BAB I DEFINISI RISET KUALITATI

BAB I DEFINISI RISET KUALITATIF
1.1. Definisi
Kualitatif riset didefinisikan sebagai suatu proses yang mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kompleksitas yang ada dalam interaksi manusia (Catherine Marshal: 1995)

Definisi di atas menunjukkan beberapa kata kunci dalam riset kualitatif, yaitu: proses, pemahaman, kompleksitas, interaksi, dan manusia. Proses dalam melakukan penelitian merupakan penekanan dalam riset kualitatif oleh karena itu dalam melaksanakan penelitian, peneliti lebih berfokus pada proses dari pada hasil akhir.
Karena proses memerlukan waktu dan kondisi yang berubah-ubah maka definisi riset ini akan berdampak pada desain riset dan cara-cara dalam melaksanakannnya yang juga berubah-ubah atau bersifat fleksibel.

Pemahaman mengandung makna pemahaman dari dalam (verstehen) yang mempunyai arti bahwa peneliti dalam melakukan penelitian hendaknya memahami permasalahan dari dalam konteks masalah yang diteliti, oleh karena itu peneliti kualitatif tidak mengambil jarak dengan yang diteliti sebagaimana penelitian pendekatan kuantitatif yang membedakan anatar peneliti sebagai subyek dan yang diteliti sebagai obyek. Dalam penelitian kualitatif peneliti berbaur menjadi satu dengan yang diteliti sehingga peneliti dapat memahami persoalan dari sudut pandang yang diteliti itu sendiri.

Kompleksitas memberikan gambaran pada kita bahwa sasaran yang diteliti bersifat kompleks, rumit dan saling terkait satu dengan yang lain sebagaimana karakteristik kehidupan sehari-hari. Kosekuensi logis dari kondisi yang seperti ini, maka dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif masalah harus dipandang secara holositik tidak dapat difragmentasi dalam pecahan-pecahan atau bagian-bagian masalah seperti dalam penelitian kuantitatif. Masalah yang kompleks mempunyai ciri utama tidak berdiri sendiri dan terkait dengan masalah yang lain; oleh karena itu pemecahan masalahnya harus secara menyeluruh tidak dilakukan secara sepotong-sepotong.

Interaksi terjadi dikalangan mahkluk hidup, terutama manusia. Kata interaksi menyiratkan adanya hubungan satu dengan yang lain sehingga dalam melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti sebaiknya selalu bertanya apakah masalah yang diteliti berkaitan dengan masalah lain atau kondisi lain dan tidak berdiri sendiri.

Sasaran penelitian kualitatif utama ialah manusia karena manusialah sumber masalah dan sekaligus penyelesai masalah. Sekalipun demikian, penelitian kualitatif tidak hanya membatasi penelitian terhadap manusia saja. Sasaran lain dapat berupa kejadian, sejarah, benda berupa foto, artefak, peninggalan-peninggalan peradaban kuno dan lain sebagainya. Intinya sasaran penelitian kualitatif ialah manusia dengan segala kebudayaan dan kegiatannya.
1.2. Kapan Sebaiknya Kita Menggunakan Penelitian Kualitatif
Peneliti dapat menggunakan penelitian pendekatan kualitatif untuk jika yang bersangkutan ingin melakukan hal-hal sebagai berikut:
a) Memahami makna yang melandasi tingkah laku partisipan
b) Mendeskripsikan latar dan interaksi partisan
c) Melakukan eskplorasi untuk mengidentifikasi informasi baru
d) Memahami keadaan yang terbatas dan ingin mengetahui secara mendalam dan rinci
e) Mendeskripsikan fenomena untuk menciptakan teori baru.
f) Menfokuskan pada inetraksi manusia dan proses yang mereka gunakan.

BAB II TEORI-TEORI YANG MENDASARINYA

2.1. Pendahuluan
Setiap metode ataupun pendekatan selalu didasari oleh pemikiran-pemikiran ataupun teori-teori yang digunakan sebagai pijakan berpikir. Tanpa teori suatu metode ataupun pendekatan bagiakan banguanan tanpa fondasi akbitanya metode tersebut akan mudah tergoyahkan. Salah satu fungsi utama teori ialah memberikan fondasi dalam berpikir ilmiah. Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif didasari daintaranya oleh teori-teori fenomenologi dan interkasi simbolik.

2.2. Fenomenologi
Fenomenologi merupakan ilmu yang mempelajari fenomena atau gejala yang dilandasi oleh teori Max Weber (1864 – 1920). Teori ini menekankan pada metode penghayatan atau pemahaman interpretatif (verstehen). Jika seseorang menunjukkan perilaku tertentu dalam masyarakat, maka perilaku tersebut merupakan realisasi dari pandangan-pandangan atau pemikiran yang ada dalam kepala orang tersebut. Kenyataan merupakan ekspresi dari dalam pikiran seseorang; oleh karena itu, realitas tersebut bersifat subyektif dan interpretatif.

2.3. Interaksi Simbolik
Teori interaksi simbolik merupakan suatu teori yang menerangkan perilaku manusia dengan menggunakan analisis makna. Dalam melakukan analisis makna tersebut, terdapat tiga buah premis yang menjadi dasar dalam menerangkan suatu perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Premis pertama mengatakan bahwa seseorang yang melakukan suatu perbuatan tertentu didasarkan pada makna yang ada didalam sesautu tersebut. Misalnya, seseorang yang naik pesawat terbang kelas eksekutif sebenarnya ingin mendapatkan makna dari apa yang ia lakukan, yaitu “prestise” atau “gengsi” yang ditimbulkan oleh kelas eksekutif tersebut. Premis kedua menerangkan bahwa makna sesuatu muncul jika hal tersebut berada dalam lingkungan interaksi manusia. Contoh seseorang yang pandai akan sadar jika orang lain dilingkungan pergaulannya mengatakan dia “pandai” dan “cerdas”. Premis ketiga mengatakan bahwa seseorang akan memegang makna tersebut untuk dijadikan referensi dan diinterpretasi jika orang tersebut berhadapan dengan orang lain. Contoh: orang pandai tersebut di atas akan merasa di atas angin atau lebih tinggi jika berhadapan dengan orang lain yang berada di bawah kepandaiannya.

BAB III DESAIN RISET KUALITATIF

3.1. Pendahuluan
Desain penelitian kualitatif bersifat fleksibel dan berubah-ubah sesuai dengan kondisi lapangan tidak seperti desain riset penelitian kuantitatif yang bersifat tetap, baku dan tidak berubah-ubah. Oleh karena itu peranan peneliti sangat dominan dalam menentukan keberhasilan penelitian yang dilaksanakan; sedang peranan desain hanya membantu mengarahkan jalannya proses penelitian agar sesuai dengan pernyataan masalah dan berjalan dengan sistematis.

3.2. Model Desain Riset Kualitatif
Model desain riset pendekatan kualitatif sbb:
a) Pernyataan masalah
b) Desain riset yang meliputi: teknik sampling, sample, jenis data, instrument pengambilan data, metode pengambilan data dan teknik analisis data.

Desain dapat digambarkan sbb:
Tabel 3.2.1 Model Desain Riset Kualitatif
3.2.1. Penjelasan Tabel di atas:

Pernyataan Masalah: Rumuskan masalah yang akan diteliti sesuai dengan ketentuan sebelum melakukan tahapan lain karena tahapan berikutnya dalam penelitian akan ditentukan oleh masalah yang sudah dirumuskan. Masalah jelas dan tidak bermakna ganda sehingga menimbulkan berbagai interpretasi.

Teknik Sampling: Pertimbangan pertama dalam menentukan sample ialah bahwa untuk penelitian kualitatif kita menggunakan apa yang disebut dengan teknik non probabilitas , yaitu teknik mengambil sample yang tidak didasarkan pada formulasi statistik. Teknik tersebut meliputi a) kesesuaian (convenience); b) penilaian (judgment) dan c) bola salju (snowball). Pertimbangan kedua ialah penentuan kualitas responden.

Jenis Data: Primer dan sekunder dalam bentuk selain angka

Instrumen Pengambilan Data: Wawancara (in depth interview)

Metode Pengambilan Data: Melakukan wawancara, observasi terlibat langsung, dan review dokumen

Teknik Analisis: Teknik analisis terdiri dari analisis domain, taksonomi, komponensial, tema kultural dan komparasi konstan.

BAB IV TEKNIK SAMPLING

4.1. Pendahuluan
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat ilmiah dan juga sistematis sebagaimana penelitian kuantitatif sekalipun dalam pemilihan sample tidak seketat dan serumit penelitian kuantitatif. Dalam memilih sample penelitian kualitatif menggunakan teknik non probabilitas, yaitu suatu teknik pengambilan sample yang tidak didasarkan pada rumusan statistik tetapi lebih pada pertimbangan subyektif peneliti dengan didasarkan pada jangkauan dan kedalaman masalah yang ditelitinya. Lebih lanjut pada penelitian kualitatif tidak ditujukan untuk menarik kesimpulan suatu populasi melainkan untuk mempelajari karakteristik yang diteliti, baik itu orang ataupun kelompok sehingga keberlakukan hasil penelitian tersebut hanya untuk orang atau kelompok yang sedang diteliti tersebut. Konsekuensi dari dasar pemikiran tersebut ialah pemilihan sample tidak bergantung pada kuantitas tetapi lebih pada kualitas orang yang akan diteliti yang biasa kita sebut sebagai informan..Banyak sedikitnya orang yang akan digunakan untuk menjadi informan dalam penelitian kita tergantung pada cakupan masalah penelitian yang akan dilakukan.

4.2 Cara Memilih Informan
Cara memilih sample sebagai informan dapat dibagi menjadi tiga bagian sbb:
Pertama, kita mencari informan untuk diwawancarai atau diobservasi.
Kedua, kita menentukan informan untuk diteliti atau dimintai keterangan sesuai dengan masalah yang diteliti dan
Ketiga, kita menghentikan mencari informan jika informasi yang diperoleh sudah cukup dan tidak diperlukan informasi baru lagi.

Di bagian bawah sekedar sebagai bahan pertimbangan penulis menyertakan teknik non probabilitas yang dapat juga diadopsi untuk pencarian informan dalam menentukan sample yang akan diteliti.
4.3. Teknik Kesesuaian:
Memilih unit-unit analisa dengan cara yang dianggap sesuai oleh peneliti. Keuntungannya ialah dapat dilakukan dengan cepat dan murah. Kelemahannya ialah mengandung sejumlah kesalahan sistematik dan dapat memunculkan pengaruh-pengaruh yang tidak diketahui oleh peneliti.

