NEUROPATI DIABETES Case Repor

NEUROPATI DIABETES
Case Report
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing:
dr. Listyo Asist Pujarini, M.Sc, Sp.S
dr. Eddy Rahardjo, Sp.S

Diajukan Oleh:
Reni Febriana, S. Ked
J500100066
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
NEUROPATI DIABETES
Case Report
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Oleh:
Reni Febriana, S. Ked
J500100066
Telah diajukan dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta pada hari ………………….. tanggal ……….. Mei 2014.

Pembimbing
dr. Listyo Asist Pujarini, MSc, Sp. S dr. Eddy Rahardjo, Sp.S

Mengetahui
Kepala Program Profesi
FK UMS

dr. D. Dewi Nirlawati
BAB I
CASE REPORT

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. Sgy
Umur : 50 tahun
Alamat : Mojogedang, Karanganyar
Agama : Islam
Pekerjaan : Pekerja pabrik
MRS : 31- 05-2014

B. Anamnesis
Autoanamnesis.
Keluhan utama: Kaki terasa jimpe-jimpe 4 hari yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang:
* 1 Tahun SMRS –> Pasien pernah mondok ke rumah sakit dengan keluhan kaki berdarah di ibu jarinya tanpa merasakan sakit. Pada saat itu diperiksa kadar gula darahnya ternyata tinggi. Sebelumnya pasien tidak tahu bahwa menderita penyakit gula, pasien hanya sering periksa ke puskesmas dengan keluhan darah tinggi karena pasien menderita hipertensi sudah dari muda. Bulan-bulan selanjutnya pasien tidak pernah mengontrol kadar gulanya maupun periksa gula dara, hanya berobat hipertensi. Pasien sudah mengikuti pengurangan porsi makan nasi putih dan tidak terlalu kenyang saat makan, mengurangi konsumsi gula.
* 2 Bulan SMRS –> Pasien merasakan badan lemes, pusing, melihat sesuatu berasa kecil, kemudian periksa gula darah sewaktu ± 500 mg/dl. Kemudian diberi obat untuk gula oleh dokter. Setelah itu pasien merasa enakan. Bulan selanjutnya pasien tidak memeriksakan kadar gulanya.
* 1 Hari SMRS –> Badan mulai terasa lemas, tapi tidak dirasa, masih bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Kaki terasa nyeri untuk berjalan, perut terasa senep.
* HMRS –> Sekitar jam 8 malam pasien merasa jalan mengambang tidak bisa tegep, nyeri kaki mulai kanan kiri, gemetar dan keringat dingin. Setiap melihat sesuatu merasa lebih kecil dan pandangan kabur. Keluhan lain seperti mual (-), muntah (-), nyeri kepala (-), nafsu makan menurun. BAB dan BAK lancar seperti biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu:
* Riwayat penyakit serupa (+)
* Riwayat trauma (-)
* Riwayat hipertensi (+)
* Riwayat DM (+)
* Riwayat asam urat (-)
* Riwayat kolesterol (-)
* Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat Penyakit Keluarga:
* Riwayat hipertensi (+)
* Riwayat DM (+)
* Riwayat alergi (-)
Anamnesis Sistem:
* Sistem serebrospinal: nyeri kepala (-), penurunan kesadaran (-)
* Sistem kardiovaskuler: nyeri dada (-), berdebar-debar (-)
* Sistem respirasi: sesak (-), batuk (-), pilek (-)
* Sistem gastrointestinal: mual (-), muntah (-), nyeri perut (-), diare (-)
* Sistem muskuloskeletal: nyeri otot (-), kelemahan anggota gerak (+)
* Sistem integumen: ruam (-), gatal (-)
* Sistem urogenital: disuria (-), poliuria (-)
Resume Anamnesis:
1 tahun yang lalu pasien pernah mondok dengan keluhan ibu jari kaki berdarah tidak terasa, pasien tidak pernah mengontrol gula darah setelah pulang dari RS, sekarang pasien mengeluh jalan mengambang tidak bisa tegep, nyeri kaki saat berjalan, gemetar dan keringat dingin. Setiap melihat sesuatu merasa lebih kecil dan pandangan kabur. Keluhan lain seperti mual (-), muntah (-), nyeri kepala (-), nafsu makan menurun. BAB dan BAK lancar seperti biasa
C. Pemeriksaan Fisik
1. Status Generalis
TD = 160/ 100
N = 80 x/menit
S = 37 ?C
Keadaan Umum : cukup
Status gizi : Baik
Kepala : Bentuk dan ukuran normal
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil (3mm/3mm), pupil (isokor, isokor)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-/-), simetris, tekanan vena jugularis tidak terlihat
Paru-Paru
Inspeksi : pergerakan nafas simetris kanan dan kiri, tidak ad retraksi otot-otot pernapasan.
Palpasi : Fremitus sama di paru kanan dan kiri.
Perkusi : Sonor pada seluruh lapangan paru.
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+), ronkhi -/-, wheezing
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di SIC V linea midclavikularis sinistra.
Perkusi : Redup
Auskultasi : BJ 1/II murni reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Darm contour (-), darm seiffung (-), simetri, tidak ada bekas luka.
Auskultasi : peristaltik usus normal.
Palpasi : Tidak nyeri tekan, tidak ada pembesaran hepar dan lien.
Perkusi : Timpani di seluruh kuadran abdomen.

