BAB I PENDAHULUAN A. Latar B

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun, kendati begitu penyakit ini dapat ditemukan pada usia lebih muda 20 – 29 tahun, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sandra Van Loon di RSHS pada tahun 1996 bahwa wanita penderita kanker serviks yang dirawat masih berusia muda saat kawin pertama kali antara usia 15 – 19 tahun (Hilman, 2005). 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Ca Cerviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang tidak normal pada serviks yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (GlaxoSmithKline, 2007). Kanker Serviks atau kanker leher rahim merupakan salah satu penyakit yang paling banyak terjadi bagi wanita. Kanker Serviks sering juga disebut dengan kanker mulut rahim. Kanker Serviks merupakan penyakit kanker kedua terbanyak yang dialami oleh wanita di seluruh dunia. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), 85% dari kasus kanker di dunia, yang berjumlah sekitar 493.000 dengan 273.000 kematian, terjadi di Negara-negara berkembang. Di Indonesia pengidap Ca Cervix adalah terbanyak diantara pengidap kanker lainnya, bahkan di seluruh dunia adalah nomer kedua setelah Cina (FK UGM, 2010).
Berdasarkan penelitian di Jakarta, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya ternyata kanker leher rahim juga menduduki urutan dengan proporsi 25 – 45 % penderita melebihi kanker payudara yang baru mencapai 10 – 20 %. Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI adalah 100 per 100.000 penduduk. Untuk Jakarta sebanyak 7.000 penderita dan kira-kira seperlimanya adalah penderita kanker leher rahim (Tara, 2001). Begitu pula data penderita kanker serviks yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan didapat rata-rata 120 orang penderita kanker serviks yang dirawat perbulan (Laporan Ruangan Rindu B 1 Obgin, 2012). Wanita yang terkena kanker serviks biasanya menyerang di usia 35 – 55 tahun. Pada stadium dini, kanker serviks tidak begitu menimbulkan masalah atau keluhan. Penderita kanker serviks biasanya datang setelah kanker berada pada stadium lanjut dan karena adanya keluhan-keluhan yang dirasakan penderita seperti terjadinya perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan spontan pada masa menopouse, timbulnya keputihan yang banyak dan bercampur dengan darah serta berbau, nyeri panggul, nyeri saat berhubungan seksual dan kesulitan untuk buang air kecil serta nafsu makan juga menurun (Karolina, 2010). Hal ini membuat penderita mengalami perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menimbulkan berbagai keluhan baik fisik maupun psikologis dan akan mempengaruhi kualitas hidupnya (Rebecca dan Pam, 2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup menurut para ahli dalam kutipan Sekarwiri (2008). adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, penghasilan, dan hubungan dengan orang lain.
Kegiatan Praktik Belajar Lapangan Komprehensif (Profesi) ini dilakukan di Ruangan Nifas RSUD Dr. Soedarso Pontianak selama 1 minggu, dimulai sejak 29 September – 04 Oktober 2014. Kegiatan yang dilakukan selama Profesi ini mencakup pengelolaan pelayanan keperawatan Maternitas. Pada Akhir Profesi stase maternitas ini diharapkan sikap dan tingkah laku profesional di tuntut dari seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta belajar aktif dan mandiri pada pengalaman praktik klinik dapat dicapai dengan presentasi kasus. Penerapan proses asuhan keperawatan secara komprehensif yang meliputi Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi sebagai bentuk pelayanan keperawatan profesional baik kepada individu maupun keluarga. Kegiatan-kegiatan keperawatan secara efektif dan efisien dalam pelayanan keperawatan dengan selalu meningkatkan pengelolaan pelayanan keperawatan. Asuhan keperawatan pada klien dengan kanker serviks diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup klien dan meminimalkan dampak negatif yang timbul, seperti : stres psikologis yang sangat mempengaruhi kondisi kesehatan klien. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus melibatkan peran serta aktif seluruh keluarga dalam merumuskan masalah dalam mengatasi masalah kesehatannya.

B. Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan kanker serviks (leher rahim)….?
2. Apakah Penyebab (Etiologi) penyakit kanker serviks (leher rahim)….?
3. Bagaimanakah Patofisiologi terjadinya kanker serviks (leher rahim)….?
4. Bagaimanakah tanda dan gejala (manifestasi klinis) dari penyakit kanker serviks…?
5. Apasajakah pemeriksaan diagnostic untuk mengetahui kanker serviks….?
6. Bagaimanakah penatalaksanaan dari penyakit kanker serviks…?
7. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada penyakit kanker serviks….?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami pengertian dari penyakit kanker serviks
2. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami penyebab (etiologi) dari penyakit kanker serviks
3. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami patofisiologi terjadinya kanker serviks
4. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tanda dan gejala (manifestasi klinis) dari penyakit kanker serviks
5. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostic yang digunakan untuk mengetahui kanker serviks
6. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari penyakit kanker serviks
7. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami Asuhan Keperawatan pada klien dengan kanker serviks
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau serviks yang terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. ( Diananda,Rama, 2009 ).
Kanker serviks merupakan gangguan pertumbuhan seluler dan merupakan kelompok penyakit yang dimanifestasikan dengan gagalnya untuk mengontrol proliferasi dan maturasi sel pada jaringan serviks. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35 – 55 tahun, 90% dari kanker serviks berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju kedalam rahim (Sarjadi, 2001).
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya

B. Etiologi
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. HPV ( Human Papiloma Virus ) HPV adalah virus penyebab kutil genetalis ( Kandiloma Akuminata ) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18.
a) Timbulnya keganasan pada binatang yang diinduksi dengan virus papiloma.
b) Dalam pengamatan terlihat adanya perkembangan menjadi karsinoma pada kondilom akuminata.
c) Pada penelitian 45 dan 56, keterlibatan HPV pada kejadian kanker dilandasi oleh beberapa faktor yaitu: epidemiologic infeksi HPV ditemukan angka kejadian kanker serviks yang meningkat.
d) DNA HPV sering ditemukan pada Lis ( Lesi Intraepitel Serviks )

2. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
3. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
4. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
5. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
6. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
7. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
8. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks
C. Klasifikasi Pertumbuhan sel pada Kanker Serviks
Klasifikasi internasional tentang karsinoma serviks uteri :Tingkat criteria
1. Tahap O : Kanker insitu, kanker terbatas pada lapisan epitel, tidak terdapat bukti invasi.
2. Tahap I : Karsinoma yang benar – benar berada dalam serviks. Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri.
Tahap Ia : Karsinoma mikroinvasif, bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah memasuki stoma lebih dari 1 mm, sel tumor tidak terdapat pada pembuluh limfa atau pembuluh darah.
Tahap Ib : Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik menunjukkan invasi serviks uteri.
3. Tahap II : Kanker vagina, lesi telah menyebar diluar serviks hingga mengenai vagina (bukan sepertiga bagian bawah ) atau area para servikal pada salah satu sisi atau kedua sisi.
Tahap IIa : Penyebarah hanya perluasan vagina, parametrium masih bebas dari infiltrate tumor.
TahapIIb : Penyebaran keparametrium, uni atau bilateral tetap belum sampai pada dinding panggul.
4. Tahap III : Kanker mengenai sepertiga bagian bawah vagina atau telah meluas kesalah satu atau kedua dinding panggul. Penyakit nodus limfe yang teraba tidak merata pada dinding panggul. Urogram IV menunjukkan salah satu atau kedua ureter tersumbat oleh tumor.
Tahap IIIa : Penyebaran sampai pada sepertiga bagian distal vagina, sedang ke parametrium tidak dipersoalkan.
Tahap IIIb : Penyebaran sudah sampai pada dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul ( frozen pelvic ) atau proses pada tingkatan klinik I dan II, tetapi sudah ada gangguan faal ginjal.
5. Tahap IV : Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan atau kandang kemih (dibuktikan secara histologik ) atau telah terjadi metastasis keluar paanggul atau ketempat – tempat yang jauh.
Tahap IVa : Proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi mukosa rektrum dan atau kandung kemih.
Tahap IVb : Telah terjadi penyebaran jauh. ( Dr Imam Rasjidi, 2010 )
D. Tanda dan Gejala (Manifestasi klinis) Terjadinya Kanker Serviks
1. Keputihan
Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.
2. Perdarahan
Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid. Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal. Perdarahan rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut.
3. Nyeri
Dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal. Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret dari vagina berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. Perdarahan pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki, hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter.

E. Patofisiologi Terjadinya Kanker Serviks
Dari beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kanker sehingga menimbulkan gejala atau semacam keluhan dan kemudian sel – sel yang mengalami mutasi dapat berkembang menjadi sel displasia. Apabila selkarsinoma telah mendesak pada jaringan syaraf akan timbul masalahkeperawatan nyeri. Pada stadium tertentu sel karsinoma dapat mengganggu kerja sistem urinaria menyebabkan hidroureter atau hidronefrosis yang menimbulkan masalah keperawatan resiko penyebaran infeksi. Keputihan yang berkelebihan dan berbau busuk biasanya menjadi keluhan juga, karena mengganggu pola seksual pasien dan dapat diambil masalah keperawatan gangguan pola seksual. Gejala dari kanker serviks stadium lanjut diantaranya anemia hipovolemik yang menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga timbul masalah keperawatan gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Pada pengobatan kanker leher rahim sendiri akan mengalami beberapa efek samping antara lain mual, muntah, sulit menelan, bagi saluran pencernaan terjadi diare gastritis, sulit membuka mulut, sariawan, penurunan nafsu makan ( biasa terdapat pada terapi eksternal radiasi ). Efek samping tersebut menimbulkan masalah keperawatan yaitu nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Sedangkan efek dari radiasi bagi kulit yaitu menyebabkan kulit merah dan kering sehingga akan timbul masalah keperawatan resiko tinggi kerusakan integritas kulit. Semua tadi akan berdampak buruk bagi tubuh yang menyebabkan kelemahan atau kelemahan sehingga daya tahan tubuh berkurang dan resiko injury pun akan muncul. Tidak sedikit pula pasien dengan diagnosa positif kanker leher rahim ini merasa cemas akan penyakit yang dideritanya.
Kecemasan tersebut bias dikarenakan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, ancaman status kesehatan dan mitos dimasyarakat bahwa kanker tidak dapat diobati dan selalu dihubungkan dengan kematian. (Price, syivia Anderson, 2005).

