaan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas melalui Kelompok Kerja atau Forum bertujuan untuk meningkatkan mutu guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah melalui pemberdayaan kapasitas forum dan kelompok kerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Pembinaan ini bertujuan :
1. Memberi kesempatan kepada anggota kelompok kerja untuk berbagi pengalaman serta saling memberikan bantuan dan umpan balik.
2. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta mengadopsi pendekatan pembaharuan dalam pembelajaran yang lebih profesional bagi peserta kelompok kerja.
3. Memberdayakan dan membantu anggota kelompok kerja dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran di sekolah.
4. Meningkatkan pengetahuan, kompetensi dan kinerja anggota kelompok dalam mengembangkan profesionalisme guru.
5. Meningkatkan mutu proses pendidikan dan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan hasil belajar peserta didik.

Ditjen PMPTK melalui Program BERMUTU mengalokasikan Dana Bantuan Langsung (DBL) untuk beragam kegiatan kelompok kerja dan forum. Salah satu kegiatan utama yang dapat dilakukan oleh kelompok kerja dan forum adalah pelaksanaan Model Belajar BERMUTU dengan memanfaatkan serangkaian Bahan Belajar Mandiri BERMUTU yang telah dikembangkan secara sistematis dan handal.

A. Hasil yang Diharapkan
Program Pembinaan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas melalui Kelompok Kerja atau Forum diharapkan dapat mewujudkan:
1. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta kelompok kerja dalam mengadopsi pendekatan pembaharuan dalam pembelajaran yang lebih profesional bagi peserta kelompok kerja.
2. Pemberdayaan anggota kelompok kerja dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran di sekolah.
3. Perubahan perilaku anggota kelompok kerja dalam meningkatkan pengetahuan, kompetensi dan kinerja.
4. Kerjasama yang sinergis di antara para guru, kepala sekolah dan pengawas dalam memecahkan permasalahan pembelajaran.
5. Peningkatan mutu proses pendidikan dan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan hasil belajar peserta didik.

B. Indikator Keberhasilan Program
1. Adanya hasil kegiatan KKG dan MGMP masing-masing berupa hal-hal berikut ini.
a. Rencana kerja kelompok kerja dan laporan implementasi kegiatan dalam bentuk satu set lengkap yang terdiri dari silabus, rencana pelajaran, dan bank soal dari mata pelajaran terkait oleh masing-masing guru anggota kelompok kerja.
b. Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK/classroom study) masing-masing kelompok yang disusun secara individual sesuai dengan panduan belajar dalam Bahan Belajar Mandiri BERMUTU.
c. Hasil kajian kritis yang dikembangkan merujuk panduan belajar dalam Bahan Belajar Mandiri BERMUTU.
d. Rekapitulasi portofolio masing-masing anggota KKG dan MGMP berupa jurnal pembelajaran dan portofolio masing-masing guru.
e. Pemetaan hasil on-service training (kekuatan dan kelemahan kompetensi guru) di kelompok kerja.
f. Pemetaan hasil evaluasi kinerja setiap guru di kelompok kerja masing-masing.
g. Laporan hasil kunjungan sebanyak dua set; dan
h. Laporan hasil menghadiri Forum KKG atau Forum MGMP sebanyak dua set.

2. Pemanfaatan hasil kegiatan KKG dan MGMP oleh anggota kelompok kerjanya masing-masing dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya yang ditandai dengan adanya:
a. siswa belajar dengan aktif;
b. guru menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran;
c. guru memberikan tugas dan umpan balik;
d. tempat duduk siswa yang ditata secara fleksibel;
e. hasil karya siswa dan materi lokal digunakan sebagai sumber belajar;
f. pajangan hasil karya siswa;
g. terdapat sudut baca di dalam kelas dan sudut baca digunakan sebagai sumber belajar bagi siswa;
h. orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

3. Hasil kegiatan Forum KKG dan forum MGMP masing-masing dimanfaatkan oleh pesertanya dalam rangka peningkatan mutu kegiatan kelompok kerja, berupa:
a. Dua set laporan hasil rapat koordinasi kelompok kerja.
b. Empat set laporan on-service training, yang berisi laporan pelaksanaan on-service training dan rekomendasi, yang dibuat fasilitator/guru pemandu;
c. Tiga set inisiatif terbaik yang dihasilkan oleh kelompok kerja, diseleksi dari hasil terbaik yang dikirim kelompok kerja.
d. Strategi implementasi pemecahan masalah, rencana pembelajaran 1 tahun masing-masing kelompok kerja peserta forum.
e. Bulletin yang diterbitkan 2 kali dalam setahun, untuk setiap penerbitan seluruh sekolah peserta kelompok kerja mendapatkan 2 eksemplar.

4. Hasil kegiatan pelatihan di KKKS dan MKKS masing-masing adalah:
a. Satu set rencana kerja KKKS atau MKKS yang terkait dengan peningkatan efektivitas kepemimpinan, kompetensi, peran, pengembangan profesi, dan organisasi profesi kepala sekolah.
b. Laporan implementasi kegiatan KKKS atau MKKS.
c. Strategi implementasi pemecahan masalah dan rencana sekolah 1 tahun, masing-masing sekolah peserta KKKS atau MKKS.
d. Tiga set hasil reviu terhadap 3 karya terbaik masing-masing dari KKG dan MGMP yang diajukan berturut-turut kepada Forum KKG dan forum MGMP.
e. Satu set usulan materi pokok yang perlu dibahas masing-masing dalam KKG dan MGMP.
f. Satu set bahan yang didiseminasikan ke masing-masing KKG dan MGMP.
g. Duabelas set pemetaan hasil on-service training.
h. Satu set laporan tentang pelaksanaan program Induksi Guru (kegiatan, hasil penilaian, rekomendasi).
i. Dua set laporan hasil kunjungan dan 2 set laporan hasil menghadiri Forum KKG atau MGMP.

5. Hasil kegiatan Forum KKKS dan Forum MKKS masing-masing dimanfaatkan oleh pesertanya dalam rangka peningkatan mutu kegiatan KKKS atau MKKS, berupa:
a. Satu set rencana kerja kelompok kerja dan laporan implementasinya di setiap kelompok kerja tempat forum berlangsung.
b. Dua set laporan hasil rapat koordinasi kelompok kerja.
c. Tiga set inisiatif terbaik masing-masing KKG dan MGMP yang diseleksi dari hasil pilihan KKKS dan MKKS.
d. Satu set usulan materi pokok yang perlu dibahas masing-masing dalam forum KKKS atau MKKS.
e. Satu set bahan yang didiseminasikan pada masing-masing forum KKKS dan forum MKKS.

6. Hasil kegiatan KKPS dan MKPS masing-masing adalah:
a. Satu set rencana kerja kelompok kerja yang terkait dengan peningkatan efektivitas kepemimpinan, kompetensi, peran, pengembangan profesi, dan organisasi profesi pengawas sekolah.
b. Satu set laporan implementasi kegiatan kelompok kerja; 3 set hasil reviu terhadap 3 karya terbaik dari KKG dan MGMP berturut-turut hasil pilihan dari KKPS dan MKPS.
c. Pemetaan hasil on-service training terhadap KKG dan MGMP yang dibina; 1 set bahan yang didesiminasikan ke KKG dan MGMP.
d. Pemetaan hasil evaluasi kinerja setiap guru yang menjadi binaannya.

C. Manfaat Program
1. Bagi Siswa
Tersedianya kesempatan untuk mengikuti pembelajaran yang aktif, kreatif, bermakna, dan menyenangkan.
2. Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas
Tersedianya kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, kualifikasi, jenjang karir sebagai pendidik dan tenaga kependidikan melalui berbagai kegiatan kelompok kerja sehingga mampu melaksanakan pembelajaran dan tugas kependidikan secara profesional.
3. Bagi Sekolah
Terwujudnya guru dan kepala sekolah yang profesional dan mampu meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.
4. Bagi Kelompok Kerja
Tersedianya kesempatan untuk memberdayakan guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah melalui berbagai kegiatan sehingga dapat mewujudkan pendidik dan tenaga kependidikan yang kompeten, profesional, dan mampu meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.
5. Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota
Terbentuknya organisasi profesi yang kompeten, profesional dan mampu meningkatkan mutu pembelajaran di kabupaten/kota.
6. Bagi Pemerintah
a. Secara nasional, terbentuk wadah untuk membina pendidik dan tenaga kependidikan agar kompeten, profesional dan mampu meningkatkan mutu pembelajaran sesuai dengan standar nasional pendidikan.
b. Meningkatnya mutu layanan pendidikan nasional sesuai harapan masyarakat dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
c. Secara umum, meningkatnya mutu pendidikan nasional.

D. Dampak Program
1. Terwujudnya peningkatan mutu layanan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa dalam pengembangan diri dan pencapaian standar nasional pendidikan.
2. Termotivasinya sekolah untuk membangun komunitas profesional dalam mengembangkan budaya belajar yang keberlanjutan serta berdampak positif terhadap peningkatan kinerja sekolah.
3. Terwujudnya kerjasama antarsekolah dalam pengembangan kreativitas dan inovasi layanan pendidikan serta meningkatnya kesadaran untuk saling bertukar informasi pengetahuan, keterampilan dan budaya kerja yang berkualitas dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan.
4. Meningkatnya profesionalisme dan kinerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.
5. Meningkatnya dukungan masyarakat terhadap sekolah.
6. Meningkatnya mutu siswa (prestasi belajar siswa).
BAB IV
Sistem Penyelenggaraan
Sistem penyelenggaraan pembinaan guru, kepala sekolah dan pengawas melalui kelompok kerja atau forum mengacu pada sistem penyelenggaraan kegiatan KKG dan MGMP yang selama ini sudah berjalan. Secara khusus, dalam penyelenggaraan Model Belajar BERMUTU sebagai kegiatan utama pembinaan guru, kepala sekolah dan pengawas melalui kelompok kerja atau forum berbagai instansi terlibat sebagaimana tampak dalam gambar/skema berikut.
Catatan: Rancangan keterlibatan berbagai pihak untuk Program BERMUTU secara menyeluruh dapat dilihat pada lampiran 1 & 2.

A. Tugas dan Tanggung Jawab Berbagai Pihak dalam Program BERMUTU
1. Tugas dan Tanggung Jawab Tingkat Pusat
a. Mengembangkan pedoman pengelolaan dan penyelenggaraan Program Model Belajar BERMUTU,
b. Mengembangkan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dengan melibatkan Tim Pengembang Nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, pengawas, dosen/ahli bidang ilmu, widyaiswara (P4TK dan LPMP).
c. Mengkoordinasikan dan mensosialisasikan kebijakan-kebijakan terkait pelaksanaan Model Belajar BERMUTU pada setiap jenjang
d. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Model Belajar BERMUTU pada setiap jenjang.

2. Tugas dan Tanggung Jawab P4TK (Matematika, IPS, IPA dan Bahasa)
a. Mempersiapkan berbagai pihak dalam upaya pelaksanaan Model Belajar BERMUTU dalam kelompok kerja/forum.
b. Melakukan pelatihan untuk Tim Inti Tingkat Nasional.
c. Melakukan pelatihan untuk Tim Inti Tingkat Provinsi.
d. Memantau LPMP dalam tugasnya memonitoring dan evaluasi kegiatan Model Belajar BERMUTU di kelompok kerja/forum, dan melakukan pelatihan Tim Inti Tingkat Kabupaten/Kota.
e. Bersama LPMP, menginisiasi dan memelihara kolaborasi dengan LPTK terkait untuk pengakuan kredit Model Belajar BERMUTU dan bantuan teknis LPTK dalam pelaksanaan kegiatan Model Belajar BERMUTU di kelompok kerja/forum.
f. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan kelompok kerja, musyawarah kerja, dan forum.
g. Membuat laporan umum pelaksanaan kegiatan Model Belajar BERMUTU kepada pihak-pihak terkait.