4.4. Teknik Penilaian:
Memilih sampel dari suatu populasi didasarkan pada informasi yang tersedia, sehingga keterwakilannya terhadap populasi dapat dipertanggungjawabkan. Keuntungannya ialah unit-unit yang terakhir dipilih dapat dipilih sehingga mereka mempunyai banyak kemiripan. Kerugiannya ialah memunculkan keanekaragaman dan bisa estimasi terhadap populasi dan sampel yang dipilihnya
4.5. Teknik Bola Salju:
Memilih unit-unit yang mempunyai karakterisitik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya. Keuntungannya ialah hanya digunakan dalam situasi-situasi tertentu. Kelemahannya ialah keterwakilan dari karakteristik langka dapat tidak terlihat di sampel yang sudah dipilih dan peneliti kemungkinan akan kesulitan dalam mencari karaketristik langka tersebut.
BAB V JENIS DATA

5.1. Pendahuluan
Data dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif bukan angka. Data dapat berupa gejala-gejala, kejadian dan peristiwa yang kemudian dianalisis dalam bentuk kategori-kategori.
5.2. Tipe-Tipe Data
Jika dilihat dari jenisnya, maka kita dapat membedakan data kualitatif sebagai data primer dan data sekunder:

a) Data Primer: data ini berupa teks hasil wawancara dan diperoleh melalui wawancara dengan informan yang sedang dijadikan sample dalam penelitiannya. Data dapat direkam atau dicatat oleh peneliti.

b) Data Sekunder: data sekunder berupa data-data yang sudah tersedia dan dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara membaca, melihat atau mendengarkan. Termasuk dalam kategori data tersebut ialah:
* Data bentuk teks: dokumen, pengumuman, surat-surat, spanduk
* Data bentuk gambar: foto, animasi, billboard
* Data bentuk suara: hasil rekaman kaset
* Kombinasi teks, gambar dan suara: film, video, iklan di televisi dll.nya.

BAB VI INSTRUMEN PENGAMBILAN DATA

6.1. Pendahuluan
Pada umumnya penelitian kualitatif menggunakan metode wawancara dalam mencari data; sekalipun demikian cara-cara lain juga digunakan. Inti dari persoalannya ialah apapun instrumennya, tujuan utama ialah untuk mendapatkan informasi dalambentuk bukan angka sehingga banyak peneliti kualitatif memanfaatkan teknologi untuk sarana pengambilan data, seperti tape rekorder, komputer bahkan Internet.

6.2. Jenis Instrumen Pengambilan Data
Secara umum alat pengambilan data dapat dibagi dua sbb:
a) Panduan Wawancara: Panduan wawancara yang sudah disusun secara tertulis sesuai dengan masalah kemudian digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan informasi. Cara menggunakan panduan tersebut dapat dalam bentuk wawancara ataupun diskusi. Dalam contoh yang diberikan di bagian berikutnya, penulis memasukkan panduan wawancara yang digunakan dalam focus group discussion

b) Peneliti Sendiri: Jika tidak menggunakan panduan wawancara, misalnya dalam melakukan observasi terlibat langsung, riset partisipatori, ataupun review dokumen; maka peranan peneliti sendiri merupakan sarana atau alat untuk memperoleh informasi. Jika pencarian informasi dilakukan secara tertutup atau rahasia maka peranan peneliti sangat penting untuk dapat memperoleh informasi yang benar dan sesuai dengan apa yang sedang diteliti. Dengan berbekal ingatan, catatan, kamera atau video, seorang peneliti kualitatif akan berusaha memperoleh informasi sebanyak mungkin mengenai hal yang sedang dipelajarinya. Contoh sederhana ialah dalam dunia inteljen, seorang polisi atau agen rahasia yang berada ditengah-tengah masyarakat melakukan pencarian atau penyadapan informasi yang sedang dicarinya dengan tanpa disadari oleh masyarakat disekitarnya.

6.3. Contoh Panduan Tertulis untuk Focus Group Discussion
Di bawah ini diberikan contoh panduan wawancara untuk Focus Group Discussion yang dilakukan oleh penulis dalam meneliti kebutuhan terhadap layanan teknologi informasi dan telekomunikasi di kalangan SLTA di Bandung.

Script FGD

Ucapan Salam

Moderator menerangkan tujuan FGD saat ini
Tujuan pertemuan saat ini untuk mendapatkan informasi, masukan dan gagasan dari sekolah Bapak / Ibu berkaitan dengan program PT Telkom Divre III yang akan diluncurkan, yaitu Smart School – suatu program penunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan memanfaatkan teknologi informasi dan telekomunikasi yang akan memuat hal-hal diantaranya: 1) pengumuman sekolah, daftar ulang / regsitrasi, materi pelajaran sekolah, tanya jawab dalam bentuk latihan soal-soal test atau ujian dan jawabannya, komunikasi dalam bentuk forum-forum diskusi, informasi nilai hasil belajar, konfirmasi pembayaran SPP dan lain-lainya yang diharapkan akan muncul dalam diskusi ini.
Smart School memungkinkan beberapa kegiatan di sekolah tersebut di atas dapat terbantu dengan menggunakan sarana komputer dan telepon dari lokasi mana saja dimana Bapak / Ibu atau siswa dan orang tua berada. Salah satu kegunaan yang paling menonjol ialah bahwa informasi sekolah dapat disebarluaskan secara cepat dan meluas dengan tidak dibatasi oleh batasan fisik, seperti gedung sekolah, lokasi, waktu dan lain-lainnya.
(Perlu juga ditekankan bahwa acara ini independen bagi peserta untuk menyampaikan pendapatnya tanpa ada tekanan dan subyektif kontrol. Adanya rekaman berupa video dimaksudkan bahwa pikiran/pendapat/gagasan Bapak/Ibu harus disampaikan secara oral dan proses evaluasi)

Pertanyaan Utama
1. Bagaimana pendapat Bapak / Ibu mengenai peranan teknologi informasi dan telekomunikasi yang digunakan sebagai sarana penunjang proses belajar mengajar di sekolah-sekolah menengah tingkat atas?
2. Kegiatan sekolah apa saja yang menurut Bapak / Ibu perlu atau dapat dilakukan dengan menggunakan sarana Internet dan telepon? (Jika jawaban responden tidak lengkap dan memerlukan waktu lama dalam memikirkannya, maka Moderator akan memberikan hint sbb: Bagaimana dengan hal-hal di bawah ini?)
a. Pengumuman kegiatan sekolah baik kokurikuler maupun ekstrakurikuler
b. Pelajaran sekolah tertentu sehingga siswa dapat belajar secara online
c. Jenis-jenis pelajaran apa saja yang dapat dimuat secara online
d. Latihan soal-soal ujian dan tes beserta jawabannya.
e. Pendafataran ulang / registrasi
f. Informasi nilai sehingga siswa dan orang tua dapat dengan mudah dan cepat mengetahui prestasi belajar siswa.
g. Konfirmasi pembayaran SPP
h. Informasi buku-buku baru di perpustakaan
i. Profil staf pengajar beserta keahlian masing-masing
j. Pendaftaran siswa baru secara online
k. Kejadian-kejadian insidentil dan khusus, misalnya pentas seni, pameran dan lain-lainnya.
l. Karya tulis para siswa dan guru
3. Manfaat apa saja yang diharapkan oleh sekolah Bapak / Ibu dalam menggunakan teknologi informasi dan telekomunikasi? (jika jawaban tidak banyak alternatifnya, maka Moderator akan memberikan hint sbb:
a. Penunjang proses belajar mengajar
b. Promosi sekolah dengan menggunakan Internet
c. Sarana penyebarluasan informasi sekolah secara cepat
d. Meringankan beban tugas guru dan tenaga administrasi
e. Membantu mempercepat dan mempermudah proses administrasi, misalnya dalam pendaftaran siswa baru, daftar ulang siswa lama dan pelunasan SPP
f. Meningkatkan jumlah siswa dan orang tua beserta guru dalam mengerti dan menggunakan Internet dan teknologi telekomunikasi yang semakin maju.
g. Sarana komunikasi antar siswa, guru, orang tua dan masyarakat
4. Apa rencana sekolah Bapak / Ibu dalam jangka pendek berkaitan dengan pendayagunaan teknologi Internet dan Telepon sebagai sarana penunjang keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah masing-masing?
Hint
a. Bagi yang belum mempunyai jaringan teknologi informasi:
* Bekerja sama dengan pihak tertentu, misalnya PT Telkom untuk membangun jaringan teknologi informasi di sekolah.
* Bekerja sama dengan pihak lain, misalnya konsultan untuk membangun komunitas sekolah secara online dalam menentukan isi dan kegiatan komunitas tersebut.
b. Bagi yang sudah mempunyai jaringan teknologi informasi:
* Meningkatkan kualitas jaringan teknologi informasinya dengan cara mempunyai alternatif lain diluar sistem dan pengelola yang sudah ada.
* Berpindah ke pengelola lain karena alasan-alasan tertentu, misalnya kualitas layanan pengelola yang ada tidak sesuai dengan harapan sekolah.
5. Tindakan nyata apa saja yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah? (jika belum ada, maka moderator akan menanyakan lebih lanjut pertanyaan: Apa rencana tersebut? Jika belum, maka pertanyaannya: Kapan rencana tersebut akan dibuat dan dilaksanakan?). Jika sudah ada jaringan informasi di sekolah dengan menggunakan Teknologi Informasi atau Teknologi Telekomunikasi, bagaimana bentuknya dan dengan siapa Bapak/Ibu mewujudkannya (swakelola atau bekerja sama dengan pihak lain ? Siapa sebutkan ? .
6. Kendala-kendala apa saja yang mungkin dihadapi oleh sekolah Bapak / Ibu dalam mewujudkan kegiatan di atas?
a. Bagi yang belum mempunyai jaringan teknologi informasi
* Tidak mengetahui prosedur cara pemasangan baru jaringan teknologi informasi
* Sedang mencari pihak pengelola layanan teknologi informasi yang sesuai dengan kondisi sekolah, misalnya kemampuan keuangan, keinginan siswa dllnya.
* Kendala internal sekolah, misalnya hubungan birokrasi antara yayasan dan pihak sekolah, pimpinan sekolah yang belum berpikir kearah itu, sekolah belum mempunyai fasilitas pendukung, seperti komputer.
b. Bagi yang sudah mempunyai jaringan teknologi informasi:
* Jaringan yang ada sekarang tidak berjalan dengan baik, misalnya lambat jika diakses, sering putus, dan sering tidak dapat diakses
* Sistem pembayaran memberatkan pihak sekolah
* Motivasi guru dan siswa masih kurang dalam memanfaatkan teknologi informasi.
* Isi kegiatan tidak menarik, membosankan dn jarang di perbarui
* Belum ada tenaga khusus yang menangani masalah tersebut.