F. Pemeriksaan Diagnostik yang dapat Dilakukan
a. Sitologi
Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes papanicolaous ( tes PAP ) sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat ketelitiannya melebihi 90% bila dilakukan dengan baik. Sitologi adalah cara Skrining sel – sel serviks yang tampak sehat dan tanpa gejala untuk kemudian diseleksi. Kanker hanya dapat didiagnosis secara histologik.
b. Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkopi, suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya didalamnya ( pembesaran 6 – 40 kali ). Kalau pemeriksaan sitologi menilai perubahan morfologi sel – sel yang mengalami eksfoliasi, maka kolposkopi menilai perubahan pola epitel dan vascular serviks yang mencerminkan perubahan biokimia dan perubahan metabolik yang terjadi di jaringan serviks.
c. Biopsi
Biopsi dilakukan didaerah abnormal jika SSP (sistem saraf pusat ) terlihat seluruhnya dengan kolposkopi. Jika SSP tidak terlihat seluruhnya atau hanya terlihat sebagian kelainan didalam kanalis serviskalis tidak dapat dinilai, maka contoh jaringan diambil secara konisasi. Biopsi harus dilakukan dengan tepat dan alat biopsy harus tajam sehingga harus diawetkan dalam larutan formalin 10%.
d. Konisasi
Konosasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut ( konus ), dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut. Untuk tujuan diagnostik, tindakan konisasi selalu dilanjutkan dengan kuretase. Batas jaringan yang dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi. Jika karena suatu hal pemeriksaan kolposkopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan tes Schiller. Pada tes ini digunakan pewarnaan dengan larutan lugol ( yodium 5g, kalium yodida 10g, air 100ml ) dan eksisi dilakukan diluar daerah dengan tes positif ( daerah yang tidak berwarna oleh larutan lugol). Konikasi diagnostik dilakukan pada keadaan – keadaan sebagai berikut:
1. Proses dicurigai berada di endoserviks.
2. Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi.
3. Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar specimen biopsy.
4. Ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histopatologik. ( Prof. R Sulaiman , 2006 )

G. Penatalaksanaan Penyakit Kanker Serviks
1. Radiasi
* Dapat dipakai untuk semua stadium
* Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
* Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
2. Operasi
* Operasi limfadektomi untuk stadium I dan II
* Operasi histerektomi vagina yang radikal
3. Kombinasi (radiasi dan pembedahan)
* Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.
* Cytostatika : Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.
Dalam lingkar perawatan meliputi sebelum pengobatan terapi radiasi eksternal anatara lain kuatkan penjelasan tentang perawatan yang digunakan untuk prosedur. Selama terapi yaitu memilih kulit yang baik dengan menganjurkan menghindari sabun, kosmetik, dan deodorant.
Pertahankan kedekuatan kulit dalam perawatan post pengobatan antara lain hindari infeksi, laporkan tanda – tanda infeksi, monitor intake cairan, beri tahu efek radiasi persisten 10 – 14 hari sesudah pengobatan, dan melakukan perawatan kulit dan mulut.
Dalam terapi radiasi internal yang perlu dipertimbangkan dalam perawatan umum adalah teknik isolasi dan membatasi aktivitas, sedangkan dalam perawatan pre insersi antara lain menurunkan kebutuhan untuk enema atau buang air besar selama beberapa hari, memasang kateter sesuai indikasi, latihan nafas panjan dan latihan rom dan jelaskan pada keluarga tentang pembatasan pengunjung. Selama terapi radiasi perawatannya yaitu monitor tanda – tanda vital tiap 4 jam. Memberikan posisi semi fowler, berikan makanan berserat dan cairan parenteral sampai 300ml dan memberikan support mental. Perawatan post pengobatan antara lain menghindari komplikasi post pengobatan ( tromboplebitis, emboli pulmonal dan pneumonia ), monitor intake dan output cairan. (Bambang sarwiji, 2011)

H. Asuhan Keperawatan Teoritis Kanker Serviks
1. Pengkajian
Usia saat pertama kali melakukan hubungan seksual Salah satu faktor yang menyebabkan kanker serviks ini adalah menikah dibawah umur 18 tahun.
a. Perilaku seks berganti – ganti pasangan
Dengan perilaku tersebut kemungkinan virus penyebab terjadinya kanker serviks dapat ditularkan dengan mudah.
b. Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi rendah dikaitkan erat karena tidak dapat melakukan pap smear secara rutin dan pola hubungan seksual yang tidak sehat.
c. Tingkat pengetahuan
Tingkat pengetahuan yang rendah dapat juga dihubungkan dengan kurangnya pemahaman mengenai pencegahan dan penaganan kanker seviks.
d. Aspek mental: harga diri, identitas diri, gambaran diri, konsep diri, peran diri, emosional.
e. Perineum; keputihan, bau, kebersihan
Keputihan yang gatal dan berbau adalah tanda dari kanker leher rahim yang mulai mengalami metastase.
f. Nyeri ( daerah panggul atau tungkai )
Nyeri bisa diakibatkan oleh karena sel kanker yang sudah mendesak dan abnor malita pada organ – organ daerah panggul.
g. Perasaan berat daerah perut bagian bawah
Sel – sel kanker yang mendesak mengakibatkan gangguan pada syaraf – syaraf disekitar panggul dan perut, sehingga menimbulkan perasaan berat pada daerah tersebut.
h. Gaya hidup
Gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan – makanan cepat saji dapat memicu sel kanker untuk tumbuh dengan cepat, pada orang – orang dengan gemar berganti – ganti pasangan dengan mengesampingkan efek negatifnya kemungkinan besar dapat timbul gejala – gejala tersebut sehingga mengarah pada terjadinya kanker leher rahim.
i. Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi yang tidak teratur atau terjadi perdarahan diantara siklus haid adalah salah satu tanda gejala kanker leher rahim.
j. Riwayat Keluarga
Seorang ibu yang mempunyai riwayat ca serviks. ( Doengoes, 2005 )
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan penekanan sel kanker pada syaraf dan kematian sel.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama nyeri hilang atau berkurang.
Kriteria :
* pasien mengatakan nyeri hilang atau berkurang dengan skala nyeri 0- 3.
* Ekspresi wajah rileks.
* Tanda – tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
> Kaji riwayat nyeri, lokasi, frekuensi, durasi, intensitas, dan skala nyeri.
> Berikan tindakan kenyamanan dasar: relaksasi, distraksi, imajinasi, message.
> Awasi dan pantau TTV.
> Berikan posisi yang nyaman.
> Kolaborasi pemberian analgetik.
Rasional :
* Mengetahui tingkat nyeri pasien dan menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
* Mengurangi rasa nyeri.
* Mengetahui tanda kegawatan.
* Memberikan rasa nyaman dan membantu mengurangi nyeri.
* Mengontrol nyeri maksimum.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah karena proses eksternal Radiologi .
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan status nutrisi dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Kriteria hasil :
* Pasien menghabiskan makanan yang telah diberikan oleh petugas.
* Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik.
* Berat badan klein normal.
* Hasil hemoglobin dalam batas normal.
Intervensi :
> Kaji status nutrisi pasien
> Ukur berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.
> Dorong Pasien untuk makan – makanan tinggi kalori, kaya protein dan tetap sesuai diit ( Rendah Garam ).
> Pantau masukan makanan setiap hari.
> Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering.
Rasional :
* Untuk mengetahui status nutrisi
* Memantau peningkatan BB.
* Kebutuhan jaringan metabolik adequat oleh nutrisi.
* Identifikasi defisiensi nutrisi.
* Agar nutrisi terpenuhi

c. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan pengeluaran pervaginam ( darah, keputihan ).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan jam pasien tidak terjadi penyebaran infeksi dan dapat menjaga diri dari infeksi .
Kriteria hasil :
* Tidak ada tanda – tanda infeksi pada area sekitar serviks
* Tanda – tanda vital dalam batas normal.
* Tidak terjadi nasokomial hilang, baik dari perawat ke pasien, pasien keluarga, pasien ke pasien lain dan klien ke pengunjung.
* Tidak timbul tanda – tanda infeksi karena lingkungan yang buruk
* Hasil hemoglobin dalam batas normal, dilihat dari leukosit.
Intervensi :
> Kaji adanya infeksi disekitar area serviks.
> Tekankan pada pentingnya personal hygiene.
> Pantau tanda – tanda vital terutama suhu.
> Berikan perawatan dengan prinsip aseptik dan antisepik.
> Tempatkan klien pada lingkungan yang terhindar dari infeksi.
> Koloborasi pemeberian antibiotik.
Rasional :
* Mengurangi terjadinya infeksi.
* Agar tidak terjadi penyebaran infeksi.
* Mencegah terjadinya infeksi.
* Membantu mempercepat penyembuhan.
* Mencegah terjadinya infeksi.

d. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur pengobatan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kecemasan hilang atau berkurang.
Kriterial hasil :
* Pasien mengatakan perasaan cemasnya hilang atau berkurang.
* Terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi pasien.
* Pasien tampak rileks, tampak senang karena mendapat perhatian.
* Keluarga atau orang terdekat dapat mengenai dan mengklarifikasi rasa takut.
* Pasien mendapat informasi yang akurat, serta prognosis dan pengobatan dan klien mendapat dukungan dari terdekat.
Intervensi :
> Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
> Beri lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk bicara.
> Pertahankan bentuk sering bicara dengan pasien, bicara dengan menyentuh klien.
> Bantu pasien atau orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut.Beri informasi akurat, konsisten mengenai prognosis, pengobatan serta dukungan orang terdekat.
Rasional :
* Memberikan kesempatan untuk mengungkapkan ketakutannya.
* Membantu mengurangi kecemasan.
* Meningkatkan kepercayaan klien.
* Meningkatkan kemampuan kontrol cemas.
* Mengurangi kecemasan.

e. Resiko tinggi kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan efek dari prosedur pengobatan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi kerusakan intergritas kulit.
Kriteria hasil :
* Pasien atau keluarga dapat mempertahankan keberhasilan pengobatan tanpa mengiritasi kulit.
* Pasien dan keluarga dapat mencegah terjadi infeksi atau trauma kulit.
* Pasien keluarga beserta TIM medis dapat meminimalkan trauma pada area terapi radiasi.
* Pasien, keluarga beserta tim medis dapat menghindari dan mencegah cedera dermal karena kulit sangat sensitif selama pengobatan dan setelahnya.
Intervensi :
> Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan.
> Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk.
> Tinjau protokol perawatan kulit untuk pasien yang mendapat terapi radiasi.
> Anjurkan memakai pakaian yang lembut dan longgar pada, biarkan
> pasien menghindari penggunaan bra bila ini memberi tekanan.