3. Tugas dan Tanggung Jawab LPMP
a. Menyeleksi proposal kegiatan pelatihan dari KKG, KKKS, KKPS, MGMP, MKKS, MKPS, F-KKG, F-KKKS, F-MGMP dan F-MKKS.
b. Mendistribusikan Dana Bantuan Langsung (DBL) berdasarkan hasil seleksi proposal atau penunjukan.
c. Mempersiapkan berbagai pihak dalam upaya pelaksanaan Model Belajar BERMUTU dalam kelompok kerja/forum
d. Melakukan pelatihan untuk Tim Inti Tingkat Kabupaten/Kota.
e. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Model Belajar BERMUTU di kelompok kerja/forum.
f. Bersama P4TK, menginisiasi dan memelihara kolaborasi dengan LPTK terkait untuk pengakuan kredit Model Belajar BERMUTU dan bantuan teknis LPTK dalam pelaksanaan kegiatan Model Belajar BERMUTU di kelompok kerja/forum.
g. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan kelompok kerja, musyawarah kerja, dan forum, dalam penggunaan dana kegiatan sebagai bagian dari evaluasi pertanggungjawaban manajemen dan substansi.
h. Menerima laporan kegiatan dari kelompok kerja, mesyawarah kerja dan forum, selanjutnya menyusun rekapitulasi laporan secara umum pelaksanaan kegiatan Model Belajar BERMUTU kepada pihak-pihak terkait.

4. Tugas dan Tanggung Jawab Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
a. Menghimpun dan menyediakan data profil kelompok kerja, musyawarah kerja, dan forum yang ada di wilayahnya.
b. Membantu kelompok kerja dan forum dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan Model Belajar BERMUTU sesuai dengan alokasi Dana Bantuan Langsung (DBL) yang diterima.
c. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan Model Belajar BERMUTU di kelompok kerja/forum.

5. Tugas dan Tanggung Jawab Konsultan Manajemen DBL
Untuk melindungi kepentingan guru yang mengajar di tempat terpencil maka Konsultan Manajemen DBL bertugas membantu memastikan bahwa desain modul/materi pelatihan cukup fleksibel agar dapat diadaptasikan dengan konteks budaya dan pendidikan setempat, seperti:
a. memfasilitasi Penelitian Tindakan Kelas yang memungkinkan para guru memilih suatu permasalahan pembelajaran di kelasnya, mendesain dan mengimplementasikannya sesuai dengan situasi pembelajaran setempat.
b. memfasilitasi agar para guru setempat, koordinator kelompok kerja guru, dan pemangku kepentingan lain yang memahami isu-isu pendidikan dan layanan pendidikan setempat dilibatkan dalam pengembangan materi/modul tersebut.
6. Tugas dan Tanggung Jawab Pengurus Kelompok Kerja, Musyawarah Kerja, dan Forum Terkait
a. Mengikuti sosialisasi program BERMUTU dan kegiatan Model Belajar BERMUTU yang dilaksanakan oleh P4TK bersama dengan LPMP.
b. Melaksanakan kegiatan Model Belajar BERMUTU sesuai dengan usulan dalam proposal.
c. Membuat pertanggungjawaban kegiatan Model Belajar BERMUTU, administrasi dan keuangan pelaksanaan program.
d. Membuat laporan administratif dan akademik pelaksanaan kegiatan Model Belajar BERMUTU.
e. Membuat rencana rinci keberlanjutan program untuk tahun berikutnya.
f. Membantu tim pemantau dan evaluasi dari tingkat pusat, LPMP, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan.
g. Menjamin bahwa kegiatan Model Belajar BERMUTU yang dibiayai DBL dilaksanakan secara transparan dan akuntabel.

B. Kegiatan Pelatihan Model Belajar BERMUTU di Kelompok Kerja, Musyawarah Kerja, dan Forum

1. Kegiatan Pelatihan dalam KKG
Pengurus KKG menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan mutu guru melalui kegiatan guru di KKG. KKG dilakukan di sekolah inti yang memiliki perlengkapan sebagai berikut: tape recorder, kaset/CD/DVD, televisi, DVD player, LCD, OHP, microphone, headphones, komputer, alat IPA & kits, yang dapat mendukung pelaksanaan kegiatan guru. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota bertanggungjawab untuk melengkapi peralatan KKG, jika masih belum lengkap.
Secara khusus, Pengurus KKG diharapkan memperhatikan hal-hal berikut.
a. Melakukan berbagai pelatihan bagi guru Sekolah Dasar sesuai rambu-rambu yang ditetapkan dalam Bahan Belajar Mandiri untuk membahas Bahan Belajar Mandiri BERMUTU yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) di dalam kelas.
b. Menyelenggarakan pelatihan guru selama 16 kali pertemuan/tahun untuk KKG Reguler atau 4 kali pertemuan/tahun untuk KKG Terpencil. Suatu KKG dikatakan terpencil, jika sebagian besar anggotanya harus menempuh selama 2 jam atau lebih dengan kendaraan darat/air menuju ke kota kecamatan tempat kegiatan KKG. Tiap pertemuan KKG reguler dilaksanakan selama 4 jam (240 menit), sedangkan untuk KKG terpencil, tiap pertemuan dilaksanakan selama 2 hari. Pelatihan dilaksanakan dengan membahas, mengembangkan, serta melaksanakan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU termasuk di dalamnya melakukan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas dengan Lesson Study yang dilakukan secara berkelompok menurut kedekatan letak sekolah mereka. Peserta pelatihan dalam KKG dibedakan dalam 2 kelompok, yaitu:
1) Kelompok A terdiri dari guru-guru kelas I, II dan III (kelas awal) masing-masing sebanyak 8 guru, sehingga kelompok A terdiri dari 24 orang guru. Untuk melaksanakan kegiatan PTK dengan Lesson Study kelas A dibagi dalam 3 kelompok sesuai dengan kelas yang diampunya.
2) Kelompok B terdiri dari guru-guru kelas IV, V dan VI (kelas tinggi) masing-masing sebanyak 8 guru, sehingga kelompok B beranggota 24 orang guru. Untuk kelompok B ini terdapat 4 Bahan Belajar Mandiri, masing-masing memerlukan waktu 16 kali/tahun. Empat paket itu adalah Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan IPS yang dapat dipilih oleh peserta atau kelompok peserta.
c. Bersama dengan guru pemandu menyeleksi 2 guru perwakilan (Kelas Awal dan Kelas Tinggi masing-masing seorang guru) untuk menghadiri Forum KKG di kabupaten/kota yang diselenggarakan 2 kali/tahun.
d. Bersama dengan guru pemandu melakukan evaluasi untuk mengetahui dampak pelatihan terhadap kinerja guru dilakukan pada setiap akhir tahun.
e. Mendokumentasikan hasil kerja setiap guru (proposal, laporan PTK, dan kelengkapannya) untuk dinilai sehingga dapat dikeluarkan sertifikat, serta diajukan pengakuan kreditnya ke LPTK.
f. Membuat laporan penyelenggaraan pelatihan Model Belajar BERMUTU, sesuai dengan yang dipersyaratkan, untuk pihak-pihak terkait.

2. Kegiatan Pelatihan dalam MGMP
Pengurus MGMP Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA pada Sekolah Menengah Pertama di tingkat kecamatan masing-masing menyelenggarakan pelatihan dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU. Apabila di tingkat Kecamatan belum terbentuk kepengurusan MGMP, maka Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan dan kelompok guru SMP membentuk pengurus-pengurus MGMP, khususnya untuk 4 mata pelajaran tersebut. Khusus untuk daerah terpencil, apabila suatu kecamatan banyaknya guru pada masing-masing 4 mata pelajaran tersebut kurang dari 20 orang, maka MGMP dibentuk dengan menggabungkan Cabang Dinas terdekat agar memenuhi jumlahnya.
Kegiatan pelatihan diselenggarakan di sekolah inti yang memiliki perlengkapan sebagai berikut: tape recorder, kaset/CD/DVD, televisi, DVD player, LCD, OHP, microphone, headphones, komputer, penggaris, alat IPA & kits sehingga dapat mendukung kegiatan guru. Pelatihan dilaksanakan pada hari MGMP masing-masing, di mana pada hari tersebut peserta tidak mengajar.

Secara khusus, Pengurus MGMP Kecamatan diharapkan memperhatikan hal-hal berikut ini.
a. Melakukan berbagai pelatihan bagi guru Sekolah Menengah Pertama sesuai rambu-rambu yang ditetapkan dalam Bahan Belajar Mandiri untuk membahas Bahan Belajar Mandiri BERMUTU yang bertujuan untuk meningkatkan profesional guru dalam menggunakan metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) di dalam kelas, mengkaji materi mata pelajaran dan kurikulum mata pelajaran.
b. Menyelenggarakan pelatihan selama 16 kali pertemuan/tahun untuk MGMP Reguler atau 4 kali pertemuan/tahun untuk MGMP Terpencil. Suatu MGMP dikatakan terpencil, jika sebagian besar anggotanya harus menempuh selama 2 jam atau lebih dengan kendaraan darat atau air menuju ke kota kecamatan tempat kegiatan MGMP. Tiap pertemuan MGMP reguler dilaksanakan selama 4 jam (240 menit), sedangkan untuk MGMP terpencil, tiap pertemuan dilaksanakan selama 3 hari. Tiap MGMP Kecamatan untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan IPA masing-masing menyelenggarakan pelatihan dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU sebanyak 20 orang anggotanya per tahun. Pelatihan dilaksanakan dengan membahas, mengembangkan, serta melaksanakan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU. Di samping itu, peserta pelatihan harus melaksanakan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sesuai dengan petunjuk dalam Bahan Belajar Mandiri yang tersedia. Kelompok PTK berjumlah 3 kelompok, untuk setiap kelompok terdiri dari 6-7 orang. Pengelompokan peserta PTK didasarkan pada kedekatan letak sekolah mereka.
c. Study visit ke sekolah lain dengan peserta berjumlah 20 orang guru dalam kabupaten.
d. Memfasilitasi setiap guru untuk membahas, mengembangkan, serta melaksanakan materi yang diperoleh dalam pelatihan kepada guru lain di sekolah (MGMP sekolah).
e. Bersama dengan guru pemandu menseleksi 2 guru perwakilan MGMP untuk menghadiri Forum MGMP di kabupaten/kota, 2 kali/tahun.
f. Melakukan On-Service (evaluasi formatif) ke-10 sekolah berbeda dengan mengirim 1 fasilitator/sekolah mengobservasi satu mapel: observasi kegiatan, pemetaan kekuatan dan kelemahan, rekomendasi.
g. Bersama dengan guru pemandu melakukan evaluasi untuk mengetahui dampak pelatihan terhadap kinerja guru yang dilakukan pada setiap akhir tahun.
h. Mendokumentasikan hasil kerja setiap guru (proposal, laporan PTK, dan kelengkapannya) untuk dinilai sehingga dapat dikeluarkan sertifikat, serta diajukan pengakuan kreditnya ke LPTK.
i. Membuat laporan penyelenggaraan pelatihan Model Belajar BERMUTU, sesuai dengan yang dipersyaratkan dan dikirim ke pihak-pihak terkait.