2. Status Neurologik
Kesadaran : compos mentis
Kuantitatif : GCS (E4, V5, M6)
Kualitatif :
a. Tingkah laku : baik
b. Perasaan hati : baik
c. Orientasi : baik (tempat, waktu, orang, sekitar)
d. Jalan pikiran : baik
e. Kecerdasan : cukup
f. Daya ingat kejadian : baik (baru dan lama)
g. Kemampuan bicara : baik
h. Sikap tubuh : normal
i. Gerakan abnormal : tidak ada

Kepala
Bentuk : normochepal
Ukuran : normal
Simetri : (+)
Nyeri tekan : (-)
Leher
Sikap : normal
Gerakan : bebas
Kaku kuduk : (-)
Bentuk vertebra : normal
Nyeri tekan bertebra : (-)
Pulsasi : normal
Bising karotis : (-/-)
Bising subklavia : (-/-)
Tes Brudzinki: (-)
o Tes Nafziger: (-)
o Tes Valsava: (-)

Saraf cranial :
a. N. I (olfaktorius)
Kanan Kiri Daya Pembau N N
b. N. II
Kanan Kiri Daya penglihatan N N Pengenalan warna N N Medan penglihatan N N Fundus okuli Tidak dilakukan Tidak dilakukan Papil Tidak dilakukan Tidak dilakukan Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan Arteri/vena – – Perdarahan – –
d. N. III (okulomotorius)
Kanan Kiri Ptosis – – Gerakan mata ke medial N N Gerakan mata ke atas N N Gerakan mata ke bawah N N Ukuran pupil 3 mm 3 mm Bentuk pupil Isokor Isokor Reflek cahaya langsung + + Reflek cahaya konsekuil + + Reflek akomodatif Tidak dilakukan Tidak dilakukan Strabismus divergen – Diplopia – e. N. IV (trokhlraris)
Kanan Kiri Gerakan mata ke lateral bawah + + Strabismus konvergen – Diplopia –
f. N. V (trigeminus)
Kanan Kiri Menggigit + + Membuka mulut + + Sensibilitas muka atas + + Sensibilitas muka tengah + + Sensibilitas muka bawah + + Reflek kornea + + Reflek bersin + + Reflek zigomatkus – – Trismus + + g. N. VI (abdusen)
Kanan Kiri Gerakan mata ke lateral + + Strabismus konvergen – Diplopia – h. N. VII (fasialis)
Kanan Kiri Kerutan kulit dahi + + Kedipan mata + + Lipatan naso-labial + + Sudut mulut + + Mengerutkan dahi + + Mengerutkan alis + + Menutup mata + + Meringis + + Mengembungkan pipi + + Tik fasial – – Lakrimasi – – Daya kecap lidah 2/3 depan + + Reflek visuo-palpebra – – Reflek glabella – – Reflek aurikulo-palpebra – – Tanda myerson – – Tanda chovstek – – Bersiul + +
i. N. VIII (akustikus)
Kanan Kiri Mendengar suara berisik + + Mendengar suara detik arloji + + Tes weber Lateralisasi (-) Lateralisasi (-) Tes rinne + + Tes schwabah + + j. N. IX (glosofaringeus)
Kanan Kiri Arkus faring Uvula di tengah Uvula di tengah Daya kecap lidah 1/3 belakang + + Reflek muntah + + Sengau – – Tersedak – – k. N. X (vagus)
Kanan Kiri Arkus faring Uvula di tengah Uvula di tengah Nadi N N Bersuara + + Menelan + + l. N. XI (aksesorius)