Rasional :
* Mempertahankan kebersihan kulit tanpa mengiritasi kulit.
* Membantu menghindari trauma kulit.
* Efek kemerahan dapat terjadi pada terapi radiasi.
* Meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit.

f. Resiko injuri berhubungan dengan kelemahan dan kelelehan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi cedera atau injuri.
Kriteria hasil :
* Pasien dapat meningkatkan keamanan ambulasi.
* Pasien mampu menjaga keseimbangan tubuh ketika akan melakukan aktifitas.
* Pasien mampu meningkatkan posisi fungsional pada ektremitas.
Intervensi :
> Intruksikan dan bantu dalam mobilitas secara tepat.
> Anjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan pada keluarga dalam melakukan suatu kegiatan.
> Pertahankan posisi tubuh tepat dengan dukungan alat bantuan.
Rasional :
* Membantu mengurangi kelelahan.
* Membantu pasien untuk melakukan kegiatan.
* Membantu mempercepat penyembuhan.

g. Gangguan pola seksual berhubungan dengan metaplasia penyakit.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama pasien mampu mempertahankan aktifitas seksual pada tingkat yang diinginkan bila mungkin.
Kriteria hasil :
* Pasien mampu memahami tentang arti seksualitas, seksualitas dapat diungkapkan dengan bentuk perhatian yang diberikan seseorang.
Intervensi :
> Kaji masalah- masalah perkembangan daya hidup.
> Catat pemikiran pasien/ orang- orang yang berpengaruh bagi pasien mengenai seksualitas
> Evaluasi faktor- faktor budaya dan religius/ nilai dan konflik- konflik yang muculberikan suasana yang terbuka dalam diskusi mengenai masalah seksualitas.
> Tingkatkan keleluasaan diri bagi pasien dan orang- orang yang penting bagi pasien.
Rasional :
* Faktor- faktor seperti menoupose dan proses penuan remaja dan dewasa awal yang perlu masukan dalam pertimbangan mengenai seksualitas dalam penyakit yang perawatan yang lama.
* Untuk memberikan pandangan bahwa keterbatasan kondisi/lingkungan akan berpengaruh pada kemampuan seksual tetapi mereka takut untuk menanyakan secara lansung.
* untuk mempengaruhi persepsi pasien terhadap masalah seksual yang muncul.
* Apabila masalah- masalah diidentifikasikan dan di diskusikan maka pemecahan masalah dapat ditemukan
* Perhatikan penerimaan akan kebutuhan keintiman dan tingkatkan makna terhadap pola interaksi yang telah dibina

h. Resti terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan syok berkurang atau tidak terjadi syok.
Kriterial hasi :
* pasien tidak mengalami anemia
* Tanda – tanda vital stabil.
* Pasien tidak tampak pucat.
Intervensi :
> Kaji adanya tanda terjadi syok
> Observasi Kondisi umum
> Observasi TTV
> Monitor tanda pendarahan
> Check hemoglobin dan hematokrit
Rasional :
Mengetahui adanya penyebab syok
* Memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi pendarahan sehingga segera diketahui tanda syok.
* TTV normal menandakan keadaan umum baik.
* perdarahan cepat diketahui dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok.
* Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut. (Doengoes, 2005)

Gambar- gambar Kanker Serviks

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. T DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI: KANKER SERVIKS DI RUANG NIFAS (RN) RSUD DR SOEDARSO PONTIANAK

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
NRM : 986310
Nama (Inisial) Klien : Ny. T
Umur Klien : 49 Tahun
Agama : Islam
Suku : Melayu
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Dsn. Maju Sari TR 66, Desa Radak Baru
Tanggal Masuk : 29-09-2014
Tanggal Pengkajian : 29-09-2014
Jam masuk : 20.30

2. Riwayat Keluarga

Keterangan :
: Laki- laki : Meninggal

: Perempuan : Klien
3. Data Kesehatan
a. Riwayat Penyakit sekarang:
* Klien mengatakan ± 3 bulan yang lalu mendapat kemoterapi untuk penyakit kanker rahim yang dia derita
* Klien mengatakan sejak selesai kemoterapi dia merasakan pusing, mual, dan tidak ada nafsu makan
* Klien mengatakan sudah pernah diberi penjelasan tentang penyakit kanker serviks yang yang dideritanya sebelum dia melakukan kemoterapi
* Klien mengatakan yang terjadi pengeluaran pervaginamnya hanyalah keputihan dan tidak ada pendarahan
* Klien mengatakan sudah sekitar 6 bulan menderita kanker serviks
b. Riwayat Penyakit dahulu:
* Klien mengatakan bahwa jarang sakit waktu masih kanak-kanak dan tidak ada menderita penyakit khusus.
c. Masalah kesehatan Khusus : Kanker serviks
d. Keluhan utama klien :
* Klien mengatakan kepalanya sangat pusing
* Klien mengatakan badannya lemah dan tidak ada nafsu makan
e. Pola Kehidupan sehari-hari:
* Klien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi alcohol
* Klien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi rokok
f. Dukungan keluarga
Keluarga selalu memberikan dukungan kepada klien, suaminya selalu menemani istrinya di rumah sakit
g. Riwayat Spiritual
Klien selalu berdoa saat dia merasakan sakitnya
h. Riwayat Seksual
Klien mengatakan tidak pernah berhubungan seksual semenjak menderita sakit kanker serviks
i. Tingkat pengetahuan tentang penyakitnya
Klien mengatakan sudah mengetahui tentang kanker serviks sebelum melakukan kemoterapi
j. Aspek mental
Klien mengatakan pasrah dengan penyakitnya
k. Gaya hidup
Klien mengatakan jarang mengkonsumsi makanan kaleng atau yang instan
l. Riwayat penyakit keturunan
Klien mengatakan tidak ada orang tua atau keluarganya yang menderita penyakit kanker serviks