3. Kegiatan Forum KKG
Forum KKG merupakan wadah bagi guru peserta KKG untuk membangun koordinasi, membahas masalah dan merumuskan solusi, serta melakukan refleksi dan apresiasi. Forum KKG dibentuk dan dipilih dari salah satu KKG yang berlokasi di kecamatan yang terletak di ibukota kabupaten/kota yang memiliki akses termudah untuk dijangkau oleh anggota-anggotanya dan mendapatkan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
Forum KKG dihadiri oleh 2 orang wakil dari setiap KKG dan dilaksanakan di salah satu kelompok kerja di kabupaten/kota. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam forum KKG adalah sebagai berikut.
a. Pertemuan koordinasi
Peserta pertemuan koordinasi ini adalah wakil-wakil dari masing-masing kelompok KKG. Setiap KKG mewakilkan 2 orang anggotanya untuk hadir di kegiatan forum. Pertemuan koordinasi dilaksanakan 2 (dua) kali dalam satu tahun. Agenda dalam kegiatan koordinasi adalah membahas masalah, merumuskan solusi, refleksi, apresiasi, diseminasi hasil dari kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di setiap KKG.
b. On-service
Melaksanakan kegiatan kunjungan ke masing-masing gugus yang dilaksanakan 8 kunjungan/tahun. Sasaran kunjungan adalah 2 kelompok (Kelas Awal & Kelas Tinggi) atau 2 gugus (2 mapel yang berbeda) per kunjungan. Maksud dari kunjungan ini adalah melakukan observasi kegiatan gugus, pemetaan kekuatan dan kelemahan, rekomendasi.
c. Mereviu hasil pelatihan dari setiap KKG dan memilih 3 karya terbaik dan memberi rekomendasi untuk penyempurnaan. Selanjutnya karya tersebut dikirimkan ke F-KKKS dan simposium propinsi.
d. Mengembangan dan menerbitkan buletin tentang kegiatan-kegiatan KKG dan karya terbaik. Buletin didistribusikan ke masing-masing KKG Reguler dan KKG Terpencil sebanyak 2 eksemplar per KKG. Buletin diterbitkan 2 kali dalam satu tahun.
Diharapkan forum KKG ini menghasilkan strategi implementasi pemecahan masalah, rencana pembelajaran 1 tahun, dan mengidentifikasi 3 saran/rekomendasi terbaik yang dihasilkan oleh KKG.

4. Kegiatan Forum MGMP
Forum MGMP merupakan wadah bagi guru peserta MGMP untuk membangun koordinasi, membahas masalah dan merumuskan solusi, serta melakukan refleksi dan apresiasi. Forum MGMP dibentuk dan dipilih dari salah satu MGMP yang berlokasi di kecamatan yang terletak di ibukota kabupaten/kota yang memiliki akses termudah untuk dijangkau oleh anggota-anggotanya dan mendapatkan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
Forum MGMP dihadiri oleh 2 orang wakil dari setiap MGMP dan dilaksanakan di salah suatu MGMP di kabupaten/kota. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam forum MGMP adalah sebagai berikut.
a. Pertemuan koordinasi
Peserta pertemuan koordinasi ini adalah wakil-wakil dari masing-masing kelompok MGMP. Setiap MGMP mewakilkan 2 orang anggotanya untuk hadir di kegiatan forum. Pertemuan koordinasi dilaksanakan 2 (dua) kali dalam satu tahun. Agenda dalam kegiatan koordinasi adalah membahas masalah, merumuskan solusi, refleksi, apresiasi, diseminasi hasil dari kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di setiap MGMP.
b. On-service
Melaksanakan kegiatan kunjungan ke masing-masing gugus yang dilaksanakan 8 kunjungan/tahun. Sasaran kunjungan adalah 2 gugus (2 mapel yang berbeda) per kunjungan. Maksud dari kunjungan ini adalah melakukan observasi kegiatan gugus, pemetaan kekuatan dan kelemahan, rekomendasi.
c. Mereviu hasil pelatihan dari setiap MGMP dan memilih 3 karya terbaik dan memberi rekomendasi untuk penyempurnaan. Selanjutnya karya tersebut dikirimkan ke F-MKKS dan simposium propinsi.
d. Mengembangan dan menerbitkan buletin tentang kegiatan-kegiatan MGMP dan karya terbaik. Buletin didistribusikan ke masing-masing MGMP Regular dan MGMP Terpencil sebanyak 2 eksemplar per MGMP. Buletin diterbitkan 2 kali dalam satu tahun.
Diharapkan forum MGMP ini menghasilkan strategi implementasi pemecahan masalah, rencana pembelajaran 1 tahun, dan mengidentifikasi 3 saran/rekomendasi terbaik yang dihasilkan oleh MGMP.

5. Kegiatan Pelatihan dalam KKKS
Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) merupakan kelompok kerja bagi Kepala Sekolah Dasar. Pelatihan KKKS diikuti oleh sekitar 40 kepala sekolah yang berasal dari:
a. Tiga puluh dua (32) Kepala Sekolah dari KKG reguler
b. Delapan (8) Kepala Sekolah dari KKG di daerah terpencil.
Pelatihan kepala sekolah pada KKKS dilaksanakan di sekolah inti pada salah satu gugus KKG di kecamatan.

Kelompok Kerja Kepala Sekolah Dasar dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal berikut.
a. Koordinasi dan pertukaran informasi tentang kegiatan pada gugus KKG di wilayahnya.
b. Membahas masalah dan merumuskan solusi refleksi, apresiasi, diseminasi hasil implementasi kegiatan pada gugus KKG di wilayahnya
c. Melakukan pemetaan hasil on-service
d. Mendiseminasikan inisiatif terbaik hasil kegiatan dari KKG di wilayahnya.

Secara khusus, pengurus KKKS diharapkan memperhatikan hal-hal berikut.
a. Melaksanakan kegiatan pelatihan Model Belajar BERMUTU terkait dengan peningkatan proses pembelajaran yang dilakukan melalui in-service training Kepala Sekolah, kerja kelompok dan on-service yang bertujuan dalam mendukung terlaksananya metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) di dalam kelas.
b. Menindaklanjuti pelatihan dengan kunjungan (on-service) Kepala Sekolah ke KKG untuk memonitor implementasi hasil in-service dan pertemuan kelompok kerja di sekolah. Melalui diskusi, pemberian umpan balik dari fasilitator, dan memberikan umpan balik kepada guru, kepala sekolah diharapkan dapat mendukung guru dalam menerapkan PAIKEM dalam KBM sehari-hari.
c. Mengevaluasi dampak pelatihan terhadap kinerja Kepala Sekolah dilakukan pada setiap akhir tahun.
d. Memfasilitasi pelatihan induksi bagi guru baru: Penggunaan Bahan Belajar Mandiri untuk pelatihan guru baru terkait dengan fungsi sekolah, yaitu: tugas-tugas guru, persiapan mengajar, persiapan kurikulum, administrasi siswa, tanggung jawab sebagai guru, micro dan team teaching, observasi dan kunjungan kelas, masa percobaan, dan penilaian kinerja guru.
e. Melakukan penilaian berbasis kelas bagi kepala sekolah: terkait dengan karakteristik pembelajaran yang baik, observasi kelas, program peningkatan mutu guru, menulis laporan terkait dengan kinerja guru, memberikan saran-saran untuk guru, strategi pengelolaan kelas, menggunakan berbagai variasi metode pembelajaran, memotivasi siswa yang mengalami kesulitan, dan meningkatkan hasil ujian siswa.
f. Melakukan pelatihan manajemen berbasis sekolah bagi kepala sekolah: meliputi pelatihan kepemimpinan, proses pengembangan sekolah, pengelolaan keuangan, keterlibatan orangtua dan masyarakat.
g. Menyeleksi 2 (dua) Kepala Sekolah dari peserta pelatihan yang berkarya terbaik, untuk hadir pada forum KKKS yang diselenggarakan di Kabupaten/Kota.

6. Kegiatan Pelatihan dalam MKKS
Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) merupakan kelompok kerja Kepala Sekolah SMP. Pelatihan kepala sekolah pada MKKS diikuti oleh sekitar 30 kepala SMP yang berasal dari 6 (enam) kecamatan yang menyelenggarakan pelatihan guru dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dalam MGMP dan tiap kecamatan dipilih 5 Kepala SMP/MTs yang gurunya mengikuti pelatihan dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU.
Pelatihan kepala sekolah pada MKKS dilaksanakan di sekolah inti pada salah satu MGMP di kabupaten/kota.

Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMP dilaksanakan untuk:
a. Koordinasi dan pertukaran informasi tentang kegiatan pada gugus MGMP di wilayahnya.
b. Membahas masalah dan merumuskan solusi refleksi, apresiasi, diseminasi hasil implementasi kegiatan pada gugus MGMP di wilayahnya.
c. Melakukan pemetaan hasil on-service.
d. Mendiseminasikan inisiatif terbaik hasil kegiatan dari MGMP di wilayahnya.

Secara khusus, pengurus MKKS diharapkan:
a. Melaksanakan kegiatan pelatihan Model Belajar BERMUTU terkait dengan peningkatan proses belajar mengajar yang dilakukan melalui in-service training Kepala Sekolah, kerja kelompok dan on-service yang bertujuan dalam mendukung terlaksananya metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) di dalam kelas.
b. Menindaklanjuti pelatihan dengan kunjungan (on-service) Kepala Sekolah ke kelompok kerja untuk memonitor implementasi hasil in-service dan pertemuan kelompok kerja di sekolah. Melalui diskusi, pemberian umpan balik dari fasilitator, dan memberikan umpan balik kepada guru, kepala sekolah diharapkan dapat mendukung guru dalam menerapkan PAKEM dalam KBM sehari-hari.
c. Mengevaluasi dampak pelatihan terhadap kinerja Kepala Sekolah dilakukan pada setiap akhir tahun.
d. Memfasilitasi pelatihan induksi bagi guru baru: Penggunaan Bahan Belajar Mandiri untuk pelatihan guru baru terkait dengan fungsi sekolah, yaitu: tugas-tugas guru, persiapan mengajar, persiapan kurikulum, administrasi siswa, tanggung jawab sebagai guru, micro dan team teaching, observasi dan kunjungan kelas, masa percobaan, dan penilaian kinerja guru.
e. Melakukan penilaian berbasis kelas bagi kepala sekolah: terkait dengan karakteristik mengajar yang baik, observasi kelas, program peningkatan mutu guru, menulis laporan terkait dengan kinerja guru, memberikan saran-saran untuk guru, strategi pengelolaan kelas, menggunakan berbagai variasi metode pengajaran, memotivasi siswa yang mengalami kesulitan, dan meningkatkan hasil ujian siswa.
f. Menyelenggarakan pelatihan manajemen berbasis sekolah bagi kepala sekolah: meliputi pelatihan kepemimpinan, proses pengembangan sekolah, pengelolaan keuangan, keterlibatan orangtua dan masyarakat.
g. Menyeleksi 2 (dua) Kepala Sekolah dari peserta pelatihan yang berkarya terbaik, untuk hadir pada forum MKKS yang diselenggarakan di Kabupaten/Kota.