Kanan Kiri Memalingkan kepala + + Sikap bahu N N Mengangkat bahu + + Trofi otot bahu eutrofi eutrofi m. N. XII (hipoglosus)
Kanan Kiri Sikap lidah N N Artikulasi N N Tremor lidah – – Menjulurkan lidah + + Kekuatan lidah + + Trofi otot lidah N N Fasikulasi lidah – –
Badan
a. Trofi otot punggung : normal
b. Trofi otot dada : normal
c. Nyeri membungkukkan badan : (-)
d. Palpasi dinding perut : normal
e. Kolumna vertebralis : bentuk normal, gerakan bebas, nyeri tekan (-)

Anggota Gerak Atas :
a. Inspeksi:
Kanan Kiri Drop hand – – Pitcher’s hand – – Warna kulit Coklat Coklat Claw hand – – Kontraktur – – Palpasi: tidak ada kelainan

b. Lengan atas:
Kanan Kiri Gerakan Bebas Bebas Kekuatan +5 +5 Tonus N N Trofi N N
c. Lengan bawah:
Kanan Kiri Gerakan Bebas Bebas Kekuatan +5 +5 Tonus N N Trofi N N

d. Tangan:
Kanan Kiri Gerakan Bebabs Bebas Kekuatan +5 +5 Tonus N N Trofi N N
e. Sensibilitas
Lengan atas kanan Lengan atas kiri Lengan bawah kanan Lengan bawah kiri Tangan kanan Tangan kiri Nyeri + + + + ? ? Termis + + + + ? ? Taktil + + + + ? ? Diskriminasi + + + + ? ? Posisi + + + + ? ? Vibrasi + + + + ? ?
Biceps Triceps Reflek fisiologis +/+ +/+ Perluasan reflek -/- -/- Reflek silang -/- -/-
Anggota Gerak Bawah
Inspeksi:
Kanan Kiri Drop foot – – Udem – – Warna kulit Coklat Coklat Kontraktur – – Palpasi: tidak ada kelainan

a. Tungkai atas:
Kanan Kiri Gerakan Bebas Bebas Kekuatan +5 +5 Tonus N N Trofi N N b. Tungkai bawah:
Kanan Kiri Gerakan Bebas Bebas Kekuatan +5 +5 Tonus N N Trofi N N c. Kaki:
Kanan Kiri Gerakan Bebas Bebas Kekuatan +4 +4 Tonus N N Trofi N N d. Sensibilitas
Tungkai atas kanan Tungkai atas kiri Tungkai bawah kanan Tungkai bawah kiri Kaki kanan Kaki kiri Nyeri + + + + ? ? Termis + + + + ? ? Taktil + + + + ? ? Diskriminasi + + + + ? ? Posisi + + + + ? ? Vibrasi + + + + ? ?
Patela Achilles Reflek fisiologis +/+ -/- Perluasan reflek -/- -/- Reflek silang -/- -/-
Kanan Kiri Babinski – – Chaddock – – Oppenheim – – Gordon – – Schaeffer – – Rossolimo – – Mendel Bechterew – – Kanan Kiri Tes Lasegue – – Tes O’Connel – – Tes Patrick – – Tes Kontra Patrick – – Tes Gaenslen – – Tes Kernig – – Klonus paha – – Klonus kaki – –
e. Koordinasi, langkah, dan keseimbangan:
1. Cara berjalan : normal
2. Tes Romberg : (-)
3. Ataksia : (-)
4. Diskiadokhokinesis : (-)
5. Rebound fenomen : (-)
6. Nistagmus : (-)
7. Dismetri:
Tes telunjuk hidung : (-)
Tes hidung-telunjuk-hidung : (-)
Tes telunjuk-telunjuk : (-)
Gerakan abnormal : tremor (-)