7. Jika sudah ada jaringan informasi di sekolah,
a. apakah sekolah Bapak/Ibu masih berusaha atau memiliki impian untuk meningkatkannya ?
b. Seperti apa usaha/rencana peningkatan yang sekolah miliki ?
c. Bapak/Ibu wujudkan secara swakelola atau bekerja sama dengan pihak lain?
d. Adakah kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam mewujudkan usaha tersebut ? Bisa disebutkan kendala apa saja ?
8. Bagaimana jika PT Telkom Divre III bekerja sama dengan Dinas Pendidikan membantu sekolah Bapak / Ibu dalam mewujudkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah masing-masing? (jika responden bertanya bantuan berupa apa, maka moderator menjawab:)
a. Pasang baru dan penyambungan Internet secara gratis.
b. Bantuan pemberian satu perangkat komputer sederhana (ex operasional kantor)
c. Pemberian kredit komputer dengan bunga rendah.
d. Pelatihan penggunaan aplikasi Smart School dan pengenalan Internet dan dasar-dasar pembuatan web site
e. Membantu sekolah-sekolah untuk mengisi web site dengan bahan-bahan dari sekolah masing-masing.
f. Memberikan konsultasi dan instalasi perangkat dan perbaikan secara gratis dalam waktu 3 bulan.
g. Lainnya (konsultasikan dengan Pihak Divre III)
9. (Atau) dukungan atau fasilitas apa di sekolah (yang ada di sekolah Bapak/Ibu ataupun sekolah lain secara umum) yang kiranya dapat mendukung terselenggaranya layanan Smart School ini ?
a. Perangkat komputer
b. Sambungan telepon
c. Tenaga khusus / guru bidang studi teknologi infromasi jika ada.
d. Bujet yang sudah direncanakan

10. Menurut pendapat Bapak/Ibu, Seandainya Telkom telah mengupayakan hal tersebut ……(sebutkan yang di nomor 8),
a. Pasang baru dan penyambungan Internet secara gratis.
b. Bantuan pemberian satu perangkat komputer sederhana (ex operasional kantor)
c. Pemberian kredit komputer dengan bunga rendah.
d. Pelatihan penggunaan aplikasi Smart School dan pengenalan Internet dan dasar-dasar pembuatan web site
e. Membantu sekolah-sekolah untuk mengisi web site dengan bahan-bahan dari sekolah masing-masing.
f. Memberikan konsultasi dan instalasi perangkat dan perbaikan secara gratis dalam waktu 3 bulan.

Dan dukungan sekolah berupa: perangkat komputer, sambungan telepon, tenaga khusus / guru bidang studi teknologi infromasi jika ada dan bujet yang sudah direncanakan (yang dijawab di nomor 9)
Apa yang masih harus disiapkan oleh Telkom atau dukungan dari lingkungan eksternal sekolah (mungkin) agar layanan smart school ini terwujud dan hidup ? (Jika jawaban responden tidak lengkap dan memerlukan waktu lama dalam memikirkannya, maka Moderator akan memberikan hint sbb: Bagaimana dengan hal-hal di bawah ini?)
g. Adanya kurikulum tentang Teknologi Informasi & Teknologi Telekomunikasi
h. Kemampuan ekonomi orangtua murid
i. Adanya layanan umum untuk akses informasi dan komunikasi (Wartel, Warnet, Telepon Umum, Internet Umum dll).
j. Telkom harus memberikan diskon kepada murid/orang tua murid untuk akses ke Smart School.
k. Persaingan antar sekolah
l. Isi program yang menarik dan updated
m. Bantuan pihak luar dalam membantu isi Smart School, misalnya pihak Unikom
11. Apakah Bapak / Ibu mempunyai cara yang jitu untuk mendorong siswa, guru dan orang tua untuk mau memulai menggunakan Internet dan telepon untuk tujuan-tujuan belajar?
12. Apakah sekolah Bapak/ Ibu bersedia untuk menjadi partner PT Telkom Divre III untuk mewujudkan program Smart School di sekolah Bapak / Ibu? (Jika ya, maka Moderator mencatat kesanggupannya dan jika belum tanyakan alasannya dan dapatkan informasi kepada siapa Pihak PT Telkom dapat menghubungi dan memperoleh persetujuan. Jika tidak bersedia moderator menanyakan alasan-alasannya
13. Keputusan-keputusan apa saja yang akan diambil oleh Bapak / Ibu setelah selesai diskusi ini? (hint: Moderator mendorong agar responden membuat keputusan yang dapat membuat mereka berpartisipasi terhadap program Smart School sebagai pilot project sekalipun demikian tidak diwajibkan peserta FDG ikut dalam pilot project Smart School, cukup diminta kesediaannya (no.12) dan alasan menolak )
Penutup
Moderator mengucapkan terima kasih kepada para responden atas partisipasinya. Kenang-kenangan dibagikan kepada para peserta.
Bandung, Oktober 2004

PT. TELKOM DIVRE IIII UNIKOM

BAB VII METODE KOLEKSI DATA

7.1. Pengertian
Yang dimaksud dengan data kualitatif ialah data dalam bentuk bukan angka. Data dapat berupa teks, dokumen, gambar, foto, artefak atau obyek-obyek lainnya yang diketemukan di lapangan selama melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

7.2. Metode Pengumpulan Data
Metode pokok diantaranya ialah:
7.2.1. Partisipasi
Partisipasi merupakan salah satu bentuk cara mencari data utama atau informasi dalam metode penelitian kualitatif. Cara melakukan pengumpulan data ialah melalui keterlibatan langsung dengan obyek yang diteliti. Jika obyek tersebut merupakan masyarakat atau kelompok individu, maka peneliti harus berbaur dengan yang diteliti (immersion) sehingga peneliti dapat mendengar, melihat dan merasakan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh obyek yang sedang diteliti. Karena teknik ini menghendaki pengenalan secara mendalam, maka waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan data atau informasi menjadi lama. Semakin lama peneliti berbaur dengan yang diteliti, maka peneliti akan dapat mempelajari pola dan perilaku hidup obyek yang diteliti.

7.2.2. Observasi
Kegiatan observasi meliputi melakukan pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan. Pada tahap awal observasi dilakukan secara umum, peneliti mengumpulkan data atau informasi sebanyak mungkin. Tahap selanjutnya peneliti harus melakukan observasi yang terfokus, yaitu mulai menyempitkan data atau informasi yang diperlukan sehingga peneliti dapat menemukan pola-pola perilaku dan hubungan yang terus menerus terjadi. Jika hal itu sudah diketemukan, maka peneliti dapat menemukan tema-tema yang akan diteliti.

Salah satu peranan pokok dalam melakukan observasi ialah untuk menemukan interaksi yang kompleks dengan latar belakang sosial yang alami.

7.2.3. Wawancara (In-depth Interview)
Teknik wawancara dalam penelitian pendekatan kualitatif dibagi menjadi tiga kategori, yaitu 1) wawancara dengan cara melakukan pembicaraan informal (informal conversational interview), 2) wawancara umum yang terarah (general interview guide approach), dan 3) wawancara terbuka yang standar (standardized open-ended interview). (Patton, 1990:280-290 dikutip oleh Catherine Marshal, 1995: hal 80).

Dalam menggunakan teknik wawancara ini, keberhasilan dalam mendapatkan data atau informasi dari obyek yang diteliti sangat bergantung pada kemampuan peneliti dalam melakukan wawancara.

Cara melakukan wawancara ialah mirip dengan kalau kita sedang melakukan pembicaraan dengan lawan bicara kita. Wawancara dimulai dengan mengemukakan topik yang umum untuk membantu peneliti memahami perspektif makna yang diwawancarai. Hal ini sesuai dengan asumsi dasar penelitian kualiatif, bahwa jawaban yang diberikan harus dapat membeberkan perespektif yang diteliti bukan sebaliknya, yaitu perseptif dari peneliti sendiri.

Keunggulan utama wawancara ialah memungkinkan peneliti mendapatkan jumlah data yang banyak; sebaliknya kelemahan ialah karena wawancara melibatkan aspek emosi, maka kerjasama yang baik antara pewawancara dan yang diwawancari sangat diperlukan. Dari sisi pewawancara, yang bersangkutan harus mampu membuat pertanyaan yang tidak menimbulkan jawaban yang panjang dan bertele-tele sehingga jawaban menjadi tidak terfokus. Sebaliknya dari sisi yang diwawancarai, yang bersangkutan dapat dengan enggan menjawab secara terbuka dan jujur apa yang ditanyakan oleh pewawancara atau bahkan dia tidak menyadari adanya pola hidup yang berulang yang dialaminya sehari-hari.

Yang diperlukan oleh pewawancara agar proses wawancaranya berhasil ialah kemauan mendengar dengan sabar, dapat melakukan interaksi dengan orang lain secara baik, dapat mengemas pertanyaan dengan baik, dan mampu mengelaborasi secara halus apa yang sedang ditanyakan jika dirasa yang diwawancari belum cukup memberikan informasi yang dia harapkan.
7.2.4. Kajian Dokumen
Kajian dokumen merupakan sarana pembantu peneliti dalam mengumpulkan data atau informasi dengan cara membaca surat-surat, pengumuman, iktisar rapat, pernyataan tertulis kebijakan tertentu dan bahan-bahan tulisan lainnya. Metode pencarian data ini sangat bermanfaat karena dapat dilakukan dengan tanpa mengganggu obyek atau suasana penelitian. Peneliti dengan mempelajari dokumen-dokumen tersebut dapat mengenal budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh obyek yang diteliti.