7. Kegiatan Forum KKKS
Forum KKKS merupakan wadah bagi para kepala sekolah pada SD/MI, yang di samping dihadiri oleh Kepala Sekolah, diikuti juga oleh pengawas SD. Pembentukan forum KKKS diprakasai oleh Ketua KKKS Kecamatan yang terletak di ibukota Kabupaten/Kota. Forum dilaksanakan di salah satu sekolah di kabupaten/kota dan dilaksanakan 2 (dua) kali dalam setahun.

Secara khusus Forum KKKS diharapkan:
a. Melakukan pertemuan koordinasi KKKS dengan peserta sebanyak 30 kepala sekolah yang merupakan wakil dari 15 KKKS Kecamatan. Masing-masing KKKS Kecamatan mewakilkan 2 (dua) orang kepala sekolah. Di samping itu, forum ini dihadiri juga oleh Pengawas SD dengan jumlah 24 orang pengawas. Pengawas merupakan wakil dari KKPS dari beberapa kecamatan. Pemilihan pengawas yang akan hadir dalam forum dilakukan oleh pengurus KKPS Kabupaten/Kota.
b. Melakukan diseminasi hasil kegiatan dari KKKS Kecamatan.
c. Mereviu 3 inisiatif terbaik hasil kegiatan KKKS kecamatan dan kegiatan KKG dengan memberikan rekomendasi untuk penyempurnaan.
d. Membuat strategi implementasi pemecahan masalah dan rencana sekolah 1 tahun.
e. Berkoordinasi, membahas masalah dan merumuskan solusi, melakukan refleksi dan apresiasi terkait dengan kegiatan:
1) Best teaching practice
2) Pelatihan induksi bagi guru baru
3) Penilaian berbasis kelas
4) Pelatihan manajemen berbasis sekolah

8. Kegiatan Forum MKKS
Forum MKKS merupakan wadah bagi para kepala sekolah pada SMP/MTs, yang di samping dihadiri oleh Kepala SMP/MTs, diikuti juga oleh pengawas SMP/MTs. Pembentukan forum diprakarsai oleh Ketua MKKS. Forum dilaksanakan di salah satu sekolah di kabupaten/kota dan dilaksanakan 2 (dua) kali dalam setahun.

Secara khusus Forum MKKS diharapkan:
a. Pertemuan koordinasi MKKS dihadiri peserta sebanyak 20 kepala sekolah SMP/MTs yang merupakan wakil dari Kepala Sekolah pada 10 Kecamatan yang ada di wilayah kabupaten. Pertemuan forum MKKS juga dihadiri oleh pengawas yang ada di kabupaten sebanyak 12 orang.
b. Melakukan diseminasi hasil kegiatan MKKS.
c. Mereviu 3 inisiatif terbaik hasil kegiatan MKKS dan MGMP dengan memberikan rekomendasi untuk penyempurnaan.
d. Membuat strategi implementasi pemecahan masalah dan rencana sekolah 1 tahun.
e. Berkoordinasi, membahas masalah dan merumuskan solusi, melakukan refleksi dan apresiasi terkait dengan kegiatan:
1) Best teaching practice
2) Pelatihan induksi bagi guru baru
3) Penilaian berbasis kelas
4) Pelatihan manajemen berbasis sekolah

9. Kegiatan dalam KKPS
Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) merupakan wadah kegiatan pengawas sekolah SD. Pelatihan pengawas dalam KKPS diikuti oleh sekitar 45 pengawas sekolah yang berasal dari 15 kecamatan di kabupaten/kota atau sesuai dengan keadaan jumlah pengawas dan jumlah kecamatan dalam 1 kabupaten/kota dan masing-masing kecamatan diwakili 3 orang pengawas. Kegiatan pelatihan pengawas dalam KKPS diselenggarakan di salah satu sekolah inti di kabupaten/kota oleh pengurus KPPS.
Kegiatan dalam KKPS dilaksanakan dengan tujuan untuk:
a. Melakukan koordinasi antarpengawas dan bertukar informasi
b. Membahas masalah dan merumuskan solusi
c. Melakukan refleksi, apresiasi, diseminasi hasil implementasi kegiatan gugus KKG
d. Melakukan pemetaan hasil on-service dan hasil evaluasi kinerja setiap guru
e. Mendiseminasikan inisiatif terbaik hasil KKG

Secara khusus, pengurus KKPS diharapkan:
a. Melaksanakan kegiatan terkait dengan peningkatan supervisi proses pembelajaran, seperti: pelatihan Model Belajar BERMUTU yang dilakukan melalui in-service training, kerja kelompok dan on-service training yang bertujuan mendukung terlaksananya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) di dalam kelas.
b. Melakukan tindak lanjut terhadap pelatihan melalui kunjungan (on-service) ke KKG untuk memonitor implementasi hasil in-service dan pertemuan kelompok kerja di sekolah. Melalui diskusi, pemberian umpan balik dari fasilitator, dan memberikan umpan balik kepada guru, pengawas sekolah diharapkan dapat mendukung guru dalam menerapkan PAIKEM dalam KBM sehari-hari.
c. Melakukan evaluasi untuk mengetahui dampak pelatihan terhadap kinerja guru dan kepala sekolah (dilaksanakan pada setiap akhir tahun).
d. Memfasilitasi pelatihan supervisi induksi bagi guru baru: penggunaan Bahan Belajar Mandiri untuk pelatihan guru baru terkait dengan fungsi sekolah, yaitu: tugas-tugas guru, persiapan mengajar, pengembangan kurikulum, administrasi siswa, tanggung jawab sebagai guru, micro dan team teaching, observasi dan kunjungan kelas, masa percobaan dan penilaian kinerja guru.
e. Melakukan kegiatan supervisi penilaian berbasis kelas: terkait dengan karakteristik pembelajaran yang baik, observasi kelas, program peningkatan mutu guru, menulis laporan terkait dengan kinerja guru, memberikan saran-saran untuk guru, strategi pengelolaan kelas, menggunakan berbagai variasi metode pembelajaran, memotivasi siswa yang mengalami kesulitan, dan meningkatkan hasil ujian siswa.
f. Menyelenggarakan pelatihan supervisi manajemen berbasis sekolah, yang meliputi pelatihan kepemimpinan, supervisi proses pengembangan sekolah, supervisi pengelolaan keuangan, dan supervisi keterlibatan orangtua dan masyarakat.

10. Kegiatan dalam MKPS
Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) merupakan wadah kegiatan pengawas sekolah SMP. Pelatihan pengawas dalam MKPS diikuti oleh sekitar 24 pengawas sekolah yang berasal dari 6 kecamatan yang menyelenggarakan pelatihan guru dalam MGMP dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU. Tiap kecamatan diwakili oleh 4 orang pengawas dari mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pelatihan diselenggarakan oleh pengurus MKPS dan dilaksanakan di salah satu sekolah inti di tingkat kabupaten/kota.
Kegiatan dalam MKPS dilaksanakan dengan tujuan untuk:
a. Melakukan koordinasi antarpengawas dan bertukar informasi
b. Membahas masalah dan merumuskan solusi
c. Refleksi, apresiasi, diseminasi hasil implementasi kegiatan MGMP
d. Melakukan pemetaan hasil on-service dan hasil evaluasi kinerja setiap guru.
e. Mendiseminasikan inisiatif terbaik hasil kegiatan MGMP

Secara khusus, MKPS diharapkan:
a. Melaksanakan kegiatan terkait dengan peningkatan supervisi proses pembelajaran seperti: pelatihan Model Belajar BERMUTU yang dilakukan melalui in-service training, kerja kelompok dan on-service training yang bertujuan dalam mendukung terlaksananya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) di dalam kelas.
b. Melakukan tindak lanjut terhadap pelatihan melalui kunjungan (on-service) ke kelompok kerja untuk memonitor implementasi hasil in-service dan pertemuan kelompok kerja di sekolah. Melalui diskusi, pemberian umpan balik dari fasilitator, dan memberikan umpan balik kepada guru, pengawas sekolah diharapkan dapat mendukung guru dalam menerapkan PAIKEM dalam KBM sehari-hari.
c. Melakukan evaluasi untuk mengetahui dampak pelatihan terhadap kinerja guru dan kepala sekolah (dilaksanakan pada setiap akhir tahun).
d. Memfasilitasi pelatihan supervisi induksi bagi guru baru: penggunaan Bahan Belajar Mandiri untuk pelatihan guru baru terkait dengan fungsi sekolah, yaitu: tugas-tugas guru, persiapan mengajar, pengembangan kurikulum, administrasi siswa, tanggung jawab sebagai guru, micro dan team teaching, observasi dan kunjungan kelas, masa percobaan dan penilaian kinerja guru.
e. Melakukan kegiatan supervisi penilaian berbasis kelas: terkait dengan karakteristik mengajar yang baik, observasi kelas, program peningkatan mutu guru, menulis laporan terkait dengan kinerja guru, memberikan saran-saran untuk guru, strategi pengelolaan kelas, menggunakan berbagai variasi metode pengajaran, memotivasi siswa yang mengalami kesulitan, dan meningkatkan hasil ujian siswa.
f. Menyelenggarakan pelatihan supervisi manajemen berbasis sekolah, yang meliputi pelatihan kepemimpinan, supervisi proses pengembangan sekolah, supervisi pengelolaan keuangan, dan supervisi keterlibatan orangtua dan masyarakat.

Catatan:
i. Dalam pelaksanaan Model Belajar BERMUTU, digunakan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU yang juga terkait dengan beragam sumber belajar lainnya. Semua sumber belajar dapat diakses secara fisik (hardcopy) maupun secara virtual dalam bentuk elektronik melalui portal Cakrawala Guru. Akses disediakan melalui Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas – Pustekkom).
ii. E-repository dalam portal Cakrawala Guru memiliki sambungan dengan situs-situs lain yang juga dapat diakses oleh guru/kepala sekolah/pengawas, misalnya dengan bank soal dari PusPendik, Balitbang Diknas, Edukasi.Net dari Pustekkom, PJJ S1-PGSD (HYLITE), dll.
iii. Pelaksanaan Model Belajar BERMUTU dan dampaknya dievaluasi oleh tim evaluasi independent dari Balitbang Diknas (Puslitjaknov).
BAB V
Peserta

Peserta dari kegiatan pelatihan adalah guru, kepala sekolah dan pengawas di SD dan SMP yang terlibat aktif dalam kegiatan KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS.

A. Peserta Pelatihan Guru dalam KKG (Kelompok Kerja Guru)
Peserta pelatihan guru di KKG adalah guru SD/MI Negeri dan Swasta. Setiap tahun jumlah peserta pelatihan dalam tiap KKG kecamatan adalah 48 guru, yang terdiri 8 guru dari tiap kelas I sd VI. Peserta dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok A, yang terdiri dari 24 guru kelas awal (I, II dan III) dan kelompok B, yang terdiri dari 24 guru kelas tinggi (IV, V dan VI). Pemilihan peserta pelatihan dilakukan oleh pengurus KKG dan mendapat persetujuan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan.
Mengingat Pelatihan Model Belajar BERMUTU dirancang sebagai pelatihan terakreditasi untuk memperoleh pengakuan kredit semester dari LPTK, peserta KKG diutamakan guru-guru SD yang belum memiliki kualifikasi S1. Pemilihan guru-guru SD untuk berpartisipasi dalam pelatihan di KKG dengan Model Belajar BERMUTU dilakukan sesuai dengan kriteria dan urutan sertifikasi guru secara umum.
Jika peserta pelatihan adalah guru-guru SD yang sudah memenuhi kualifikasi S1, maka Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilaksanakan dalam rangka Continuing Professional Development (CPD) bagi guru-guru SD tersebut.