f. Fungsi Vegetatif:
1. Miksi : inkontinensia (-), retensi urin (-), anuria (-), poliuria (-)
2. Defekasi : inkontinensia alvi (-), retensio alvi (-)

D. Pemeriksaan Penunjang

Jenis pemeriksaan Hasil Hb 10,6 (L) Hct 20,2 (L) Lekosit 8,5 Trombosit 287 Eritrosit 3,38 (L) MPV 5,1 (L) PDW 18,1 (H) MCV 83,4 MCH 31,4 (H) MCHC 37,6 (H) Limfosit% 25,5f2 (L) Monosit% 8,2f2 (L) Limfosit# 2,2 Monosit# 0,7 Gran% 66,3 Gran# 5.6 GDS 246 (H)
E. Resume Pemeriksaan
KU : Baik
Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)
Nn. Cranialis : normal (+/+)
Tanda meningeal : (-)
Kaku kuduk : (-)
Kanan Kiri Reflek fisiologi + + + + Reflek patologis – – – – Kekuatan Otot +5 +5 +5 +5 Tonus otot N N N N Trofi otot N N N N Gerakan Bebas Bebas Bebas Bebas Klonus – – Sensibilitas + + ? ?
F. Diagnosis
Penegakan neuropati diabetika selain dari WHO, dapat pula ditegakkan berdasarkan consensus San Antonio. Pada consensus tersebut telahdirekomendasikan bahwa paling sedikit 1 dari 5 kriteria yaitu symptom scoring, physical examination scoring, quantitative sensoring test,cardiovascular autonomic function testing dan electro-diagnostic studies. Pemeriksaan symptom scoring dan physical examination scoring yangtelah terbukti memiliki sensitifitas dan spesifitas tinggi untuk mendiagnosis neuropati diabetika adalah skor Diabetic NeuropathySymptom (DNS) dan skor Diabetic Neuropathy Examination (DNE).
1. Diabetic Neuropathy Examination (DNE)
Sebuah sistem skor untuk mendiagnosa polineuropati distal pada diabetesmellitus
No Jenis Pemeriksaan Keterangan 1 Kekuatan m. Quadriceps femoris (ekstensi sendi lutut) Kekuatan 0-5 2 Kekuatan m. Tibialis anterior (dorsofleksi kaki) Kekuatan 0-5 3 Reflek tendo achiles Kekuatan 0-5 4 Sensitivitas ibu telunjuk tangan (terhadap sentuhan jarum) N / ? / – 5 Sensitivitas ibu jari kaki (terhadap sentuhan raba) N / ? / – 6 Sensitivitas ibu jari kaki (persepsi getar dengan garpu tala) N / ? / – 7 Sensitivitas jari kaki (terhadap tusukan jarum N / ? / – 8 Sensitivitas ibu jari ( terhadap posisi sendi N / ? / –
Skor 0 : normal
Skor 1 : defisit ringan atau sedang (kekuatan otot 3-4, reflek dan sensitivitas menurun )
Skor 2 : defisit berat (kekuatan otot 0-2, refleks dan sensitivitas negatif/ tidak ada.
Nilai maximal 16
Kriteria diagnosis untuk neuropati bila >3 dari 16