Penggunaan dokumen ini berkaitan dengan apa yang disebut analisa isi. Cara menganalisa isi dokumen ialah dengan memeriksa dokumen secara sistematik bentuk-bentuk komunikasi yang dituangkan secara tertulis dalam bentuk dokumen secara obyektif.
7.2.5. Interview khusus (Elite Interviewing)
Yang dimaksud dengan interview khusus ialah melakukan wawncara dengan kelompok elite tertentu, misalnya dengan pimpinan perusahaan atau kantor tertentu. Tujuan utama ialah untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan penting suatu perusahaan. Kelompok elit ini sangat memahami seluk beluk perusahaan dari berbagai sisi, misalnya dari sisi kualitas sumber daya manusia, keuangan, dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tujuan perusahaan. Informasi sedemikan itu tidak akan dapat diperoleh dari para pegawai biasa ataupun para majaner kelompok menengah.
7.2.6. Interview Kelompok Kecil (Focus Group Interviewing)
Interview model ini diilhami oleh para peneliti bidang pemasaran. Mereka melakukan melakukan interview atau diskusi dengan beberapa orang yang biasanya terdiri dari 5 – 10 orang.

Pelaksaannya ialah kelompok tersebut dipandu oleh seorang yang ahli dalam bidang pemasaran dan mengarahkan diskusi dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dirancang sebelumnya. Pertanyaan diberikan kepada peserta dan kemudian para peserta diminta menjawab dan mendiskusikan dengan kelompoknya.

Tujuan dari diskusi model ini ialah untuk menyaring permasalahan yang umum menjadi lebih khusus yang pada akhirnya permasalahan khusus tersebut akan dijadikan sebagai masalah yang layak untuk diteliti.

Metode Pelengkap:Metode pelengkap dapat digunakan secara bersamaan dengan metode pokok di atas untuk mendapatkan data sebagaimana yang diinginkan oleh peneliti. Beberapa metode pelengkap yang akan dibahas ialah:

7.2.7. Narasi
Narasi merupakan metode yang diambil dari bidang ilmu sastra dan psikologi. Peneliti dalam mengumpulkan data melakukan eksplorasi cerita orang yang sedang diteliti. Untuk melaksanakan metode ini, peneliti perlu membina hubungan kerja sama yang baik dengan yang diteliti.

Keunggulan metode ini ialah peneliti dapat mengungkap informasi sebanyak mungkin dari sumber yang diteliti. Kelemahan metode ini ialah memerlukan waktu yang lama untuk mendengarkan cerita dari obyek yang diteliti dan jawaban-jawaban yang diberikan tidak sistematis, karena orang tersebut mungkin akan bercerita sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.

7.2.8. Sejarah Hidup
Mengkaji sejarah hidup merupakan salah satu teknik lain dalam penelitian kualitatif. Sejarah hidup seseorang atau lembaga merupakan data yang akurat jika kita sedang melakukan penelitian yang berkaitan dengan fakta sejarah suatu kejadian dimana orang yang sejarah hidupnya kita pelajari terlibat baik secara langsung atau tidak langsung dengan kejadian yang sedang kita teliti.

Data dalam sejarah hidup merupakan data sekunder yang mudah didapatkan dimana peneliti tinggal membaca dan mempelajarinya.

7.2.9. Analisa Sejarah
Jika sejarah hidup dijadikan sebagai sarana untuk pengumpulan data sekunder mengenai hidup seseorang, maka analisa sejarah merupakan data sekunder yang cakupannya lebih luas dibanding dengan sejarah hidup dimana analisis sejarah berkaitan dengan suatu kejadian yang bersifat umum, misalnya sejarah berdirinya Republik Indonesia, sejarah penemuam komputer, sejarah penemuan Internet dan lain-lainnya.

7.2.10. Film, Video, dan Foto
Film, video dan foto merupakan sumber data sekunder yang berguna bagi peneliti karena data-data tersebut dapat berupa gambar dan suara yang akan melengkapi data yang besifat tekstual. Dalam penelitian kualitatif data yang berupa suara dan gambar berguna untuk pembuktian-pembuktian dalam ilmu hokum, kepolisian dan inteljen.

7.3. Metode Pengumpulan Data Sekunder Secara Online

7.3.1. Pendahuluan
Teknologi informasi saat ini memungkinkan para peneliti melakukan pencarian data dan / atau informasi dengan menggunakan Internet sebagai media alat pengumpulan data yang cepat dan mudah dilakukan. Dengan tersedianya alat-alat pencarian yang canggih, server-server yang menyimpan data dan/ atau informasi yang tersebar di berbagai penjuru dunia serta munculnya bisnis jual beli informasi secara online akan semakin memudahkan bagi para peneliti untuk melakukan penelitian secara online.

Tulisan ini membahas mengenai strategi mengumpulkan data sekunder secara online yang meliputi pertama definisi pengertian, kedua teknik pencarian, ketiga evaluasi kualitas dan validitas hasil pencarian, dan keempat tipe-tipe alat pencarian.

7.3.2. Definisi Pengertian
Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan data sekunder ialah data dan / atau informasi yang tidak didapat secara langsung dari sumber pertama (responden) dengan melalui baik yang didapat melalui wawancara ataupun dengan menggunakan kuesioner secara tertulis. Data dan / atau informasi dapat berjenis kuantitatif dan kualitatif,. Data yang berjenis kuantitatif merupakan data yang berhubungan dengan angka-angka, misalnya laporan keuangan, data-data statistik mengenai topik tertentu, data yang menyatakan jumlah, berat, jarak dan lain sebagainya. Data kualitatif dapat berupa teks, gambar, dan suara. Pencarian secara online ialah pencarian dengan menggunakan komputer yang dilakukan melalui Internet dengan alat pencarian tertentu pada server-server yang tersambung dengan Internet yang tersebar diberbagai penjuru dunia.

7.3.3. Teknik Pencarian
Cara pencarian data sekunder secara online dapat dilakukan dengan cara melalui komputer yang tersambung Internet dengan menggunakan metode tertentu. Metode pencarian dapat berupa metode yang sederhana ataupun metode yang canggih sesuai dengan fasilitas yang disediakan oleh alat pencari tertentu. Dalam tulisan ini, penulis akan memberikan contoh pencarian secara online dengan menggunakan alat pencari milik Google (http://www.google.com) dengan alasan Google menyediakan alat pencari yang paling canggih (Intelligent Search Tool) yang dapat menelusuri lebih dari 3 miliar halaman-halaman di World Wide Web.

Pencarian secara online dalam web Google dapat dilakukan dengan cara yang paling sederhana sebagai berikut:
o Carilah lokasi alat pencarian ditempatkan yang biasanya berada pada posisi di atas yang berbentuk kotak dengan disisinya tertera kata “Go” atau “Search”
o Masukkan kata kunci kedalam kotak pencarian, misalnya “bahasa pemrograman PHP”
o Klik kata “search” atau “go”, maka anda akan memperoleh alamat-alamat yang berisi masalah yang kita cari tersebut.

Agar pencarian dapat menghasilkan data dan / atau informasi yang benar-benar sesuai sebagaimana yang kita inginkan dan terfokus, maka gunakanlah tip sederhana di bawah ini:

o Tip dalam melakukan pencarian di Internet:
a. Tentukan tujuan pencarian
b. Definisikan secara jelas dan detil tipe informasi yang seperti apa yang dibutuhkan
c. Identifikasikan kata kunci (key word), frasa, atau kategori subyek
d. Pelajari mekanisme pencarian dalam web site tersebut, misalnya penggunaan Logika Boolean yang menggunakan operator pencarian utama: AND, OR, NOT. Menggunakan kata AND berarti kita menyempitkan hasil pencarian dalam mesin tersebut. Menggunakan OR berarti kita memperluas hasil pencarian. Menggunakan NOT akan membuat operator menghilangkan munculnya dokumen-dokumen yang tidak diikutsertakan.
e. Selain Logika Boolean, banyak web site menggunakan metode “Relevancy Ranking” atau menggunakan istilah yang dikenal dengan WAIS (Wide Area Information Server). Metode ini menggunakan 3 (tiga) ekspresi sbb: ALL (yang mirip dengan penggunaan AND pada logika Boolean), ANY (yang mirip dengan penggunaan OR pada logika Boolean), dan PHRASE yang mencarikan dokumen yang mirip atau berdekatan dengan yang dicarinya.
f. Gunakan alat pencarian lebih dari satu.

Google menyediakan metode pencarian secara lebih canggih yang dikenal dengan “Advanced Search”. Faktor-faktor yang dipertimbangkan ialah:
a. Teknik pencarian dengan perintah: Find Result didasarkan pada pilihan-pilihan sbb:
* With all the words: gunakan semua kata yang menyatakan hal yang dicari
* With the exact phrase: gunakan frasa atau kata-kata yang tepat sesuai dengan yang dicari
* With at least one of the words: gunakan setidak-tidaknya dengan satu kata dari bagian kata-kata lain yang dicari
b. Language: Pilihan bahasa yang digunakan untuk pencarian. Google dapat menggunakan hampir semua bahasa utama di dunia ini, seperti Bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Jepang bahkan Bahasa Indonesia sekalipun.
c. File Format: format file yang dipilih oleh pencari data, misalnya format pdf, html, word document, rich text atau lainnya. Jika tidak tahu gunakan pilihan “any format”
d. Date: Tanggal untuk membatasi umur data yang dicari, pilihan yang ada ialah:
* any time : tanpa dibatasi waktu
* past three months: 3 bulan yang lalu
* past six months : 6 bulan yang lalu
* past year: 1 tahun yang lalu
e. Occurrences: Frekuensi sering tidaknya data tersebut muncul atau dicari oleh pencari data dalam:
* Any where in the page: di halaman mana saja
* In the title of the page: yang tertera pada judul
* In the text of the page: pada teks halaman-halaman yang dicari
* In the URL of the page: pada URL (alamat web site) halaman yang dicari
* In the links of the page: yang tertera pada semua link halaman yang dicari
f. Domain: pencarian difokuskan hanya pada domain tertentu, misalnya www.tempo.co.id; www.kompas.com ; www.detik.com . Jika pencarian tidak ingin dibatasi, gunakan pilihan “don’t” return results from the site or domain
g. Safe Search: Pencarian yang aman. Terdapat dua pilihan dalam Safe Search, yaitu: No Filtering (jangan di saring) dan Filtering (penyaringan). Jika kita gunakan teknik Filtering, maka Google memberikan beberapa batasan dalam hasil yang dicarinya sbb:
* Customize your results using the Preferences page: Hasil pencarian hanya ditujukan pada halaman-halaman yang dinginkan saja
* Interface Language: pencarian menghasilkan dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa yang diketahui, misalnya Bahasa Inggris atau Indonesia.
* Web Page Translation: jika hasil pencarian memunculkan halaman-halaman yang menggunakan bahasa yang tidak diketahui, misalnya bahasa Spanyol, Google akan menterjemahkan kedalam Bahasa Inggris.
* Search Language: Bahasa yang digunakan untuk pencarian dapat disesuaikan dengan bahasa yang kita ketahui, misalnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau Inggris.
* Number of Result: jumlah hasil pencarian dapat disesuaikan dengan keinginan pencari informasi, misalnya 10, 20, 30 atau jumlah lainnya sesuai dengan kebutuhan kita.
* New Result Window: Hasil pencarian akan ditampilkan dalam window baru
* Safe Search Filtering: Filter untuk keamanan dan kenyamanan pencarian yang sesuai dengan yang dicari. Tujuan utama teknik ini ialah menyaring pencarian agar tidak memasuki situs-situs porno atau judi yang tdiak kita inginkan.
h. Products: jika pencarian dilakukan untuk mendapatkan informasi produk-produk tertentu, gunakan pilihan ini.
i. Page Specific Search: Pencarian difokuskan hanya pada halaman-halaman tertentu. Dalam bagain ini Google menyediakan dua pilihan:
* Similar: pencarian difokuskan pada halaman-halaman lain yang mirip dengan halaman yang dicarinya
* Links: pencarian difokuskan pada halaman-halaman yang terdapat dalam link di halaman yang sedang dicari
j. Topic Specific Searches: Pencarian didasarkan pada topik-topik tertentu, misalnya: Linux, JavaScript, Perang Irak, Saham, pendidikan tinggi dlsbnya.