B. Peserta Pelatihan Guru dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran)
Pelatihan diselenggarakan oleh 4 (empat) MGMP, yaitu MGMP Matematika, MGMP Bahasa Inggris, MGMP Bahasa Indonesia, dan MGMP IPA. Banyaknya peserta pelatihan tiap MGMP tersebut adalah 20 orang guru per tahun. Pelatihan dilaksanakan pada hari MGMP masing-masing, di mana pada hari tersebut peserta tidak mengajar.
Mengingat Pelatihan Model Belajar BERMUTU dirancang sebagai pelatihan terakreditasi untuk memperoleh pengakuan kredit semester dari LPTK, peserta pelatihan diutamakan guru-guru SMP/MTs yang belum memiliki kualifikasi S1. Pemilihan guru-guru SMP/MTs peserta Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilakukan sesuai dengan kriteria dan urutan sertifikasi guru secara umum oleh pengurus MGMP dan disetujui oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan.
Jika peserta pelatihan adalah guru-guru SMP yang sudah memenuhi kualifikasi S1, maka Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilaksanakan dalam rangka Continuing Professional Development (CPD) bagi guru-guru SMP tersebut.

C. Peserta Pelatihan Kepala Sekolah dalam KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah)
Peserta pelatihan kepala sekolah di KKKS berjumlah sekitar 40 kepala sekolah yang berasal dari:
a. Empat (4) kecamatan yang menyelenggarakan pelatihan guru dengan model Belajar BERMUTU dalam KKG reguler dan tiap kecamatan dipilih 8 (delapan) Kepala SD.
b. Satu (1) kecamatan yang menyelenggarakan pelatihan guru dengan model Belajar BERMUTU dalam KKG di daerah terpencil dan dipilih 8 Kepala Sekolah Dasar.
Mengingat Pelatihan Model Belajar BERMUTU dirancang sebagai pelatihan terakreditasi untuk memperoleh pengakuan kredit semester dari LPTK, peserta KKKS diutamakan kepala sekolah SD yang belum memiliki kualifikasi S1. Pemilihan kepala sekolah SD untuk berpartisipasi dalam Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilakukan sesuai dengan kriteria dan urutan sertifikasi guru secara umum oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan.
Jika peserta pelatihan adalah kepala sekolah SD yang sudah memenuhi kualifikasi S1, maka Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilaksanakan dalam rangka Continuing Professional Development (CPD) bagi kepala sekolah tersebut.

D. Peserta Pelatihan Kepala Sekolah dalam MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah)
Setiap pelatihan kepala sekolah di MKKS berjumlah sekitar 30 kepala SMP yang berasal dari 6 (enam) kecamatan yang menyelenggarakan pelatihan guru SMP/MTs dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dalam MGMP dan tiap kecamatan dipilih 5 (lima) Kepala SMP/MTs yang gurunya mengikuti pelatihan.
Mengingat Pelatihan Model Belajar BERMUTU dirancang sebagai pelatihan terakreditasi untuk memperoleh pengakuan kredit semester dari LPTK, peserta MKKS diutamakan kepala sekolah SMP yang belum memiliki kualifikasi S1. Pemilihan kepala sekolah SMP/MTs untuk berpartisipasi dalam Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilakukan sesuai dengan kriteria dan urutan sertifikasi guru secara umum oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan.
Jika peserta pelatihan adalah kepala sekolah SMP yang sudah memenuhi kualifikasi S1, maka Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilaksanakan dalam rangka Continuing Professional Development (CPD) bagi kepala sekolah tersebut.

E. Peserta Pelatihan Pengawas dalam KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah)
Peserta pelatihan pengawas di KKPS berjumlah sekitar 45 pengawas SD yang berasal dari 15 kecamatan yang menyelenggarakan pelatihan dengan Model Belajar BERMUTU dalam KKG dan tiap kecamatan diwakili oleh 3 orang pengawas SD. Atau sesuai dengan keadaan jumlah pengawas dan jumlah kecamatan dalam 1 kabupaten/kota. Masing-masing kecamatan diwakili 3 orang pengawas SD.
Kegiatan pelatihan pengawas di KKPS dilaksanakan di salah satu sekolah inti di tingkat kabupaten/kota.
Mengingat Pelatihan Model Belajar BERMUTU dirancang sebagai pelatihan terakreditasi untuk memperoleh pengakuan kredit semester dari LPTK, peserta pelatihan diutamakan pengawas sekolah SD yang belum memiliki kualifikasi S1. Pemilihan pengawas SD untuk berpartisipasi dalam Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilakukan sesuai dengan kriteria dan urutan sertifikasi guru secara umum oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan.
Jika peserta pelatihan adalah pengawas sekolah SD yang sudah memenuhi kualifikasi S1, maka Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilaksanakan dalam rangka Continuing Professional Development (CPD) bagi pengawas sekolah tersebut.

F. Peserta Pelatihan Pengawas dalam MKPS (Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah)
Peserta pelatihan pengawas di MKPS berjumlah sekitar 24 pengawas SMP/MTs yang berasal dari 6 kecamatan yang menyelenggarakan palatihan guru dengan Model Belajar BERMUTU dalam MGMP. Tiap kecamatan diwakili oleh 4 (empat) pengawas akademik dalam mata pelajaran matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Kegiatan pelatihan pengawas dilaksanakan di salah satu sekolah inti di tingkat kabupaten/kota.
Mengingat Pelatihan Model Belajar BERMUTU dirancang sebagai pelatihan terakreditasi untuk memperoleh pengakuan kredit semester dari LPTK, peserta pelatihan diutamakan pengawas sekolah yang belum memiliki kualifikasi S1. Pemilihan pengawas SMP/MTs untuk berpartisipasi dalam Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilakukan sesuai dengan kriteria dan urutan sertifikasi guru secara umum oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten.
Jika peserta pelatihan adalah pengawas sekolah yang sudah memenuhi kualifikasi S1, maka Pelatihan Model Belajar BERMUTU dilaksanakan dalam rangka Continuing Professional Development (CPD) bagi pengawas sekolah tersebut.
BAB VI
Kegiatan Pembelajaran dalam KKG dan MGMP dengan Model Belajar BERMUTU

A. Kegiatan Pembelajaran
Proses belajar dilakukan dalam tiga jenis kegiatan sebagai berikut.
1. Kegiatan belajar tatap muka
Kegiatan Belajar Tatap Muka (KBTM) dilakukan di KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS masing-masing sebanyak 16 x pertemuan. Setiap pertemuan berdurasi minimal 4 jam (4 x 60 menit), kecuali untuk daerah terpencil.
Pertemuan 16 x KBTM dapat diatur untuk dilaksanakan selama 4 bulan, satu semester, atau satu tahun, sesuai dengan kebutuhan. Rancangan umum Model Belajar BERMUTU dibuat untuk 16 x pertemuan.
Pada KBTM, peserta diharapkan melakukan beragam aktivitas belajar sesuai dengan Bahan Belajar Mandiri Model BERMUTU dan dipandu oleh Guru Pemandu/Guru Inti dan Dosen LPTK yang ditunjuk. Dalam melaksanakan KBTM, Guru Pemandu/Guru Inti/Dosen LPTK menggunakan Bahan Belajar Mandiri Model BERMUTU beserta ke-lengkapannya. Selain itu, peserta pelatihan dari KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS masing-masing diberi buku kerja dan beragam sumber belajar yang diwajibkan. Sumber belajar ini dapat berbentuk hardcopy atau dapat diakses melalui website Cakrawala Guru.
Secara keseluruhan, proses belajar dilandaskan pada pendekatan penelitian tindakan kelas yang dipadukan dengan Lesson Study dan studi kasus yang diramu menjadi Model Belajar BERMUTU. Secara khusus, untuk setiap pertemuan tatap muka, digunakan pendekatan student-centered learning yang menekankan pada pembelajaran aktif dari peserta.

a. Proses Pembelajaran Tatap Muka Bidang Ilmu (KKG dan MGMP)

Tabel 7. Rencana Kegiatan Pelatihan di KKG dan MGMP
16 x pertemuan dalam waktu 1 tahun I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI Generik PTK ICT Bidang Ilmu Laporan Pendahuluan (Model BERMUTU Identifikasi Masalah Perencanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan Analisis dan Interpretasi Refleksi dan Tindak Lanjut Keterampilan ICT
1& 2 Identifikasi Masalah Perencanaan Tindakan Penyusunan Proposal Pelaksanaan Tindakan Analisis dan Interpretasi Refleksi dan Perencanaan Siklus 2 Penyusunan Laporan
Penjelasan:

Pertemuan 1 : Diskusi tentang Model Belajar BERMUTU (bahan tertulis, ada di dalam Bahan Belajar Mandiri).
Pertemuan 2-6 : Diskusi, pelaksanaan (latihan) dan pembimbingan tentang Model Penelitian Tindakan Kelas – konsep, prinsip, prosedur, contoh pelaksanaan, dan per-lengkapan/ alat-alat yang diperlukan dalam melakukan PTK, serta penulisan proposal PTK.
Pertemuan 7-8 : Pelatihan dan diskusi tentang keterampilan ICT, serta pemanfaatan ICT untuk proses pembelajaran
Pertemuan 9-14 : Diskusi, pelaksanaan siklus 1, dan pembimbingan tentang pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas secara khusus tentang pembelajaran tematik di SD kelas awal untuk guru (peserta) SD kelas awal, atau pembelajaran bidang ilmu guru (peserta) SD kelas tinggi, atau pembelajaran bidang ilmu untuk guru (peserta) SMP.
Dalam PTK untuk bidang ilmu ini, guru-guru juga diminta untuk melakukan kajian kritis terhadap beragam sumber informasi bidang ilmu, berlatih mengembangkan kurikulum untuk mata pelajarannya (silabus, RPP, dan media), dan secara langsung juga berlatih praktik pembelajaran dengan menerapkan beragam metode pembelajaran yang inovatif, seperti yang dilakukan dalam Lesson Study.
Pertemuan 15-16 : Pelaksanaan PTK siklus 2, diskusi dan pembimbingan penulisan laporan PTK.

b. Proses Pembelajaran Bidang Manajemen (KKKS/MKKS, KKPS/MKPS)

Tabel 8.Rencana Kegitan Pelatihan di KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS
16 x pertemuan dalam waktu 1 tahun I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI Pengantar ICT Profil Guru Kualitas Keuangan Diseminasi Pengantar Program BERMUTU Keterampilan
ICT Penilaian Kebutuhan Guru dan Peran Kepala Sekolah sebagai Pembina Pengelolaan Kualitas Pendidikan dalam gugus Himpunan & Pengelolaan Keuangan dalam gugus Diseminasi ‘Best Practice” dalam gugus
Penjelasan:

Pertemuan 1 : Diskusi tentang Program BERMUTU untuk Bidang Manajemen (Bahan tertulis, ada di dalam Bahan Belajar Mandiri)
Pertemuan 2 : Pelatihan dan diskusi tentang keterampilan ICT, serta pemanfaatan ICT untuk proses pembelajaran
Pertemuan 3-6 : Diskusi, latihan, dan pembimbingan untuk melakukan penilaian kebutuhan guru dan pembinaan guru dalam gugus KKG dan MGMP.
Pertemuan 7-10 : Diskusi, latihan, dan pembimbingan untuk melakukan pengelolaan kualitas pendidikan dalam KKG dan MGMP, sampai membuat perencanaan program bagi KKG dan MGMP.
Pertemuan 11-13 : Diskusi, latihan, dan pembimbingan untuk melakukan penulisan proposal hibah dan pengelolaan keuangan kegiatan guru.
Pertemuan 14-16 : Diseminasi best practise dalam KKG dan MGMP

2. Kegiatan Belajar Terstruktur (KBTS) dilakukan di tempat bekerja guru, kepala sekolah, pengawas atau di rumah masing-masing, sejalan dengan KBTM, berdasarkan tugas-tugas terstruktur yang telah disediakan dalam Bahan Belajar Mandiri Model BERMUTU. Hasil setiap KBTS harus didokumentasikan dengan rapi dalam buku kerja oleh setiap peserta, sehingga menjadi portofolio Model Belajar BERMUTU. Pada akhir kegiatan, portofolio ini akan dinilai untuk memperoleh sertifikat partisipasi dalam Model Belajar BERMUTU dan untuk memperoleh alih kredit dari LPTK atau kredit poin untuk kenaikan pangkat.