Diabetic Neuropathy Syndrome ( DNS)
Skor DNS merupakan 4 poin yang bernilai untuk skor gejala, dengan predileksi nilai yang tinggi untuk menyaring polineuropati pada diabetes.
No Anamnesa Skor (DNS) 1 Jalan tidak stabil Ya = 1 Tidak = 0 2 Kesemutan atau tebal Diagnosis ND = 1 3 Nyeri seperti ditusuk jarum 4 Nyeri terbakar / nyeri tekan
Diagnostik neuropati ditegakkan berdasarkan adanya gejala dua atau lebihdari empat kriteria dibawah ini : (Sjahrir,2006)1. Kehadiran satu atau lebih gejala2. Ketidakhadiran dua atau lebih refleks ankle atau lutut3. Nilai ambang persepsi getaran/vibration-abnormal.4. Fungsi otonomik abnormal (berkurangnya heart rate variability (HRV)dengan rasio RR kurang dari 1,04 postural hypotension dengan turunnyatekanan darah sistolik 20 mmHg atau lebih, atau kedua-duanya)

2. Diagnosis Banding
Stroke Hemoragik Stroke Non Hemoragik Permulaan Sangat akut Subakut Waktu serangan Aktif Tidak aktif Peringatan sebelumnya ++ ++ Muntah ++ – Kejang ++ – Penurunan kesadaran ++ – Bradikardi +++ (hari I) + (hari IV) Perdarahan retina ++ – Papil edem + – Rangsangan meningeal ++ – Ptosis ++ – Lokasi (topis) Sub kortikal Sub/ kortikal Siriraj score >1 <1
Tumor otak:
Gejala neoplasma atau tumor pada otak dapat dibagi dalam 3 kategori utama:
a. Meningkatnya Tekanan Intrakranial (Rongga Otak): sakit kepala, muntah (kadang-kadang tanpa mual), kondisi kesadaran yang menurun (penderita senantiasa mengantuk, koma), pembesaran pupil mata pada sisi yang menderita (anisocoria), cakram optik menonjol pada pemeriksaan funduskopi mata (papilledema).
b. Kalainan fungsi tergantung pada lokasi tumor dan kerusakan yang menyebabkan struktur otak sekitarnya dapat terganggu, berupa kompresi atau infiltrasi. Semua jenis gejala neurologik dapat terjadi, seperti; gangguan kognitif dan perilaku berupa: kehilangan memori, kurangnya, gangguan orientasi, gangguan kepribadian atau emosi perubahan, kelumpuhan, kehilangan rasa, gangguan berbicara, gangguan penglihatan, gangguan penciuman, gangguan pendengaran, kelumpuhan wajah, penglihatan ganda, tetapi gejala yang lebih parah juga mungkin terjadi seperti: kelumpuhan pada satu sisi bagaian tubuh.
c. Iritasi: yang ditandai dengan, kelelahan, tremor, bahkan epilepsi.
3. Usulan Pemeriksaan Penunjang
CT-scan
EKG
Pemeriksaan laboratorium: GDS, kolesterol, asam urat
4. Terapi:
Medikamentosa:
Monitor KU/VS
Infus RL 20tpm
Neuroprotektan: citicolin 1000mg/12 jam
Antiplatelet: clopidrogel 75 mg/hari
Vitamin B1 dan B6
Non Medikamentosa:
Fisioterapi
5. Prognosa
Death: dubia ad bonam
Disease: dubia ad malam
Disability: dubia ad malam
Discomfort: dubia ad malam
Disatisfication: dubia ad malam
L
esi pada saraf perifer akan menimbulkan enam tingkat kerusakan yaitu:(Brushart, 2002)1.