Jika pilihan-pilihan sudah ditentukan, lakukan pencarian dengan memilih perintah Google Search.

7.3.4. Evaluasi Kualitas Informasi
Dikarenakan tidak adanya sensor dalam Internet, maka kita perlu mengevaluasi kualitas tulisan / buku / acuan yang ada di Internet, diantaranya ialah Nama Penulis, Titel atau Posisi, Afiliasi Organisasi, Tanggal penulisan, dan Alamat Kontak. Berikut ini dibahas cara-cara mengukur kualitas tulisan di Internet dengan berpatokan pada tingkat kredibiltas pengarang dan isi tulisannya:

a. Reliabilitas: referensi yang dicari sebaiknya dipertimbangkan reliabilitasnya, khususnya dari sisi pengarangnya. Jika pengarangnya memang ahli di bidangnya, maka tulisan tersebut dapat dipercaya kualitasnya. Pada bagian belakang buku, biasanya ditulis riwayat singkat penulisnya, misalnya pengalaman menulis buku, studinya, dan jenjang kariernya. Dari informasi ini kita dapat menilai seberapa besar reliabilitas buku yang ditulis saat ini dalam hubungannya dengan bidang ilmunya dan pengalaman dalam menulis buku.
b. Gunakan metode CARS (Credibility Accuracy Reasonableness and Support) checklist (Robert Harris, 1997) untuk menguji kualitas informasi yang berasal dari Internet.
o Pertama, kredibiltas menyangkut sumber informasinya yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan yang memungkinkan kita dapat mempercayainya; kejelasan latar belakang pengarang yang menyangkut pendidikan, alamat, pengalaman, kedudukan, dan penilaian sesama penulis; adanya kontrol kualitas dari sesama penulis; refeferensi yang jelas diambil dari jurnal atau hasil penelitian lainnya.
o Kedua, akurasi meliputi tidak ketinggalan jaman (up to date), bersifat faktual, detil, pasti, komprehensif, berorientasi pada pembaca dan tujuan, menjadikan sumber saat ini bukan informasi yang sudah kedaluwarsa, dan dapat memberikan gambaran kebenaran secara utuh.
o Ketiga, dapat diterima dengan akal sehat yang meliputi adil dan tidak memihak, memberikan keseimbangan, bersifat obyektif, tidak memunculkan konflik kepentingan, tidak bersifat menghasut; mempunyai tujuan untuk dijadikan sebagai sumber yang dapat dipercaya karena memunculkan kebenaran yang utuh.
o Keempat, adanya dukungan seperti sumber-sumber acuan mengenai teori, data atau angka-angka yang diambil dari sumber lain diluar buku pengarang, informasi kontak agar tidak memberi kesan tidak diketahui penulis sebenarnya, memungkinkan adanya layanan tuntutan, tujuannya ialah memberikan bukti yang meyakinkan kepada para pembaca jika pembaca melakukan tuntutan atau jika pembaca ingin menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan apa yang sudah ditulis oleh penulis. .

7.3.5. Tipe-Tipe Alat Pencari
Dalam teknologi World Wide Web terdapat tiga tipe mesin pencari (search tools), yaitu 1) Meta Search Site, 2) Search Engine, dan 3) Subject Guides and Directories

7.3.5.1. Meta Search Sites
Situs-situs pencarian meta yang merupakan kumpulan beberapa alat pencarian merupakan alat pencari yang baik, khususnya untuk pencarian penelitian yang kompleks karena situs-situs ini memungkinkan pengguna mempercepat pencarian dengan cara mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam pencarian jika dilakukan oleh alat-alat pencari dari situs lainnya. Prinsip pencarian meta ialah pencarian dilakukan dalam beberapa mesin pencari (search engine) dalam sekali pencarian. Keunggulan alat ini ialah kita dapat menghemat waktu dan menghindari duplikasi. Kelemahan alat ini ialah hilangnya pilihan pencarian yang membedakan antara satu alat pencari dengan alat pencari lainnya.
Dibawah ini beberapa alamat alat pencarian yang termasuk dalam meta search sites, diantaranya:
* MetaCrawler: http://www.metacrawler.com
* DogPile: http://www.dogpile.com
* c|net’s Search.com: http://www.search.com
7.3.5.2. Search Engine
Search Engine mempunyai karakteristik pencarian yang sangat spesifik yang bergantung pada masing-masing situs yang menyediakan. Kesamaan secara umum ialah mereka menggunakan metode Boolean dalam pencariannnya. Agar pencarian terfokus dan berhasil, sebaiknya peneliti mempelajari karakteristik masing-masing mesin pencari di bawah ini:
* AltaVista: http://www.altavista.com: Ciri utama AltaVista yang dapat mengindeks sebanyak lebih dari 550 juta halaman situs ialah penggunaan analisa relevansi teks dan juga penggunaan logika Boolean. Pencarian dapat dilakukan dengan menggunakan kata atau frasa yang tepat sesuai dengan topik yang dicari. Pencarian dapat dibatasi hanya pada bagian-bagian tertentu, misalnya judul, jangkar (anchor), host, link, applet, gambar, dan URL. Keunggulan utama Alta Vista ialah kemampuan menggabung pencarian hanya dengan satu kali pencarian saja.

* Northern Light: http://www.northernlight.com: Northern Light mempunyai karakteristik utama, yaitu dapat melakukan pemotongan dan menampilkan bentuk plural secara otomatis Northern Light menggunakan logika Boolean secara penuh dan dapat melakukan pembatasan pencarian, missal hanya judul atau URL saja.

* HotBot: http://www.hotbot.com: Ciri utama HotBot ialah adanya pembagian menjadi bagain web yang terbaik dan dokumen-dokumen web yang lainnya. Pencarian dilakukan dengan menggunkan logika Boolean tetapi kita tidak dapat melakukan pencarian fasilitas-fasilitas tersebut hanya dengan satu kali pencarian saja.

* Google: http://www.google.com: Google dikenal sebagai alat pencarian yang paling cerdas. Meski kita hanya secara sederhana melakukan pencarian dengan memasukkan kata atau beberapa kata saja, Google akan secara otomatis melakukan pencarian dengan logika Boolean dengan menggunakan batasan-batasan AND, NOT, PHRASE, dan OR. Google tidak mendukung pemotongan (truncation), penambahan dan tidak membedakan bentuk huruf besar atau kecil (case sensitive). Kelebihan lain ialah Google menggunakan relevansi dan linking, yaitu jumlah tertentu halaman-halaman sejenis yang berhubungan dengan halaman yang dicari. Google bahkan memungkinkan kita melakukan pencarian dengan menggunakan simbol-simbol tertentu, misalnya untuk stock quotes, peta , dan memberikan pilihan 60 bahasa. Google juga menyediakan file-file berekstensi PDF yang jarang dihasilkan oleh alat-alat pencari lainnya.
* Fast Search: http://www.alltheweb.com: Metode pencarian dalam web ini menggunakan logika Boolean. Kita dapat membatasi pencarian hanya pada judul, teks, nama link, URL, link, bahasa dan domain. Ranking pencarian didasarkan pada relevansi, analisa link, penempatan teks pada halaman tertentu, dan penggunaan kata kunci.

* Excite: http://www.excite.com: Mesin pencari Excite melakukan review isi informasi halaman-halaman web, penggunaan meta-tags, teks jangkar, dan popularitas link untuk menentukan relevansi dan ranking hasil pencarian.

* Lycos:http://www.lycos.com: Lycos saat ini sudah tidak mempunyai mesin pencarian sendiri. Web ini mengandalkan pencarian yang berasal dari Fast dan Inktomi.
7.3.5.3. Subject Guides dan Directories
Tipe alat pencari yang ketiga berupa Subject Guides dan Directories. Ciri utama alat pencarian ini ialah informasi disusun berdasarkan kategori subyek atau topik, misalnya kategori pendidikan, bisnis, komputer dan lain sebagainya. Pembuatan kategori ini mempermudah orang dalam melakukan pencarian secara lebih spesifik.
* Yahoo!:http://www.yahoo.com: Yahoo tidak menggunakan robot dalam membuat direktori informasi, web ini bergantung pada jumlah web site yang didaftarkan di direktori mereka. Sekalipun demikian Yahoo sangat selektif dalam menerima situs-situs yang didaftarkan. Karena Yahoo tidak mempunyai jangkauan yang luas, maka web ini menyediakan mesin pencarian milik Google sebagai pelengkap.

* LookSmart: http://www.looksmart.com: LookSmart melakukan proses index kedalam sekitar 200,000 kategori yang disusun secara hirarkhis. Kategori meliputi mulai dari masalah perkebunan dan buku-buku serta lomba mobil sampai ke masalah ruang angkasa. Teknik pencarian dalam web ini menggunakan kata kunci atau melacak melalui setiap kategori.