4. Pemeriksaan Fisik
a. Penampilan umum:
* Kesadaran : Compos Mentis
* Klien tampak lemah
* Klien tampak pucat
b. Tanda-tanda Vital
* Tekanan Darah : 130/80 mmHg
* Nadi : 64 x/menit
* Pernafasan : 20 x/menit
* Suhu : 36,3ºc
c. Kepala
* Inspeksi: Bentuk kepala klien , tidak terlihat lesi, distribusi rambut merata, sebagian rambut klien sudah memutih, di bagian depan rambut klien tampak sudah rontok, rambut klien terlihat pendek dan tidak terlihat adanya benjolan dikepala
* Palpasi: Tidak teraba adanya massa dan tidak terdapat nyeri tekan pada bagian kepala klien
d. Mata
* Inspeksi: mata klien simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis, kelopak mata klien cekung, dan klien tidak menggunakan alat bantu penglihatan.
e. Hidung
* Inspeksi: bentuk hidung klien simetris, tidak terdapat lesi, tidak terlihat polip, tidak ada yang menghambat jalan nafas, tidak terlihat adanya massa, dan klien tidak menggunakan alat bantu pernafasan.
* Palpasi: tidak teraba adanya massa dan tidak terdapat nyeri tekan pada sinus paranasi

f. Telinga
* Inspeksi: bentuk telinga klien simetris, telingga klien terlihat bersih, tidak terlihat adanya lesi dank lien tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
* Palpasi: tidak teraba adanya massa dan tidak terdapat nyeri tekan pada bagian telinga klien.
g. Mulut dan tenggorokan
* Inspeksi: mukosa bibir klien kering, tidak terdapat peradangan pada tonsil, lidah klien terlihat banyak bercak putih kekuningan, jumlah gigi klien
h. Leher
* Inspeksi: tidak terdapat lesi, tidak ada distensi vena jugularis, tidak ada deviasi trakea.
* Palpasi: tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid
i. Kelenjar limfe
* Inspeksi: tidak terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe
* Palpasi: tidak teraba pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan
j. Paru-paru
* Inspeksi: bentuk dada klien simetris, tidak terpasang alat bantu pernafasan, tidak terdapat lesi di bagian dada
* Auskultasi: bunyi nafas vesikuler, tidak terdapat bunyi wheezing dan ronchi
* Perkusi: bunyi sonor
* Palpasi: tidak terdapat krepitasi pada iga
k. Jantung
* Inspeksi: bentuk dada klien simetris, tidak terdapat lesi
* Auskultasi: bunyi jantung lup dup (s1 s2) tidak terdapat bunyi tambahan baik mur-mur maupun gallop
* Perkusi: tidak dilakukan
* Palpasi: tidak terdapat krepitasi
l. Payudara
* Inspeksi: bentuk payudara simetris
m. Abdomen
Pengkajian abdomen dibagi menjadi 4 kuadran:
* Inspeksi: tidak terdapat lesi di semua kuadran
* Auskultasi: bising usus 17 x/menit
* Perkusi: terdengar bunyi timfani
* Palpasi dangkal : abdomen klien teraba agak keras pada 4 kuadran dan tidak ada nyeri tekan
* Palpasi dalam: tidak terdapat nyeri tekan pada 4 kuadran, kandung kemih tidak penuh
n. Ekstemitas atas dan bawah
* Inspeksi: tangan dan kaki klien terlihat simetris, jumlah jari dan kaki klien lengkap, tidak terdapat lesi atau fraktur, tangan kanan terpasang infus RL drip Neurobion (20 tpm) kaki dan tangan terlihat agak kaku, ketika bergerak klien harus dibantu perawat atau keluarganya.
* Palpasi: tidak terdapat edema
* Tonus otot :

3 3

3 3
Keterangan :
0 : Lumpuh
1 : Otot dapat berkontraksi tanpa gerakan
2 : dapat mengerakan sendi tanpa melakukan gravitasi
3 : dapat bergerak melakukan gravitasi tanpa beban
4 : dapat bergerak melakukan gravitasi
5 : normal

o. Integumen
* Inspeksi: kulit klien terlihat kering, dan sedikit sianosis
* Palpasi: elastisitas kulit jelek
p. Genitalia
Tidak dilakukan pengkajian (klien mengatakan tidak ada pendarahan tetapi keluar keputihan sedikit-sedikit dan berbau busuk
q. Reflek
Ekstremitas bawah: reflek patelar negative
r. Pemeriksaan penunjang
HBSAg : Non reaktif
GDS : 94
Urea : 36,8
Kreatinin : 0,8
SGOT : 22,8
SGPT : 10,2
Albumin : 4,1
B. Analisa Data

No Analisa Data Etiologi Masalah 1. DS : – Klien mengatakan terasa mual
– Klien mengatakan tidak ada nafsu makan
– Klien mengatakan badanya lemah
DO: – klien tampak lemah
– Kelopak mata klien cekung
– Konjungtiva anemis
– Mukosa bibir kering
– Turor kulit jelek
– Post Kemoterapi

Gastrointestinal

Peningkatan tekanan gaster

Mual dan muntah

Anoreksia

Ketidakseimbangan nutrisi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia 2. DS : – klien mengatakan ada pengeluaran keputihan
DO : – pengeluaran keputihan pervaginam
– Klien tampak lemah
Post kemoterapi