Grade 1 (Neuropraksia)Kerusakan yang paling ringan, terjadi blok fokal hantaran saraf, gangguanumumnya secara fisiologis, struktur saraf baik. Karena tidak terputusnyakontinuitas aksoplasmik sehingga tidak terjadi degenerasi wallerian.Pemulihan komplit terjadi dalam waktu 1

2 bulan.2.

Grade II (aksonometsis)Kerusakan pada akson tetapi membrana basalis (Schwann cell tube), perineurium dan epineurium masih utuh. Terjadi degenerasi wallerian didistal sampai lesi, diikutu dengan regenerasi aksonal yang berlangsung 1inch per bulan. Regenerasi bisa tidak sempurna seperti pada orang tua.3.

Grade IIISeperti pada grade II ditambah dengan terputusnya membrana basalis(Schwann cell tube). Regenerasi terjadi tetapi banyak akson akan terblokoleh skar endoneurial. Pemulihan tidak sempurna.

12
4.

Grade IVObliterasi endoneurium dan perineurium dengan skar menyebabkankontinuitas saraf berbagai derajat tetapi hambatan regenerasi komplit.5.

Grade VSaraf terputus total, sehingga memerlukan operasi untuk penyembuhan.6.

Grade VIKombinasi dari grade II-IV dan hanya bisa didiagnosa dengan pembedahan
Follow Up
4-05-2014
05-05-2014
06-05-2014
07-05-2014
S Pasien mengeluh bicara susah sejak kurang lebih 2 bulan yang lalu. Pasien kesulitan mengeluarkan kata-kata tetapi mengerti isi pembicaraan. Jika mengatakan kalimat yang panjang, pasien tiba-tiba terhenti pembicaraannya. Pasien juga mengeluh susah menelan.
Pasien mengeluh kepala terasa mumet, menelan masih sulit, makan sulit, perut sakit, nafsu makan berkurang
Pasien mengeluh bicara susah. Pasien kesulitan mengeluarkan kata-kata tetapi mengerti isi pembicaraan. Jika mengatakan kalimat yang panjang, pasien tiba-tiba terhenti pembicaraannya. Kaki dan tangan kanan masih kesemutan.
Pasien mengeluh bicara susah. Pasien kesulitan mengeluarkan kata-kata tetapi mengerti isi pembicaraan. Jika mengatakan kalimat yang panjang, pasien tiba-tiba terhenti pembicaraannya.
O KU: baik, Kesadaran: CM, K/L: dbn,
Tho: dbn, Abd: dbn,
TD: 110/70, N: 72,
RR: 18, S: 36,2
Nn. cranialis: normal (+/+)
Tanda meningeal: (-)
Kaku kuduk: (-)
Ka Ki Reflek fisiologi + + + + Reflek patologis – – – – Kekuatan Otot +4 +5 +4 +5 Tonus otot N N N N Trofi otot N N N N Gerakan Terbatas Bebas Terbatas Bebas Klonus – – Sensibilitas ? + ? +
KU: baik, Kesadaran: CM, K/L: dbn,
Tho: dbn, Abd: dbn,
TD: 110/70, N: 60,
S: 36,2, RR: 20
Nn. cranialis: normal (+/+)
Tanda meningeal: (-)
Kaku kuduk: (-)
Ka Ki Reflek fisiologi + + + + Reflek patologis – – – – Kekuatan Otot +4 +5 +4 +5 Tonus otot N N N N Trofi otot N N N N Gerakan Terbatas Bebas Terbatas Bebas Klonus – – Sensibilitas ? + ? + KU: baik, Kesadaran: CM, K/L: dbn,
Tho: dbn, Abd: dbn,
TD: 120/70, N: 72,
RR: 20, S: 36,5
Nn. cranialis: normal (+/+)
Tanda meningeal: (-)
Kaku kuduk: (-)
Ka Ki Reflek fisiologi + + + + Reflek patologis – – – – Kekuatan Otot +4 +5 +4 +5 Tonus otot N N N N Trofi otot N N N N Gerakan Terbatas Bebas Terbatas Bebas Klonus – – Sensibilitas ? + ? + KU: baik, Kesadaran: CM, K/L: dbn,
Tho: dbn, Abd: dbn,
TD: 120/70, N: 72,
RR: 20, S: 36,5
Nn. cranialis: normal (+/+)
Tanda meningeal: (-)
Kaku kuduk: (-)
Ka Ki Reflek fisiologi + + + + Reflek patologis – – – – Kekuatan Otot +4 +5 +4 +5 Tonus otot N N N N Trofi otot N N N N Gerakan Terbatas Bebas Terbatas Bebas Klonus – – Sensibilitas ? + ? + A afonia motorik, hemiparese dektra UMN, hemihipestesia dekstra, stroke non hemoragik
afonia motorik, hemiparese dektra UMN, hemihipestesia dekstra, stroke non hemoragik
afonia motorik, hemiparese dektra UMN, hemihipestesia dekstra, stroke non hemoragik
afonia motorik, hemiparese dektra UMN, hemihipestesia dekstra, stroke non hemoragik
P infus RL 20 tpm, aspilet 3×1, injeksi antrain 1 amp/ 8 jam, neurobat 1 gr/ hari, piracetam 3 gr/ 8jam
cipralex 1×1, plethal 100 mg 2×1, necolin 500 mg 2×1, ketese 2×1
aspilet 100 mg 2×1, plethal 100 mg 2×1, neulin 500 mg 2×1, cipralex 2×1, ketese 2×1, nerfeco 2×1
aspilet 100 mg 2×1, plethal 100 mg 2×1, neulin 500 mg 2×1, cipralex 2×1, ketese 2×1, nerfeco 2×1
BLPL