* About.com: http://www.About.com: Metode pencarian web ini mirip dengan LookSmart. Letak perebdaannya ialah dalam About terdapat situs-situs geografis negara Australia, Kanada, India, Irlandia, Inggris, dan Jepang.

* Open Directory Project: http://www.dmoz.org: Open Directory Project mirip dengan Yahoo yaitu melakukan proses indeks dengan menggunakan manusia. Kategori subyek disusun berdasarkan hirarki. Isi kategori mirip dengan Yahoo dengan penambahan mengenai subyek World dengan menggunakan Bahasa Jerman, Spanyo, Perancis, Jepang, Cina, Itali, Portugis, Rusia, Polandia, dan Indonesia

* WWW Virtual Library: Data Sources by Subject. http://vlib.org/Overview.html: Direktori ini disusun oleh para ahli di bidang masing-masing. Situs ini menggunakan metode pencarian berdasarkan teknik yang sederhana, yaitu dengan melakukan browsing didasarkan pada kategori, urutan abjad, dan kata kunci. Karena dikerjakan oleh manusia maka topik-topik dalam direktori ini sering sudah kedaluwarsa.

BAB VIII TEKNIK ANALISIS

8.1. Pengertian:
Analisa kualitatif merupakan analisa yang mendasarkan pada adanya hubungan semantis antar variable yang sedang diteliti. Tujuannya ialah agar peneliti mendapatkan makna hubungan variable-variabel sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian. Hubungan antar semantis sangat penting karena dalam analisa kualitatif, peneliti tidak menggunakan angka-angka seperti pada analisa kuantitatif.

Prinsip pokok teknik analisa kualitatif ialah mengolah dan menganalisa data-data yang terkumpul menjadi data yang sistematik, teratur, terstruktur dan mempunyai makna. Prosedur analisa data kualitatif dibagi dalam lima langkah, yaitu: 1) mengorganisasi data: Cara ini dilakukan dengan membaca berulang kali data yang ada sehingga peneliti dapat menemukan data yang sesuai dengan penelitiannya dan membuang data yang tidak sesuai; 2) membuat kategori, menentukan tema, dan pola: langkah kedua ialah menentukan kategori yang merupakan proses yang cukup rumit karena peneliti harus mampu menglompokkan data yang ada kedalam suatu kategori dengan tema masing-masing sehingga pola keteraturan data menjadi terlihat secara jelas; 3) menguji hipotesa yang muncul dengan menggunakan data yang ada: setelah proses pembuatan kategori maka peneliti melakukan pengujian kemungkinan berkembangnya suatu hipotesa dan mengujinya dengan menggunakan data yang tersedia ; 4) mencari eksplanasi alternatif data: proses berikutnya ialah peneliti memberikan keterangan yang masuk akal data yang ada dan peneliti harus mampu menerangkan data tersebut didasarkan pada hubungan logika makna yang terkandung dalam data tersebut; dan 5) menulis laporan: penulisan laporan merupakan bagian analisa kualitatif yang tidak terpisahkan. Dalam laporan ini peneliti harus mampu menuliskan kata, frasa dan kalimat serta pengertian secara tepat yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan data dan hasil analisanya.

8.2. Model Analisis Kualitatif
Model lain untuk melakukan analisa data kualitatif ialah dengan menggunakan: 1) Analisa Domain, 2) Analisa Taksonomi, 3) Analisa Komponensial, 4) Analisa Tema Kultural dan 5) Analisa Komparasi Konstan. (Sanapiah: 1990). Dalam mengaplikasikan teknik-teknik analisa di bawah ini, penulis menggunakan contoh bidang ilmu Desain Komunikasi Visual.

8.2.1. Analisa Domain:
Analisa domain berguna untuk mencari dan memperoleh gambaran umum atau pengertian yang bersifat secara mneyeluruh. Hasil yang diharapkan ialah pengertian di tingkat permukaan mengenai domain tertentu atau kategori-kategori konseptual.

a. Contoh: Domain dalam dunia seni mencakup: seni lukis, seni tari, seni ukir, desain komunikasi visual.

b. Cara Menganalisa: cara menganalisa domain ialah dengan menggunakan analisa semantis yang bersifat universal. Dibawah ini contoh domain yang bersifat universal:
Hubungan Semantis Bentuk Contoh 1. Jenis X adalah jenis Y Iklan adalah salah satu jenis promosi 2. Ruang X adalah tempat di Y atau bagian dari Y Ruang gambar adalah bagian dari laboratorium 3. Sebab – Akibat X adalah akibat dari Y Desain iklan jelek akibat komposisi warna salah 4. Alasan X merupakan alasan melakukan Y Iklan itu bagus, sehingga konsumen membeli produk yang diiklankan 5. Lokasi untuk melakukan X merupakan tempat melakukan Y Ruang gambar adalah tempat untuk menggambar 6 Cara ke Tujuan X merupakan cara melakukan / mencapai Y Membuat logo yang bagus untuk mencapai citra perusahaan yang baik 7. Urutan / tahap X merupakan urutan atau tahap dalam Y Mewarnai merupakan salah satu tahap dalam membuat logo 8. Fungsi X digunakan untuk Y Jenis huruf digunakan untuk menarik pembaca 9. Karaktersitik X merupakan karaktersitik dari Y Komposisi warna merupakan atribut logo
c. Aplikasi Dalam Desain Iklan: di bawah ini diberikan contoh aplikasi analisa domain dalam desain iklan dengan menggunakan pertanyaan structural

Hubungan Semantis Bentuk Contoh 1. Jenis X adalah jenis Y Apa saja jenis iklan yang ada? 2. Ruang X adalah tempat di Y atau bagian dari Y Apa saja bagian keseluruhan dari sebuah iklan? 3. Sebab – Akibat X adalah akibat dari Y Apa sebab warna iklannya tidak cocok? 4. Alasan X merupakan alasan melakukan Y Apa saja alasannya membuat iklan dengan warna hitam putih? 5. Lokasi untuk melakukan X merupakan tempat melakukan Y Dimana saja iklan tersebut ditayangkan / dipasang? 6 Cara ke Tujuan X merupakan cara melakukan / mencapai Y Apa saja cara untuk mencapai bentuk desain iklan yang komunikatif? 7. Urutan / tahap X merupakan urutan atau tahap dalam Y Apa saja tahapan keseluruhan dalam membuat desain iklan? 8. Fungsi X digunakan untuk Y Apa saja fungsi iklan tersebut? 9. Karaktersitik X merupakan karaktersitik dari Y Apa saja karakteristik keseluruhan iklan yang menarik?

8.2.2. Analisa Taksonomi:
Aanalisa taksonomi didasarkan pada focus terhadap salah satu domain (struktur internal domain) dan pengumpulan hal-hal / elemen yang sama.
d. Taksonomi Logo: taksonomi logi dapat digambarkan seperti di bawah ini:
8.2.3.

Analisa Komponensial: analisa komponensial menekankan pada kontras antar elemen dalam suatu domain; hanya karakteristik-karaktersitik yang berbeda saja yang dicari.

Contoh: Cari karakteristik yang berbeda dalam Fungsi Logo suatu perusahaan dengan dimensi-dimensi kontras seperti di bawah ini:
Kategori
Karaktersitik Logo Tidak Standar Semi Standar Standar Bentuk Warna Ukuran Tulisan Jarak Pandang/ Durasi

8.2.4. Analisa Tema Kultural: cara melakukan analisa tema kultural ialah dengan mencari benang merah yang ada yang dikaitkan dengan nilai-nilai, orientasi nilai, nilai dasar / utama, premis, etos, pandangan dunia dan orientasi kognitif. Analisa berpangkal pada pandangan bahwa segala sesuatu yang kita teliti pada dasarnya merupakan suatu yang utuh (keseluruhan), tidak terpecah-pecah; oleh karena itu peneliti dalam menganalisa data sebaiknya menggunakan pendekatan yang utuh (holistic approach)

Teknik analisanya ialah peneliti melakukan hal-hal seperti di bawah ini:
* Melarutkan / menyatukan diri seoptimal mungkin selama melakukan penelitian untuk menghayati apa yang diteliti.
* Melakukan analisa komonensial lintas domain
* Mengidentifikasi domain-domain yang mencakup informasi yang dominan dibandingkan dengan domain lainnya.
* Membuat diagram skematis yang menunjukkan katerkaitan segenap domain
* Mencari kesamaan diantara dimensi yang kontras untuk memunculkan tema-tema dari gejala yang sedang diteliti.
* Mencari tema-tema universal yang biasanya dimuat pada sejumlah teori yang ada.
* Membuat iktisar /ringkasan semua data / informasi yang ada untuk tidak hanya melihat fakta saja, tetapi juga menjalinnya antara satu dengan yang lainnya.
* Membuat suatu perbandingan untuk melacak kesamaan dan perbedaan agar dapat memunculkan tema-tema alternatif lainnya.

8.2.5. Analisa Komparasi Konstan (Grounded Theory Research): cara melakukan analisa komparasi konstan adalah sebagai berikut:
* Mengumpulkan data untuk menyusun / menemukan suatu teori baru.
* Berkonsentrasi pada deskripsi yang rinci mengenai sifat atau cirri dari data yang dikumpulkan untuk menghasilkan pernyataan teoritis secara umum.
* Membuat hipotesa jalinan hubungan antara gejala yang ada, kemudian mengujinya dengan bagian data yang lain.
* Didasarkan dari akumulasi data yang telah dihipotesakan, peneliti mengembangkan suatu teori baru.

Jenis kegiatannya ialah sebagai berikut:
* Menulis catatan: menulis hal-hal yang pokok, dan kemudian mendiskripsikan atau merinci lebih detil dengan cara memberi penjelasan secara lengkap, misalnya konteks kejadiannya, kronologi peristiwa dan sebab musababnya, mengungkapkan data faktual dan penilaian peneliti.
* Memulai dari data ke konsep
* Memodifikasi konsep dengan cara membuat hal-hal yang spesifik menjadi abstrak
* Melakukan analisa bergelombang, dari yang sempit menjadi meluas
* Pengembangan tema inheren menjadi suatu teori.
BAB IX VALIDITAS PENELITIAN KUALITATIF

9.1. Pendahuluan
Salah satu kelemahan dalam penelitian kualitatif yang sering dipertanyakan oleh kelompok peneliti beraliran kuantitatif ialah mengenai validitas hasil penelitian kualitatif. Bagaimana hasil penelitian kualitatif dapat memperoleh validitas yang tinggi, sebagaimana hasil penelitian kuantitatif yang dapat diukur dengan angka? Barangkali jawaban untuk itu sukar diperoleh; sekalipun demikian penelitian kualitatif tetap saja dapat memperoleh validitas jika dilakukan dengan benar, hati-hati dan dengan menggunakan prosedur yang sistematis.