Tugas Terstruktur untuk bidang ilmu meliputi: penulisan studi kasus pembelajaran untuk merumuskan masalah pembelajaran, menyusun rencana tindakan (menyusun RPP, LKS, Media Pembelajaran), melakukan tindakan pembelajaran, observasi pembelajaran, melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang telah dilakukan berdasarkan hasil observasi, kajian kritis pada sumber belajar, penyusunan proposal PTK, penyusunan laporan PTK.
Tugas Terstruktur untuk bidang manajemen meliputi: analisis kebutuhan guru, rencana program KKG atau MGMP, proposal hibah, rencana anggaran kegiatan, laporan tindakan Best Practice.

3. Kegiatan Belajar Mandiri (KBMD) dilakukan oleh masing-masing guru sejalan dengan KBTM dan KBTS, berdasarkan arahan yang diberikan dalam Bahan Belajar Mandiri Model BERMUTU, dan juga berdasarkan kebutuhan serta inisiatif masing-masing guru.
KBMD antara lain meliputi:
a. Membaca beragam sumber belajar yang disediakan, atau buku sumber yang sesuai yang ada di perpustakaan sekolah atau perpustakaan lain di daerah masing-masing.
b. Melakukan latihan-latihan menggunakan beragam peralatan (misalnya ICT)
c. Berdiskusi dengan teman sejawat, tokoh masyarakat, orang tua murid tentang pendidikan, khususnya dalam usaha membelajarkan siswa.
d. Mencari sumber-sumber belajar lain melalui internet.
e. Melakukan penelitian tindakan kelas siklus 2.

B. Guru Pemandu dan Dosen Pendamping
1. Guru Pemandu pada Pelatihan dengan Model Belajar BERMUTU
Guru pemandu (fasilitator) bertugas memandu dan mengusahakan fasilitas pelaksanaan setiap kegiatan pelatihan dengan Model Belajar BERMUTU pada KKG atau MGMP. Guru pemandu diangkat oleh Dinas Pendidikan Kabupaten berdasarkan hasil pelatihan yang telah diikutinya. Banyaknya guru pemandu disesuaikan dengan banyaknya KKG dan MGMP yang menyelenggarakan pelatihan dengan Model Belajar BERMUTU.

2. Dosen Pendamping (LPTK)
Dosen Pendamping berasal dari LPTK yang telah mengikuti pelatihan Model Belajar Bermutu dan memperoleh rekomendasi dari Rektor/Dekan pada LPTK. Dosen Pendamping direkrut dari LPTK yang berdekatan dengan lokasi KKG atau MGMP bimbingannya.

C. Hasil Belajar
Hasil Belajar BERMUTU dikemas oleh setiap peserta/individu guru dalam bentuk portofolio, dan disebut sebagai portofolio Model Belajar BERMUTU.
Isi portofolio Model Belajar BERMUTU untuk setiap guru (peserta pelatihan) adalah:
1) Proposal PTK (1 buah)
2) Tulisan Studi Kasus Kajian Pembelajaran (1 buah)
3) Kajian Kritis Bidang Ilmu (3 buah)
4) Laporan PTK (1 buah)

Isi portofolio Model Belajar BERMUTU untuk setiap peserta pelatihan manajemen (Kepala Sekolah dan Pengawas):
1) Profil Guru
2) Analisis Kebutuhan Guru
3) Rencana Program Kerja KKG (bagi Kepala dan Pengawas SD) dan Rencana Program Kerja MGMP(bagi Kepala dan Pengawas SMP)
4) Proposal Kegiatan (Hibah) dan Rincian Biaya per kegiatan
5) Rencana Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan
6) Laporan Implementasi Best Practice
7) Laporan Diseminasi Best Practice

Portofolio ini menjadi dasar pemberian sertifikat partisipasi guru dalam program Model Belajar BERMUTU di KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS. Portofolio ini juga menjadi dasar penilaian oleh LPTK untuk pengakuan kredit akademik.

BAB VII
Evaluasi Hasil Kegiatan
A. Jenis Evaluasi
Evaluasi dalam program BERMUTU dapat diposisikan sebagai alat manajemen, maka model evaluasi program CIPP (Context, Input, Process, Product) dari Stufflebeam relevan untuk dijadikan rujukan umum dalam pengembangan sistem monitoring dan evaluasi program. Dengan demikian kegiatan monitoring dan evaluasi akan mencakup evaluasi konteks dan evaluasi input pada tahap perencanaan program, evaluasi proses pada tahap implementasi program, evaluasi produk yang mencakup evaluasi keluaran pada tahap akhir pelaksanaan program, serta evaluasi dampak pada tahap pasca pelaksanaan program.
Evaluasi konteks merupakan need assessment (kebutuhan) pengembangan profesional pendidik di wilayah target program. Sasaran evaluasi mencakup permasalahan yang dihadapi para guru, kepala sekolah dan pengawas di wilayah mereka, seperti: Bagi guru, kelemahan yang ada pada aspek pembelajaran, media dan alat pembelajaran, kurikulum, aktivitas laboratorium, bahan ajar, asesmen pelajaran, dan sebagainya. Bagi Kepala Sekolah dan Pengawas, kelemahan dalam kepemimpinan, perencanaan program pengembangan sekolah, analisis kebutuhan guru, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan, dan aspek-aspek manajemen sekolah lainnya.
Evaluasi input berfokus pada pengumpulan informasi input yang penting seperti profil peserta didik (antara lain kapasitas belajar, tingkat motivasi dan prestasi belajar), profil pendidik (antara lain latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar, mismatch, sikap terhadap suatu inovasi, budaya kerja), serta fasilitas sarana dan prasarana belajar yang tersedia, termasuk guru Pemandu, dosen Pendamping, Bahan Belajar Mandiri BERMUTU dan sumber belajar yang disediakan dari program BERMUTU.
Evaluasi proses berkenaan dengan kajian seberapa jauh pelaksanaan operasional kegiatan pelatihan dengan Bahan Belajar Mandiri BERMUTU yang diselenggarakan dalam KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS berjalan secara efektif ke arah pengembangan profesional guru, Kepala Sekolah dan Pengawas yang diharapkan. Evaluasi proses bersifat sebagai evaluasi formatif, sehingga temuan-temuan dari evaluasi proses perlu segera disampaikan sebagai umpan balik kepada pihak-pihak terkait, khususnya manajemen program untuk ditindaklanjuti.
Evaluasi produk meliputi dua aspek, yakni evaluasi keluaran (output) dan evaluasi dampak (impact). Evaluasi keluaran terarah pada hasil langsung (direct) program. Bagi guru peserta pelatihan berupa portofolio yang berisi: proposal PTK, tulisan studi kasus kajian pembelajaran, kajian kritis bidang ilmu dan laporan PTK. Bagi Kepala Sekolah dan Pengawas berupa portofolio yang berisi: profil guru, analisis kebutuhan guru, rencana program kerja KKG (bagi Kepala dan Pengawas SD) dan rencana program kerja MGMP(bagi Kepala dan Pengawas SMP), proposal kegiatan (hibah) dan rincian biaya per kegiatan, rencana pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan, laporan implementasi Best Practice dan laporan diseminasi Best Practice. Di samping itu, adanya perubahan-perubahan pada kinerja pembelajaran yang dilakukan guru, kinerja belajar dari peserta didik, kinerja dari Kepala Sekolah dan Pengawas yang teramati pada akhir implementasi program. Evaluasi dampak lebih bersifat monitoring terhadap keberlanjutan (sustainability) aktivitas guru, Kepala Sekolah dan Pengawas pasca pelaksanaan proyek.
Evaluasi kegiatan dan hasil akan dilakukan oleh tim independen dan juga evaluasi pada laporan kegiatan yang disusun oleh Pengurus KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS, serta rekapitulasinya yang disusun oleh LPMP.
Evaluasi hasil kegiatan dilakukan dengan portofolio hasil kerja yang tercermin dalam buku kerja tiap peserta dan penilaian kegiatan harian dari peserta oleh guru pemandu/dosen pendamping. Kualitas portofolio dan penilaian keaktifan harian menentukan kelulusan peserta. Selain itu, dilakukan tes hasil belajar siswa oleh tim independen.

B. Sertifikasi
1. Bagi peserta pelatihan Model Belajar BERMUTU yang dinyatakan lulus diberikan sertifikat oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
2. Pengakuan kredit akademik (sks) oleh LPTK didasarkan pada penilaian portofolio yang tercermin dalam buku kerja (kumpulan hasil kerja) peserta.
BAB VIII
Koordinasi
LPMP, P4TK (Matematika, IPS, IPA, Bahasa), Dinas Pendidikan Kabupaten dan Dinas Pendidikan Propinsi berkoordinasi dengan langkah-langkah persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan sebagai berikut.

A. Persiapan
1. Pelajari Rencana Program Kegiatan Gugus KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS.
2. Tentukan peserta yang akan terlibat dalam pelatihan dan sampaikan surat undangannya.
3. Buatkan jadwal kegiatan dan tetapkan tempat kegiatan secara bergiliran (berpindah-pindah di antara sekolah (inti) yang terlibat).
4. Tentukan guru pemandu, tugas dan fungsinya untuk setiap kegiatan (sebagai penanggung jawab kegiatan).
5. Tentukan petugas administrasi untuk setiap kegiatan.
6. Komunikasikan Rencana Kegiatan, jadwal, dan penanggung jawab kegiatan kepada KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS.
7. Cek dan siapkan bahwa Bahan Belajar Mandiri BERMUTU tersedia dengan cukup untuk semua anggota dan untuk semua tempat kegiatan. Paket Belajar BERMUTU terdiri dari Bahan Belajar Mandiri, Buku kerja dan beragam sumber belajar, sumber belajar di internet, formulir-formulir.
8. Cek bahwa sumber belajar di internet dapat diakses guru di tempat kegiatan berlangsung.
9. Buatkan daftar hadir peserta untuk setiap kegiatan.
10. Siapkan paket ATK untuk setiap kegiatan.
11. Siapkan formulir informasi balikan (evaluasi oleh anggota) untuk setiap kegiatan.
12. Siapkan kelengkapan berkas administrasi untuk pertanggung-jawaban keuangan pada setiap kegiatan (kwitansi, dll.)