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Neuropati Diabetika
1. Definisi
Neuropati diabetik (ND) merupakan salah satu komplikasi kronis paling sering ditemukan pada diabetes melitus. Risiko yang dihadapi pasien diabetes melitus dengan neuropati diabetik ialah infeksi berulang, ulkus yang tidak sembuh-sembuh dan amputasi jari/kaki.
Neuropati diabetika adalah suatu gangguan pada syarat perifer, otonom dan syaraf cranial yang hubunganya dengan diabetes melitus. Keadaan ini disebabkan oleh kerusakan mikrovaskuler yang disebabkan oleh diabetes yang meliputi pembuluh darah yang kecil-kecil yang memperdarahi syaraf (vasa nervorum). Gangguan neuropati ini termasuk manifestasi somatic dan atau otonom dari system saraf perifer.
2. Etiologi
3. Faktor Risiko
a. Merokok
b. Umur di atas 40 tahun
c. Riwayat kontrol kadar gula darah buruk
d. Lamanya menderita diabetes
e. Hipertensi
f. Dislipidemia
4. Klasifikasi
5. Manifestasi Klinis
Gejala tergantung dari tipe neuropati dan tergantung dari saraf mana yang terkena. Gejala biasanya tidak terlalu kelihatan pada awalnya, dan biasanya gejala karena kerusakan saraf baruterlihat beberapa tahun kemudian. Gejala dapat meliputi sistem saraf sensorik, motorik danotonom. Pada beberapa orang dengan neuropati fokal, onset nyerinya dapat tiba-tiba dan berat.3
Gejala neuropati perifer antara lain : 3,7
a. Rasa tebal atau kurang merasakan nyeri atau suhu
b. Rasa seperti kesemutan, seperti terbakar atau seperti ditusuk-tusuk
c. Nyeri yang tajam terasa di jari kaki, kaki, tungkai, tangan, lengan dan jari tangan
d. Kehilangan keseimbangan dan koordinasi
e. Mengecilnya otot-otot kaki dan tangan
f. Rasa tebal, kesemutan atau nyeri di telapak kaki, kaki, tangan, telapak tangan dan jari-jari
g. Gangguan pencernaan seperti mual, muntah
h. Masalah miksi (inkontinensia urin)
i. Disfungsi ereksi
j. Disesthesia (penurunan atau hilangnya sensibilitas ke tubuh)
k. Diagnosis didasarkan atas hasil:
6. Patologi
Secara morfologik kelainan sel saraf pada neuropati diabetik ini terdapat pada sel-selSchwann selain mielin dan akson. Kelainan yang terjadi terutama tergantung pada derajat danlamanya mengidap DM. Perubahan patologis dasar dalam hubungannya dengan patofisiologineuropati meliputi demielinisasi segmental, degenerasi aksonal dan degenerasi Wallerian.4
a. Demielinisasi Segmental