9.2. Cara-Cara Meningkatkan Validitas Penelitian Kualitatif
Berdasarkan pengalaman empiris, para peneliti kualitatif berusaha merumuskan cara-cara untuk meningkatkan validitas penelitian kualitatif dengan melakukan hal-hal sbb:
a) Memperluas harapan harapan awal
b) Memfokuskan dengan cara melihat sumber data lain
c) Membuat kutipan ekstensif yang berasal dari catatan lapangan dan hasil wawancara
d) Menggunakan data penelitian lainnya sebagai sumber pengecekan
e) Melakukan pengecekan dengan meminta peneliti lain untuk memeriksa hasil penelitian kita (peer researchers)

BAB X MENULIS LAPORAN

10.1. Pengertian
Setiap hasil penelitian sebaiknya dituangkan dalam bentuk laporan tertulis, hal ini sesuai dengan konvensi yang berlaku dan untuk menghindari ketidakjelasan bagi pembaca hasil penelitian tersebut. Banyak sekali format pelaporan hasil penelitian sekalipun demikian yang terpenting bukan sistematika yang kadang berubah-ubah dan berbeda satu dengan yang lain. Inti dari laporan dapat dituliskan sbb:
* Bagian I : Pendahuluan
* Bagian II : Kajian Pustaka
* Bagian III : Metodologi Penelitian
* Bagian IV : Hasil Penelitian
* Bagian V : Analisis Hasil Penelitian
* Bagian VI : Kesimpulan dan Saran

10.2. Pendahuluan
Bab pendahuluan berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, desain penelitian yang akan digunakan, dan batasan masalah yang akan diteliti.Jika dilihat isinya sebenarnya bagian pendahuluan sama dengan proposal yang ditulis oleh peneliti pada saat merancang proposal yang akan diajukan ke tim penilai.

10.3. Kajian Pustaka
Pada bagian ini berisi kajian pustaka pendukung yang berkaitan dengan konsep, teori, data atau temuan hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti dan yang mendasari penelitian yang sedang dijalankan.

10.4. Metodologi Penelitan
Bagian ini berisi mengenai pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan untuk menjawab tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Metode meliputi penentuan populasi, sample, instrument pengambilan data, teknik analisisnya serta alat ukurnya.

10.5. Hasil Penelitian
Hasil penelitian berisi pemaparan deskriptif semua data dan informasi yang diperoleh di lapangan. Jumlah pemaparan tergantung pada jumlah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada para informan yang diteliti.

10.6. Analisis Hasil Penelitian
Pada bagian ini, peneliti melakukan analisis hasil penelitian dengan menggunakan teknik analisis yang sesuai dengan masalah yang ditelitinya. Antara deskripsi hasil penelitian dan analisis sebaiknya sejalan.

10.7. Kesimpulan dan Saran
Pada bagian kesimpulan berisi jawaban-jawaban yang sesuai dengan tujuan penelitian pada bagian pendahuluan. Perlu diingat harus ada benang merah antara rumusan masalah, tujuan penelitian dan kesimpulan. Bagaian saran berisi mengenai rekomendasi peneliti berkaitan dengan hasil penelitian yang diintisarikan dalam kesimpulan. Oleh karena itu, sebaiknya pemberian saran selalu didasarkan pada kesimpulan yang sudah dibuat.
BAB XI MEMADU PENDEKATAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
11.1. Pendahuluan

11.2. Perbedaan Antara Penelitian Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
Kebutuhan pemahaman yang benar dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan penelitian merupakan hal yang penting agar dapat dicapai hasil yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. Pendekatan yang mana sebaiknya digunakan dalam penelitian antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif? Dalam bab ini akan memberikan ulasan singkat mengenai pengertian dasar dari kedua pendekatan tersebut.

11.2.1. Konsep yang berhubungan dengan pendekatan
Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.

Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.

11.2.2. Dasar Teori
Jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, maka dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi simbolik dari suatu gejala dengan gejala lain yang ditafsir berdasarkan pada budaya yang bersangkutan dengan cara mencari makna semantis universal dari gejala yang sedang diteliti. Pada mulanya teori-teori kualitatif muncul dari penelitian-penelitian antropologi , etnologi, serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena teori-teori ini bersifat umum dan terbuka maka ilmu social lainnya mengadopsi sebagai sarana penelitiannya.

Lain halnya dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada apa yang disebut dengan fungsionalisme struktural, realisme, positivisme, behaviourisme dan empirisme yang intinya menekankan pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji empiris dan fakta-fakta yang nyata.

11.2.3. Tujuan
Tujuan utama penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ialah mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai “grounded theory research”.

Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan antar variable, memberikan deskripsi statistik, menaksir dan meramalkan hasilnya.

11.2.4. Desain
Melihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah / berkembang sesuai dengan situasi di lapangan. Kesimpulannya, desain hanya digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitan, oleh karena itu desain harus bersifat fleksibel dan terbuka.

Lain halnya dengan desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, desainnya harus terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin sebelumnya. Desainnya bersifat spesifik dan detil karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya. Oleh karena itu, jika desainnya salah, hasilnya akan menyesatkan. Contoh desain kuantitatif: ex post facto dan desain experimental yang mencakup diantaranya one short case study, one group pretest, posttest design, Solomon four group design dll.nya.

11.2.5. Data
Pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan.

Sebaliknya penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif / angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Data tersebut berbentuk variable-variabel dan operasionalisasinya dengan skala ukuran tertentu, misalnya skala nominal, ordinal, interval dan ratio.

11.2.6. Sampel
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sample didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih sample merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sample teoritis dan tidak representatif

Sedang pada pendekatan kuantitatif, jumlah sample besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin sample besar akan semakin merepresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan kuantitatif membutuhkan sample yang besar, maka stratafikasi sample diperlukan . Sampel biasanya diseleksi secara random. Dalam melakukan penelitian, bila perlu diadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sample yang sedang diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variable yang akan diteliti, contoh, penentuan variable yang mana yang ditentukan sebagai variable bebas, variable tergantung, varaibel moderat, variable antara, dan varaibel kontrol. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan terhadap variable pengganggu.

11.2.7. Teknik
Jika peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang bersangkutan kan menggunakan teknik observasi terlibat langsung atau riset partisipatori, seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang antropologi dan etnologi sehingga peneliti terlibat langsung atau berbaur dengan yang diteliti. Dalam praktiknya, peneliti akan melakukan review terhadap berbagai dokumen, foto-foto dan artefak yang ada. Interview yang digunakan ialah interview terbuka, terstruktur atau tidak terstruktur dan tertutup terstruktur atau tidak terstruktur.

Jika pendekatan kuantitatif digunakan maka teknik yang dipakai akan berbentuk observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen dan eksperimen semu. Dalam mencari data, biasanya peneliti menggunakan kuesioner tertulis atau dibacakan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan apakah itu data primer atau sekunder.

11.2.8. Hubungan dengan yang diteliti
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun didasarkan pada saling kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sample itu manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek penelitian.

Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan ini seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat objektivitas yang tinggi. Pada umumnya penelitiannya berjangka waktu pendek.

11.2.9. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru, contoh dari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa taksonomi, analisa komponensial, analisa tema kultural, dan analisa komparasi konstan (grounded theory research).

Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear dll.nya.

11.2.10. Kesimpulan

Kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti.

Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya.

11.3. Strategi Memadu Pendekatan Kuantitatif dengan Pendekatan Kualitatif
Didasarkan pada diskusi di atas, nampaknya tidak ada cara untu memadu dua pendekatan yang bersifat kontradiski tersebut.. Bagi para penganut murni satu metodologi, mereka tetap memegang teguh dalam menggunakan satu pendekatan saja.. Sekalipun demikian ada banyak orang yang berusaha mencari titik temu untuk memadukan kedua pendekatan tersebut.. Penulis memberikan saran bahwa dalam memadu kedua pendekatan yang berbeda tersebut sebaiknya dibedakan dalam tiga tataran, yaitu tataran filosofi, teoritis dan prkatis.

Pertama kita akan bicarakan dari tataran filosofi yang mendasarinya. Disatu sisi pijakan filosofi pendekatan kuantitatif mengatakan bahwa realitas itu bersifat tunggal, kongkrit, dapat diamati; sebaliknya, pijakan filosofi pendekatan kualitatif menyatakan bahwa realitas bersifat ganda, bulat atau utuh, dan realitas tersebut merupakan hasil dari suatu definisi dan konstruksi. Melihat kondisi tersebut kita akan mengalami kesulitan jika berusaha memadu kedua pendekatan tersebut dalam tataran filosofi masing-masing karena titik awal filsafat yang mendasari kedua pendekatan tersebut sudah berbeda.

Kedua pada tataran teoritis pendekatan kuantitatif didasari oleh teori positivisme, empirisme, behaviorisme, rationalisme, and fungsionalisme. Benang merah dari teori-teori tersebut ialah bagaimana cara mendapatkan kebenaran dalam ilmu pengetahuan secara empiris dengan menggunakan indera manusia dan melacak dari sudut pandang luar. Sementara itu pendekatan kualitatif didasari oleh teori-teori, seperti idealisme, fenomenologi, interaksi simbolik, dan naturalisme. Inti dari teori-teori tersebut menyatakan bahwa esensi makna atau kebenaran dapat diperoleh melalui interaksi manusia; oleh karena itu, makna terikat pada budaya manusia tertentu dan tidak bebas nilai. Akibatnya dalam melacak kebenaran para peneliti harus mencari dari sisi dalam diri manusia. Kesimpulannya pada tataran teori, kita juga mengalami kesulitan dalam menggabung kedua pendekatan karena teori-teori tersebut dilandasi oleh pijakan-pijakan filsafat yang berbeda.

Ketiga pada tataran praktis, pada tataran ini metode dan teknik untuk masing-masing pendekatan diharapkan dapat digabung atau setidak-tidaknya digunakan secara bersamaan dalam suatu penelitian tertentu. Dari pengalaman empiris di lapangan, sudah banyak para ahli metodologi menggunakan metode gabungan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam ilmu pengetahuan. Diskusi untuk masalah ketiga ini akan dibahas secara mendalam dalam bagian berikut ini.