Kompresi pada RES

Anemia

Leukosit menurun

Resiko infeksi
Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan pengeluaran pervaginam atau keputihan 3. DS : –
DO: – Klien tampak lemah
– Jika bergerak harus dibantu
– Pergerakan dibantu oleh perawat 75% dan 25% mandiri
– Tonus otot
3 3
3 3
Tidak ada nafsu makan

Intake berkurang

Energi berkurang

Kelemahan

Pergerakan dibantu

Resiko injuri Resiko injuri berhubungan dengan kelemahan otot

C. Rencana Tindakan Keperawatan (Intervensi)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan/ Kriteria Hasil Intervensi 1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam status nutrisi dapat dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dengan criteria hasil:
a. Klien menghabiskan makanan yang diberikan petugas
b. Berat badan klien normal
c. Hasil hemoglobin dalam batas normal 1. Kaji status nutrisi pasien
2. Dorong pasien untuk makan makanan tinggi kalori, kaya protein dan tetap sesuai diit
3. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering
4. Berikan makanan selingan
5. Pantau masukan makanan setiap hari
6. Kolaborasi pemberian terapi obar (ranitidine)
2. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan pengeluaran pervaginam (Keputihan) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam pasien tidak terjadi infeksi dan menjaga diri dari infeksi, dengan Kriteria hasil:
a. Tidak ada tanda-tanda infeksi pada area sekitar serviks
b. Tanda-tanda vital dalam batas normal
c. Hasil Hb dalam batas normal dilihat dari leukosit 1. Observasi tanda-tanda vital
2. Kaji adanya infeksi diarea sekitar serviks (hasil lab)
3. Berikan perawatan dengan prinsip aseptik dan antiseptik
4. Tempatkan klien pada lingkungan yang terhindar dari infeksi
5. Kolaborasi pemberian antibiotic bila ada tanda- tanda infeksi 3. Resiko injuri berhubungan dengan kelemahan otot Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam tidak terjadi cedera atau injuri dengan criteria hasil:
a. Pasien dapat meningkatkan keamanan ambulasi
b. Pasien mampu menjaga keseimbangan tubuh saat beraktivitas 1. Intruksikan dan bantu dalam mobilisasi secara tepat
2. Anjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan keluarga dalam melakukan kegiatan
3. Pertahankan posisi tubuh tepat dengan alat bantu
D. Tindakan Keperawatan (Implementasi)
Catatan Keperawatan Ruang Nifas 29-09-2014 986310 Nama : Ny. T Perempuan 49 tahun Hari/ Tanggal Waktu No Dx Implementasi (DAR) Paraf Rabu,
01-10-2014 14.00 1 D: – klien mengatakan mual
– Klien mengatakan tidak ada nafsu makan
– Klien tampak lemah
– Mata klien cekung
– Konjuntiva anemis
– Mukosa bibir kering
– Turgor kulit jelek
A : mengobservasi tanda-tanda vital
R : TD 130/80 mmHg, N: 64 x/mm R: 20 x/m, S: 36,3ºc
A: mengkaji kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
R: Klien makan dibantu suaminya
A: mengidentifikasi faktor penyebab mual
R: Klien mengatakan apabila makanan banyak terasa penuh dibagian perut
A: Menganjurkan keluarga memberikan makanan sedikit tapi sering
R: Keluarga mau mengikuti anjuran perawat Rabu,
01-10-2014 14.30 2 D: – Klien mengatakan ada keluar keputihan yang berbau busuk
– Pengeluaran keputihan pervaginam
– Klien tampak lemah
A: mengkaji adanya infeksi di area sekitar serviks dengan melihat hasil lab
R: Klien mengikuti perawat
A: Mengobservasi tanda-tanda vital
R: TD : 130/80 mmHg, N: 64 x/m R: 20, T: 36,3ºc
A: – memberikan perawatan dengan prinsip aseptic dan antiseptic
– Menenpatkan klien pada lingkungan yang terhindar dari infeksi
R: Klien mengikuti instruksi perawat Rabu,
01-10-2014
15.30 3 D: – klien tampak lemah
– Jika bergerak harus dibantu
– Pergerakan dibantu perawat 75% dan mandiri 25%
– Tonus otot

3 3
3 3
A: menginstruksikan dan membantu klien dalam mobilisasi secara tepat
R: Klien mengikuti instruksi perawat
A: Menganjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan keluarga dalam melakukan kegiatan
R: klien mau mengikuti anjuran dari perawat
A: Mempertahankan posisi tubuh tepat dengan alat bantu
R: Klien berpegangan dengan alat bantu Kamis,
02-10-2014 08.00 1 D: – klien mengatakan mual sudah berkurang
– Klien mengatakan masih tidak ada nafsu makan
– Klien mengatakan tidak mampu menghabiskan makanan yang diberikan kepadanya
– Konjuntiva anemis
– Mukosa bibir kering
– Turgor kulit jelek
A: mengkaji makanan kesukaan dari klien
R: klien mengatakan suka makan buah-buahan
A: menganjurkan kepada keluarga memberikan makanan selingan (kesukaan)
R: Keluarga mau membawakan makanan kesukaan klien
A: Menganjurkan memberikan makanan tinggi kalori tinggi protein kepada keluarga
R: keluarga mau mengikuti anjuran dari perawat
Kamis,
02-10-2014 08.30 3 D: – klien masih lemah
– Jika bergerak harus dibantu
– Pergerakan dibantu perawat 75% dan mandiri 25%