B. Pelaksanaan
1. Pastikan tempat, sumber belajar, dan peralatan sudah siap (dan berfungsi) 15 menit sebelum kegiatan yang dijadwalkan.
2. Pastikan kehadiran peserta anggota kelompok kerja, guru pemandu, dosen pendamping dan petugas administrasi.
3. Pantau pemanfaatan waktu seefektif mungkin untuk mencapai tujuan per kegiatan
4. Jika diperlukan, siapkan konsumsi sesuai dengan kebutuhan.
5. Meminta peserta untuk menjaga kebersihan tempat kegiatan.
6. Peserta mengisi daftar hadir, dan mengurus berkas administrasi sesuai peraturan.
7. Kumpulkan formulir informasi balikan untuk diolah menjadi evaluasi kegiatan.
8. Mintakan penanggung jawab kegiatan membuat laporan kegiatan (maksimum 1 halaman) untuk setiap kegiatan.

C. Pelaporan
1. Pengurus KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS menyusun laporan penyelenggaraan pelatihan Model Belajar BERMUTU secara periodik dan dikirim kepada LPMP dan ditembuskan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten.
2. LPMP menyusun rekapitulasi laporan dari pengurus KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS dan dikirim kepada Direktur Bindiklat.

D. Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Monev kegiatan Model Belajar BERMUTU akan dilakukan oleh tim independen yang ditentukan oleh Dirbindiklat ke tiap tempat kegiatan.

Monev terjadwal dan Monev tidak terjadwal
Untuk menjamin pelaksanaan program secara berkualitas, monitoring akan dilaksanakan pada setiap tingkatan secara terjadwal maupun tidak terjadwal:
1. Tingkat Nasional: Tim Pengembang memonitor pelatihan TIK dan kegiatan pelatihan pada KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS dan memberikan umpan balik
2. Tingkat Propinsi: Dinas Pendidikan dan Tim Inti Provinsi memonitor pelatihan TIK dan memberikan umpan balik
3. Tingkat Kabupaten/Kota: Dinas Pendidikan dan Tim Inti Kabupaten/Kota memonitor kegiatan pelatihan pada KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS dan MKPS dan memberikan umpan balik
4. Tingkat gugus sekolah: Evaluasi-diri Gugus
5. Tingkat sekolah: Evaluasi-diri Sekolah
6. Selain itu, untuk memaksimalkan kualitas dan kedalaman monitoring kegiatan, maka diupayakan agar para guru merasa nyaman dan leluasa menyampaikan pendapat, harapan maupun keluhan. Tim Pengembang dibantu Konsultan Monitoring dan Evaluasi akan mengembangkan instrumen khusus berupa kuesioner terbuka (open-ended questionaire). Para guru akan secara berkala (sesuai dengan kesepakatan/program kerja kelompok masing-masing) mengisi kuesioner tersebut untuk selanjutnya ditelaah dan direspon oleh Tim Inti Kabupaten untuk selanjutnya dihimpun dan dilaporkan kepada PCU sebagai masukan untuk perbaikan program secara menyeluruh. Apabila para guru mempunyai keluhan atau hal-hal sensitif lainnya yang menurut pemikirannya perlu langsung direspon oleh tingkat propinsi atau pusat, yang bersangkutan bisa mennyampaikannya ke PCU Ditjen PMPTK dan/atau ke Gerai Informasi dan Media Depdiknas, dengan saluran sebagai berikut.

Nomor Telepon: 021-57950266
Fax: 021-5733125
Website: www.depdiknas.go.id
BAB IX
Pembiayaan
A. Sumber Dana
1. Iuran Anggota
Pada dasarnya kegiatan KKG atau MGMP adalah suatu kegiatan yang diadakan dari guru, oleh guru, dan untuk guru. Untuk itu semua kebutuhan yang diperlukan untuk menjalankan semua program KKG atau MGMP pada dasarnya harus dipenuhi sendiri oleh anggota.

2. RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah).
Walaupun manfaat langsung dari kegiatan KKG atau MGMP ini adalah langsung pada individu yang bersangkutan tetapi secara tidak langsung, hasil dari kegiatan ini berimbas pada kemajuan sekolah, sehingga wajar jika pihak sekolah ikut membantu pembiayaan kegiatan KKG atau MGMP. Jika cara ini akan ditempuh, pengurus KKG atau MGMP harus membuat Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) per tahun. Besarnya anggaran yang diperlukan untuk kegiatan selama satu tahun kemudian dibagi dengan semua anggota kelompok untuk dimasukkan ke dalam RAPBS sekolah masing-masing.

3. BOS
Salah satu pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah adalah untuk mendukung kegiatan KKG, MGMP, KKKS dan MKKS. Pemanfaatan BOS untuk KKG atau MGMP dapat dibuat secara terpisah, atau juga dapat dibuat secara terintegrasi dalam RAPBS.

4. Sponsor
Di samping sumber biaya yang berasal dari anggota dan RAPBS, pengurus KKG dan MGMP dapat juga mengupayakan sumber pembiayaan lain. Dalam upaya pemberdayaan kelompok kerja, program BERMUTU secara khusus menyediakan block grant (Dana Bantuan Langsung) yang akan diberikan secara langsung ke kelompok kerja melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Pemanfaatan Dana Bantuan Langsung (DBL) secara tepat dan terprogram akan menjadikan kelompok kerja sebagai wadah yang tepat bagi peningkatan mutu dan profesionalitas guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Kegiatan kelompok kerja dan forum berkontribusi dalam peningkatan kompetensi peserta kelompok kerja untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
Dana Bantuan Langsung (DBL) diperoleh dari
Direktorat Pembinaan Diklat PMPTK Depdiknas
Gedung D Lantai 15 Jl. Jenderal Sudirman Pintu 1 Senayan Jakarta.
Telp/fax. 021-57974128, 57974129, 57974130, 57974131, 57974132, 57974133
e-mail: bermutu_diknas@yahoo.com.

Melalui DBL, Ditjen PMPTK akan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan di KKG dan MGMP dengan dana mencapai Rp 25.000.000,00 (Dua Puluh Lima Juta Rupiah) per kelompok KKG/MGMP di Kota/ Kabupaten dan Rp 125.000.000,00 (Seratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah) untuk setiap kelompok KKG dan MGMP daerah terpencil.
Kelompok kerja yang akan memperoleh pembiayaan melalui DBL adalah Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah(KKPS), atau Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) dengan kriteria sebagai berikut.
a. Mempunyai struktur kepengurusan yang disahkan oleh cabang Dinas Pendidikan (untuk SD) atau Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (untuk SMP).
b. Anggota kepengurusan inti melibatkan wanita dengan jumlah yang proporsional sesuai dengan kondisi di lapangan yang merupakan kombinasi antara ketua, bendahara, sekretaris dan koordinator program.
c. Kelompok kerja masih aktif melaksanakan kegiatan setidaknya dalam satu tahun terakhir (ditunjukkan oleh adanya lampiran daftar hadir pertemuan-pertemuan secara periodik, laporan, dan bukti fisik hasil pelaksanaan kegiatan).
d. Mempunyai rekening pada bank pemerintah atas nama kelompok kerja (bukan atas nama pribadi).
e. Memiliki sistem manajemen yang transparan dan akuntabel serta mampu menggali dukungan dalam berbagai aspek dari sekolah, masyarakat dan pemerintah daerah (dibuktikan dengan menyerahkan contoh laporan keuangan untuk 1 tahun terakhir).

B. Penggunaan dan Pertanggungjawaban Dana
Dana yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut harus dipergunakan sebagaimana yang telah direncanakan dalam RKA. Penggunaan dana tersebut harus dipertanggungjawabkan kepada pemberi dana sesuai dengan aturan yang berlaku.