Segmen-segmen internodal saraf perifer mengalami demielinisasi, sedangakson masih dalam keadaan utuh. Meskipun demieliniasi telah terjadi secara luas,namun seringkali aksonnya tidak mengalami perubahan degeneratif. Seringkalisetelah mengalami demielinisasi, serabut saraf menunjukkan adanya prosesregenerasi berupa remielinisasi, jumlah sel Schwann akan bertambah banyak. Jika proses patologis tersebut berlangsung secara kronis dengan proses demielinisasidan remielinisasi yang berulang-ulang, akan terjadi proliferasi yang konsentrik dari sel Schwann, sehingga satu struktur seperti lapisan bawang merah yang Disebut onion bulb, yang dengan palpasi akan teraba benjolan-benjolan padasaraf.4
2. Degenerasi Aksonal
Penyebab degenerasi aksonal berupa gangguan nutrisi, metabolik atautoksik sehingga mengakibatkan gangguan metabolisme badan sel, transpor aksonal serta fungsi-fungsi lainnya. Bagian ujung distal akson yang pertamamengalami degenerasi dan apabila proses terus berlanjut degenerasi akan berjalanke arah proksimal. Proses ini menimbulkan suatu keadaan yang dikenal sebagai dying back neuropathy.4
3. Degenerasi Wallerian
Suatu trauma mekanik, khemis, termis ataupun iskemik lokal yangmenyebabkan terputusnya satu serabut saraf secara mendadak, akan diikuti olehsuatu proses degenerasi aksonal di sebelah distal tempat terjadinya perlukaan,yang kemudian diikuti terputusnya mielin secara sekunder. Proses tersebutdikenal sebagai degenerasi Wallerian. Kelainan mulai timbul antara 12-36 jamsetelah terjadi perlukaan saraf. Perubahan awal didapatkan pada akson yangterletak di dalam atau di sekitar nodus Ranvier sepanjang saraf disebelah distaldari tempat perlukaan. Perubahan yang sama juga terjadi pada akson di sekelilingnodus Ranvier tepat di sebelah proksimal dari tempat perlukaan. Sel Schwann pada bagian ini akan mengalami proloferasi hebat. Makrofag endoneuron akanmembantu sel Schwann dalam menghancurkan mielin yang rusak
7. Patofisiologi
a. Faktor metabolik
Hiperglikemia –> aktivasi enzim aldose-reduktase–>glukosa d ubah mjd sorbitol –> sorbitol dehidrogenase –> fruktosa –> akumulasi–> hipertonik intraseluler –>edema saraf –>peningkatan sorbitol –> mioinositol terhmbt msk ke sel saraf –> stress osmotik –> merusak mitondria –> aktifasi protein C kinase –> Na-K-ATPase –> penurunan na intraseluler –> ggn transduksi sinyal saraf

Penurunan NaDPh –> penurunan kemampuan mengatasi radikalbebas –> penurunan produksi nitric oxid –> Tbntk AGEs –> toksik thdp sel saraF –> kerusakanaksonal metabolik
i. Penatalaksanaan stroke:

BAB III
ANALISA KASUS

DAFTAR PUSTAKA

3. National Diabetes Information Clearinghouse.Diabetic Neuropathies: The NerveDamage of Diabetes. Diunduh darihttp://diabetes.niddk.nih.gov/dm/pubs/neuropathies/neuropathies.pdf,14 Mei 2012