– Tonus otot

3 3
3 3
A: menginstruksikan dan membantu klien dalam mobilisasi secara tepat
R: Klien mengikuti instruksi perawat
A: Menganjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan keluarga dalam melakukan kegiatan
R: klien mau mengikuti anjuran dari perawat
A: Mempertahankan posisi tubuh tepat dengan alat bantu
R: Klien berpegangan dengan alat bantu Jumat,
03-10-2014 08.00 1 D: – Klien mengatakan masih tidak ada nafsu makan
– Klien mengatakan mual sudah jarang dirasakan
– Klien mengatakan hanya menghabiskan 1/4 dari porsi makanan yang diberikan
– Konjuntiva anemis
– Turgor kulit masih jelek
A: Memberikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi
R: Klien dan keluarga mendengarkan
A: Menganjurkan keluarga untuk memberikan makanan sedikit tapi sering
R: Keluarga mengikuti anjuran perawat
A: Menganjurkan keluarga untuk memberikan makanan selingan seperti buah
R: Keluarga mengikuti anjuran perawat
A: Observasi tanda-tanda vital
R: TD: 120/80 mmHg, N: 90 x/m, R: 21 x/m, T: 36,7ºc
Jumat,
03-10-2014 09.00 3 D: – Klien mengatakan badanya masih lemah untuk bergerak
– Skala aktivitas klien 3 (memerlukan bantuan orang lain)
– Aktivitas 75% dibantu perawat 25% mandiri

A: menginstruksikan dan membantu klien dalam mobilisasi secara tepat
R: Klien mengikuti instruksi perawat
A: Menganjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan keluarga dalam melakukan kegiatan
R: klien mau mengikuti anjuran dari perawat
A: Mempertahankan posisi tubuh tepat dengan alat bantu
R: Klien berpegangan dengan alat bantu
E. Evaluasi
Hari/ tanggal Waktu No Dx Evaluasi (SOAP) Paraf Rabu,
01-10-2014 20.00 1 S:- Klien mengatakan masih tidak ada nafsu makan
– Klien mengatakan mual sudah jarang
– Klien mengatakan hanya menghabiskan ± 2 sendok nasi
O : – Turgor kulit jelek
– Konjuntiva anemis
– Membrane mukosa kering
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
1. Observasi TTV
2. Kaji makanan kesukaan klien
3. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan makanan selingan
(kesukaan)
4. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan makanan tinggi kalori tinggi protein
5. Kolaborasi pemberian obat dengan dokter( ranitidine)
Rabu,
01-10-2014 20.00 2 S: – klien mengatakan sudah tidak ada keluar keputihan dari vagina
O: – tidak ada pengeluaran keputihan dari vagina
– TTV : TD: 130/80 mmHg, N: 64 x/m, R: 20x/m, T: 36,3ºc
A: Masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
1. Kaji anadnya infeksi diarea sekitar serviks
2. Observasi TTV
3. Memberikan perawatan dengan aseptic dan antiseptic
4. Menempatkan klien dari lingkungan yang terhindar dari infeksi Rabu,
01-10-2014 17.00 3 S: – Klien mengatakan badanya masih lemah
O: – klien tampak lemah
– Jika bergerak klien harus dibantu
– Aktivitas dibantu perawat 75% dan mandiri 25%
– Tonus otot

3 3
3 3
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan Intervensi
1. Intruksikan dan bantu dalam mobilisasi secara tepat
2. Anjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan keluarga dalam melakukan kegiatan
3. Pertahankan posisi tubuh tepat dengan alat bantu Kamis,
02-10-2014 13.00 1 S: – Klien mengatakan masih tidak ada nafsu makan
– Klien mengatakan mual sudah jarang dirasakan
– Klien mengatakan hanya menghabiskan 1/4 porsi makanan yang diberikan
O: – TTV : TD: 130/80 mmHg, N: 83 x/m, R: 20x/m, T: 36,3ºc
– Turgor kulit masih jelek
– Membrane mukosa kering
– Konjuntiva anemis
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi
1. Kaji makanan kesukaan klien
2. Memberikan informasi yang tepat tentang nutrisi
3. Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan sedikit tapi sering
4. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan makanan selingan
5. Observasi tanda-tanda vital
Kamis,
02-10-2014 13.30 3 S: – Klien mengatakan badanya masih lemah
O: – klien tampak lemah
– Jika bergerak klien harus dibantu
– Aktivitas dibantu perawat 75% dan mandiri 25%
– Tonus otot

3 3
3 3
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan Intervensi
1. Intruksikan dan bantu dalam mobilisasi secara tepat
2. Anjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan keluarga dalam melakukan kegiatan
3. Pertahankan posisi tubuh tepat dengan alat bantu

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Unpad.1993. Ginekologi. Elstar. Bandung
Carpenito,Lynda Juall, 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.EGC. Jakarta
Friedman,Borten,Chapin. 1998. Seri Skema Diagnosa & Penatalaksanaan Ginekologi. Edisi 2. Bina Rupa Aksara. Jakarta
Galle,Danielle. Charette,Jane. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta.
Hartono,Poedjo. 2000. Kanker Serviks, Leher Rahim & Masalah Skrining Di Indonesia. Kursus Pra Kongres KOGI XI Denpasar.Mombar Vol. 5 No.2 Me] 2001
Saifudin,Abdul Bari dkk, 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo & JNKKR -POGI, Jakarta.