GLOSARIUM
(Daftar kata atau istilah dengan penjelasannya dalam bidang tertentu)
Analisis data : penelaahan (pemeriksaan) dan penguraian data hingga menghasilkan simpulan. Analisis deskriptif (kualitatif atau kuantitatif) : penguraian data secara deskripsi; deskripsi: pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci. kuantitatif: berdasarkan jumlah atau banyaknya; kualitatif: berdasarkan kualitas, biasanya diungkapkan dengan kata-kata, istilah atau kalimat: baik, buruk, kurang, sebagian besar, dsb. Contoh: data kualitatif dari hasil observasi pembelajaran dalam PTK: sebagian besar siswa masih belum memahami penjelasan guru; guru masih terlalu banyak bicara sehingga siswa menjadi tidak aktif, dst. Anekdot : cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Bahan ajar : adalah informasi ringkas dalam bentuk narasi atau power point yang dimuat atau dilampirkan dalam Buku Bahan Belajar Mandiri yang gunakan secara langsung dalam kegiatan belajar (tatap muka) untuk memahami topik pembelajaran. BERMUTU (Program) : Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading atau peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru atau suatu program digagas oleh Ditjen PMPTK, Ditjen DIKTI, Balitbang Depdiknas dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Belanda (melalui Dutch Trust Fund) dan Bank Dunia (pinjaman lunak melalui IDA Credit dan IBRD Loan), serta dana pendampingan yang berasal dari Pemerintah Pusat dan Daerah. Buku kerja guru : adalah buku yang berisi rekaman kegiatan, hasil dan kemajuan yang dicapai oleh guru, serta kendala dalam mengikuti kegiatan Program BERMUTU. Buku ini menjadi portofolio atau salah satu bagian dari portofolio yang disusun oleh guru. Case Study (Studi Kasus) : rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas yang dapat memberikan contoh nyata tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembelajaran Catatan anekdotal : catatan-catatan singkat tentang kejadian-kejadian yang menarik dari observasi proses pembelajaran, yang akan digunakan untuk melengkapi data PTK. CLCC : Creating Learning Community for Children, suatu program peningkatan mutu pendidikan dasar atas kerjasama Depdiknas dengan UNICEF dan UNESCO. DBE : Decentralized Basic Education, suatu program peningkatan mutu pendidikan dasar atas kerjasama Depdiknas dengan USAID (Lembaga Bantuan Luar Negeri Pemerintah Amerika Serikat) Ditbindiklat : Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Latihan; salah satu direktorat yang ada di bawah naungan Direkrorat Jenderal PMPTK – Depdiknas. Diskusi kelompok kecil atau berpasangan : Diskusi yang dilakukan oleh 2 – 3 orang guru untuk saling mengemukakan dan memberi masukan atau membahas hasil kerja masing-masing. Diskusi refleksi : diksusi yang dilakukan dalam rangka membahas proses dan hasil pelaksanaan pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan para observer. Diskusi dilakukan secara formal, yang bertugas memimpin diskusi (moderator), notulis, refleksi dari guru model dan komentar dari para observer. Guru Inti : guru terpilih yang telah dilatih untuk menjadi pemandu atau fasilitator bagi guru-guru yang lain dalam kegiatan di MGMP di wilayahnya. Guru model : guru yang melaksanakan pembelajaran (dalam bentuk open class) untuk diamti oleh guru yang lain atau observer. Hipotesis : jawaban sementara atau dugaan terhadap masalah yang diteliti yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat keberhasilannya. Hipotesis tindakan : adalah dugaan mengenai perubahan yang mungkin terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Hand out : informasi tertulis (cetak) yang diberikan kepada peserta pendidikan atau pelatihan yang berisi ringkasan materi atau latihan-latihan. ICT/IT : Information and Communication Technology/ Information Technology. Indikator : tanda-tanda yang dapat memberikan (menjadi) petunjuk atau keterangan tentang ketercapaian tujuan pembelajaran. Interpretasi : penafsiran berdasarkan pendapat/pandangan teoritis tertentu tehadap sesuatu data atau hasil analisis data. Kajian pengajaran : kegiatan mencermati proses atau kegiatan belajar mengajar untuk menganalisis aspek-aspek kurikulum, materi ajar, dan praktik pembelajarannya. Kajian pustaka : bagian dari proposal dan laporan penelitian yang berisi landasan teori yang digunakan untuk menyusun hipotesis tindakan dan pemecahan masalah dalam penelitian. Kajian pustaka disusun melalui kegiatan membaca, menelaah dan merujuk konsep-konsep yang terkait dengan tema penelitian dari buku teks, majalah ilmiah, hasil penelitian, hasil survai, informasi di media masa, CD/VCD atau pengalaman praktis peneliti/penulis. Kajian kritis : suatu kegiatan membaca, menelaah, menganalisis suatu bacaan/artikel untuk memperoleh ide-ide, penjelasan, data-data pendukung yang mendukung pokok pikiran utama, serta memberikan komentar terhadap isi bacaan secara keseluruhan dari sudut pandang kepentingan pengkaji. KKG : Kelompok Kerja Guru, adalah suatu organisasi profesi guru non yang bersifat struktural yang dibentuk oleh guru-guru di Sekolah Dasar, di suatu wilayah atau gugus sekolah sebagai wahana untuk saling bertukaran pengalaman guna meningkatkan kemampuan guru dan memperbaiki kualitas pembelajaran. Klarifikasi : penjernihan, penjelasan dan pengembalian kepada apa yang sebenarnya terjadi dalam proses pembelajaran yang diamati. Kolaboratif : kegiatan yang bersifat kerjasama antara guru dan guru, atau guru dengan pihak-pihak lain, seperti dengan dosen, kepala sekolah, pengawas, widyaiswara, atau pejabat dinas pendidikan. Kompetensi : (competence=cakap, berkuasa memutuskan, atau berwewenang); kemampuan guru untuk melaksanakan tugas pembelajaran dan pendidikan. Kompetensi dapat pula diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Komunitas belajar (learning community) : adalah suatu komunitas di lingkungan sekolah yang di dalamnya berlangsung proses saling belajar membelajarkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara guru dengan guru, antara guru dengan kepala sekolah, dan antara sivitas sekolah dengan masyarakat. Lesson Study : Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson Study di Indonesia dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu: Plan (merencanakan pembelajaran), Do (melaksanakan yang diobservasi), dan See (merefleksikan berdasarkan hasil observasi) LKS : Lembar Kerja Siswa; suatu panduan belajar yang berisi petunjuk kerja, tugas-tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan siswa. MBE : Managing Basic Education, suatu program peningkatan mutu pendidikan dasar atas kerjasama Depdiknas dengan USAID dan RTI. Metode pembelajaran : cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran berdasarkan pendekatan yang telah ditentukan. MGMP : Musyawah Guru Mata Pelajaran, awalnya disebut Musyawarah Guru Bidang Studi, adalah suatu organisasi profesi guru yang bersifat non struktural yang dibentuk oleh guru-guru di Sekolah Menengah (SLTP atau SLTA) di suatu wilayah sebagai wahana untuk saling bertukaran pengalaman guna meningkatkan kemampuan guru dan memperbaiki kualitas pembelajaran. Narasi/naratif : pengisahan suatu cerita atau kejadian dalam proses atau kegiatan belajar mengajar. Narasi dapat juga diartikan sebagai deskripsi suatu kejadian atau peristiwa; naratif: bersifat narasi. NTT PEP : Nusa Tenggara Timur Primary Education Partnership, suatu program kerjasama antara Pemerintah NTT dengan AUSAID dalam peningkatan mutu pendidikan dasar. Observasi pembelajaran : kegiatan mengamati proses atau kegiatan pembelajaran (belajar-mengajar) mulai dari pelajaran dibuka sampai diakhir oleh guru. Dalam konteks umum, termasuk dalam Program BERMUTU, observasi pembelajaran difokuskan pada semua aspeks yang terkait dengan pembelajaran mulai dari langkah-langkah guru, kegiatan siswa, sarana/media, sampai pada proses belajar mengajar secara keseluruhan. Namun, dalam konteks Lesson Study observasi pembelajaran lebih difokuskan pada aktivitas belajar siswa. Open class : kegiatan membuka kelas atau pelajaran untuk diamati oleh para observer (guru, dosen, kepala sekolah, pengawas sekolah, pimpinan dinas pendidikan, maupun masyarakat umum), yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan diskusi refleksi. PAKEM : Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenang. Bahan Belajar Mandiri BERMUTU : adalah suatu kesatuan bahan ajar bagi guru pada kegiatan KKG/MGMP dalam Program BERMUTU yang berisi: Bahan Belajar Mandiri Generik dan Bahan Belajar Mandiri per Bidang Studi. Bahan Belajar Mandiri Generik : adalah Bahan Belajar Mandiri bagi guru pada kegiatan KKG/MGMP dalam Program BERMUTU, yang berisi panduan untuk berlatih melaksanakan upaya peningkatan pembelajaran melalui pendekatan PTK, Lesson Study dan Case Study, yang diperuntukan bagi pemandu dan guru anggota Bahan Belajar Mandiri Bidang Studi (Tematik, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris) : Bahan Belajar Mandiri bagi guru pemandu atau guru secara umum dalam Program BERMUTU yang digunakan untuk bidang studi dan jenjang tertentu. Isi Bahan Belajar Mandiri generik adalah tuntunan tahapan belajar melaksanakan tahapan perbaikan pembelajaran. Pemandu : adalah guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, widyaiswara, atau dosen yang bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar Model BERMUTU di KKG/MGMP. Pemaparan data : merupakan suatu proses atau upaya untuk menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, tabel, grafik, atau perwujudan lainnya yang dapat memberikan gambaran jelas tentang proses dan hasil tindakan yang dilakukan. Pembelajaran : proses, cara, perbuatan menjadikan orang belajar. Istilah pembelajaran lebih banyak dipakai berkaitan dengan pendangan/filosofi konstruktivistik dalam sistem pendidikan di Indonesia, yang intinya dalam kegiatan belajar mengajar guru harus menempatkan siswa sebagai subyek dalam belajar. Artinya guru harus mengkondisikan dan mendorong siswa agar dapat belajar sesuatu dengan fasilitas yang telah disiapkan. Dalam konteks ini tidak tepat lagi menggunakan istilah “guru mengajar siswa” tetapi “guru membelajarkan siswa”. Pendekatan pembelajaran : ide yang mendasari proses pembentukan atau pengembangan pengetahuan siswa untuk mencapai sasaran pembelajaran/pendidikan Pleno : suatu forum yang diikuti oleh semua peserta kegiatan. PMPTK : Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan; salah satu Direktorat Jenderal di Depdiknas yang bertanggung jawab pada upaya peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan (kepala sekolah, pengawas dan tenaga adminstrasi) Portofolio : kumpulan hasil karya atau latihan yang dilakukan oleh guru dalam mengikuti kegiatan Program BERMUTU. Dari portofolio dapat diikuti perkembangan atau kemajuan seorang guru dalam mengerjakan kegiatan atau latihan.
Profesionalisme guru : adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri profesi guru atau guru yang profesional. Profesi adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan tertentu. Guru yang profesional = guru yang bermutu/berkualitas. Proposal : usulan kegiatan/program, atau penelitian (PTK) PTK : Penelitian Tindakan Kelas, adalah penelitian reflektif yang dilaksanakan secara siklis (berdaur) oleh guru atau dosen. PTK dimulai dari tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi. Jika hasil refleksi menuntut adanya tindak lanjut maka penelitian dimulai dari pencanaan lagi. PTK Model BERMUTU : suatu kegiatan perbaikan kualitas pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PTK, Lesson Study dan Case Study melalui kegiatan KKG atau MGMP. Rambu-rambu diskusi refleksi : aturan-aturan umum yang harus diikuti agar kegiatan diskusi refleksi berjalan interaktif, efesien dan mencapai hasil yang diharapkan. Rambu-rambu observasi : aturan-aturan umum yang harus diikuti agar kegiatan observasi berjalan lancar tanpa mengganggu proses pembelajaran dan memperoleh data atau hasil observasi. Refleksi (dalam PTK) : merupakan kegiatan analisis -sintesis (mengurai, mengkaitkan, membandingkan dengan teori dan pengalaman), interpretasi dan eksplanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Refleksi=cerminan atau pantulan. Refleksi diri : kegiatan untuk merenungkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan peningkatan atau kemajuan yang dicapai oleh seseorang setelah mengikuti tahapan kegiatan belajar. Rekomendasi : saran yang menganjurkan dan menguatkan untuk dilakukan. Reliabilitas : keajegan atau kerandalan, ketelitian dan ketepatan pengukuran, menyangkut instrumen/alat ukur dan hasilnya yang dapat dipercaya Rencana tindakan : adalah tahapan PTK dimana guru menyusun rencana pembelajaran (RPP dan perangkatnya) dengan mempertimbangkan pendekatan, metode, strategi, materi, dan media untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran. RPP : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, suatu panduan yang berisi rencana langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru bersama siswa. Ruang lingkup : luasnya subyek yang tercakup dalam kajian atau penelitian (PTK). SEQIP : Science Education Quality Improvement Project, statu program untuk meningkatkan kualitas pendidikan sains di Sekolah Dasar yang dilaksanakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dengan bantuan teknis dari Pemerintah Jerman. Skenario pembelajaran : tahapan atau langkah-langkah pelaksanaan strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru. Strategi pembelajaran : usaha untuk mendayagunakan metode-metode pembelajaran yang telah dipilih untuk mencapai target pembelajaran secara efektif Subyek penelitian : adalah siswa dalam satu kelas yang akan diperbaiki kualitas pembelajarannya. Sumber belajar : semua bahan (cetak/tulis, softdocument, video, kaset, dsb.) yang dapat digunakan sebagai sumber informasi atau sarana untuk mempelejari sesuatu konsep oleh siswa atau peserta didik. Sumber belajar untuk mendukung implementasi Bahan Belajar Mandiri ini telah dikemas dalam bentuk Hardcopy (buku) dan Softcopy (file). Tugas mandiri : tugas yang dilakukan secara individu oleh guru peserta belajar/pelatihan untuk memperluas wawasan atau pengetahuan tentang topik yang telah dipelajari, yang waktunya tidak dibatasi. Tugas terstruktur : tugas yang harus dilakukan oleh guru peserta pelatihan sebagai tindak lanjut dari kegiatan tatap muka untuk menyelesaikan tahapan belajar agar diperoleh hasil yang maksimal, yang waktunya dibatasi sekitar 60% dari tatap muka. Triangulasi : proses melakukan valiadasi data atau informasi yang diperoleh dengan melakukan cek, recek, dan cek silang antara guru peneliti dan guru pengamat untuk memperoleh kesimpulan objektif. Validasi : kegiatan untuk menguji atau memberikan bukti empirik apakah pernyataan keyakinan yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan itu benar. Validasi instrumen adalah kegiatan untuk menguji kesesuian alat ukur dengan apa yang seharusnya diukur. Variabel= peubah : sesuatu atau faktor yang nilainya dapat berubah atau yang ikut menentukan perubahan. Dalam kaitannya dengan PTK variabel bebasnya adalah tindakan yang diplih untuk memperbaiki pembelajaran, sementara variabel terikat adalah perubahan yang terjadi setelah dilaksanakannya tindakan. Validitas: : kesahihan, atau sifat benar menurut bahan bukti yang ada