Metode Gabungan: Aplikasi Dalam Desain Komunikasi Visual
Brymman (Brennan:1992) mengajukan model sebagai berikut:
1. Penelitian kualitatif digunakan untuk memfasilitasi penelitian kuantitatif.
2. Penelitian kuantitatif digunakan untuk memfasilitasi penelitian kualitatif
3. Kedua pendekatan diberikan bobot yang sama
4. Triangulasi
Dalam ususlannya, Brymman tidak memberikan contoh sama sekali. Oleh karena itu untuk memudahkan para pembaca dalam memahami masalah ini penulis akan memberikan contoh-contoh dalam penelitian ilmu desain komunikasi visual.

11.3.1. Model I Penelitian Kualitatif Digunakan untuk Memfasilitasi Penelitian Kuantitatif

Untuk model pertama ini penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut: Tahap pertama dalam penelitian, kita melakukan penelitian kualitatif dengan metode focus group discussion (fgd). Fgd merupakan salah satu teknik popular dalam pendekatan kualitatif yang berfungsi sebagai sarana pengumpulan informasi awal dari para informan yang diwawancarai. Teknik Fgd ini akan dapat efektif jika interaksi antara peserta diskusi dalam hal ini para informan dan memberikan jawaban yang banyak dan berkualitas serta memberikan pemikiranpemikiran baru berkaitan dengan masalah yang sedang digali. Untuk melakukan hal ini kita memerlukan sedikitnya lima orang peserta diskusi yang akan dijadikan sebagai informan untuk digali informasinya. Jalannya diskusi dipimpin oleh seorang panelis yang memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mengarahkan jalannya diskusi. Sebagai catatan, panelis tidak boleh mengarahkan jawaban dari para informan melainkan hanya memberikan stimulasi atau pancingan. Dari hasil diskusi ini diharapkan muncul masalah yang jelas dan spesifik setelah melalui penyaringan dalam diskusi; kemudian masalah tersebut dapat dijadikan sebagai masalah dalam penelitian kuantitatif.
.
Penelitian menggunakan model ini dalam desain komunikasi visual dapat dilakukan dengan menggunakan topic sbb: Kajian mengenai peran seorang public figure, misalnya seorang artis dalam sebuah iklan, misalnya iklan Jamu Tolak Angin yang diperankan oleh Sophia Latjuba. Pada tahap awal peneliti dapat melakukan kajian tersebut dengan melakukan penelitian kualitatif dengan metode fgd untuk mengkaji apa saja yang didapatkan dari hasil kajian tersebut berkaitan dengan peran karakter dalam iklan tersebut. Masalah-masalah yang akan muncul diantaranya:
* Apakah dengan adanya artis tersebut dapat berperan dalam meningkatkan minat beli masyarakat?
* Apakah dengan adanya artis tersebut iklan itu sendiri menjadi menarik bagi pemirsa?
* Apakah sifat-sifat dan kehidupan sehari-hari artis tsb dapat memperbaiki atau sebaliknya memperburuk citra perusahaan tersebut?
* Apakah dengan adanya artis tersebut pesan yang akan disampaikan oleh pihak perusahaan dapat ditangkap oleh calon konsumen mereka?

Dari hasil diskusi kualitatif tersebut, misalnya muncul masalah yang terakhir yang paling dominant dalam pembicaraan; maka masalah yang akan diteliti ialah ” Efektivitas peranan artis Sophia Latjuba dalam menyampaikan pesan jamu Tolak Angin sehingga calon konsumen dapat memahami iklan tersebut”. Dengan menggunakan topik tersebut, peneliti harus melakukan crosscheck kepada konsumen dengan melakukan survey yang bersifat kuantitatif.

11.3.2. Model II Penelitian Kuantitatif Digunakan untuk Memfasilitasi Penelitian Kualitatif
Untuk model kedua ini dapat diberikan contoh sbb: Dalam suatu survei mengenai logo PT BNI menemukan masukan dari para pegawainya yang menyebutkan bahwa sebanyak 80% dari pegawainya menginginkan logo perusahaan tersebut diubah mengingat perkembangan jaman dan pada dasarnya logo itu mencerminkan citra perusahaan . Dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin mutakhir, PT BNI sudah meninggalkan cara-cara layanan model lama atau manual. Untuk itu perubahan logo yang mencerminkan kondisi baru tersebut diperlukan. Hasil survey tersebut hanya dapat mencerminkan adanya keinginan dari para pegawai tetapi tidak dapat memberikan informasi pemikiran apa yang melandasi keinginan tersebut. Agar peneliti dapat mengungkap apa-apa yang tersirat dalam keinginan tersebut maka sebaiknya yang bersangkutan melakukan penelitian kualitatif dengan cara melakukan wawancara kepada para pegawainya dengan permasalahan, misalnya:
* Mengapa para pegawai menginginkan perubahan logo?
* Bagaimana sebaiknya bentuk logo yang baru tersebut?
* Apa isi pesan logo yang baru?
* Apakah perubahan itu bersifat modifikasi atau perubahan total?
* dlsbnya
11.3.3. Model III Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Diberikan Bobot yang Sama
Dalam model ketiga ini peneliti harus mengembangkan dua desain penelitian secara bersamaan, yaitu desain riset kuantitatif dan desain riset kualitatif. Untuk desain riset kuantitatif, metodenya survei, instrumen pengambilan data kuesioner, teknik samplingnya probabilistik, alat ukur statistik rata-rata atau persentase dan teknik analisa menggunakan statistik inferensial. Sedang untuk desain riset kualitatif, metodenya menggunakan riset partisipatori, instrument pengambilan datanya berupa panduan wawancara, sample sebagai informan akan dipilih sesuai dengan kebutuhan. Dalam model ini, peneliti dapat menggunakan beberapa metode yang berbeda pada saat pengambilan data dilapangan.

Model ini akan diaplikasikan dalam kasus, misalnya “Kajian peranan warna pink dalam produk-produk kosmetik Sari Ayu”. Setelah peneliti melakukan identifikasi masalah, maka masalah yang muncul ialah sbb: 1) Faktor-faktor apa saja yang mendorong Sari Ayu menggunakan warna pink untuk produk kosmetik di tahun 2005?, b) Mengapa warna pink yang menjadi pilihan mereka di tahun 2005?

Masalah pertama dapat diselesaikan dengan menggunakan survei. Caranya adalah: a) Pilihlah responden pegawai Sari Ayu dengan menggunakan teknik sampling random sederhana, b) mintalah mereka mengisi kuesioner yang sudah dipersiapkan dulu, dan c) gunakan statistik deskriptif untuk menganalisis hasil awalnya dan jika ingin menggunakan analisis statistik inferensial, peneliti dapat menggunakan analisa faktor .

Hasil penelitian menunjukkan diantaranya ialah: a) faktor ekonomi (strategi pemasaran), b) kecenderungan dalam dunia mode, c) berkaitan dengan pasar sasaran, yaitu wanita, dan d) melakukan eksprimen produk dengan bantuan warna. Jika dilihat dari persentase gambarannya sbb:
* Faktor pertama dipilih sebanyak 30%
* Faktor kedua dipilih sebanyak 30%
* Faktor ketiga dipilih sebanyak 20%
* Faktor keempat dipilih sebanyak 20%

Untuk menjawab formulasi masalah kedua, peneliti harus menggunakan pendekatan kualitatif, metode wawancara. Dalam wawancara peneliti menanyakan hal-hal diantaranya:
* Mengapa perusahaan memilih warna pink?
* Siapa yang melakukan seleksi warna produk?
* Bagaimana prosedur pemilihan warna tersebut?
* Sebutkan pertimbangan utama dalam menentukan warna dalam produk tertentu?

Jika peneliti menggunakan model ketiga ini, hal yang perlu diingat ialah pemilihan responden harus dilakukan dalam dua kali. Pertama dengan menggunakan teknik probabilitas, peneliti memilih responden untuk mengisi kuesioner dan kedua peneliti mengambil sample lain lagi yang akan digunakan sebagai informan dalam wawancara. Peneliti tidak boleh menggunakan responden yang sama karena yang bersangkutan menggunakan dua metode yang berasal dari pendekatan yang berbeda. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi interpolasi (informasi yang satu dengan yang lain bertentangan, sedangkan sumbernya sama) dalam informasi yang diperolehnya.
11.3.4. Model IV Triangulasi
Dalam model keempat ini peneliti yang menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai pendekatan dalam penelitiannya, melakukan verifikasi temuan risetnya dengan hasil penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif atau sebaliknya. Dalam kasus penelitian, misalnya seorang peneliti ingin mengetahui “Berapa ukuran standar suatu billboard yang biasa digunakan untuk sarana promosi perusahaan-perusahaan dalam produk rokok.” Peneliti kemudian melakukan survey ke kantor-kantor biro periklanan atau biro-biro pembuat billboard. Dalam studinya peneliti menemukan ukuran tertentu. Kemudian peneliti tersebut melakukan crosscheck dengan cara mewancari seorang desainer atau ahli dalam bidang periklanan mengenai ukuran standar billboard. Model ini dapat sebaliknya. Yang terpenting ialah masing-masing penelitian dilakukan oleh peneliti yang berbeda dengan sample dan latar yang berbeda pula.

11.4. Resiko-Resiko yang Akan Ditemui pada Hasil Riset
Memadukan dua pendekatan yang berbeda mempunyai resiko-resiko yang akan diketemukan dalam hasil penelitian, seperti:
a. Hasil temuan penelitian tidak menyatu (integrated): Data yang dikoleksi dengan menggunakan metode yang berbeda-beda akan menghasilkan ketidak konsistean, tidak utuh dan tidak menyatu. sebaliknya, data yang dikumpulkan dengan satu metode yang sama akan memberikan hasil yang konsisten dan terintegrasi. Kesimpulannya ialah bahwa metode yang dicampur-campur akan kehilangan integritas dalam hasil penelitiannya. Kita tidak dapat mempelakukan tipe-tipe data yang berbeda dengan satu alat analisis.. Data yang berbeda harus dianalisis dengan menggunakan alat yang berbeda pula; akibatnya hasilnya akan bervariasi atau berbeda satu dengan yang lain. Secara teknis hal ini disebut sebagai interpolasi __ menambah data atau informasi yang kadang-kadang tidak melengkapi tapi menyesatkan. Konsekuensi logis dari keadaan seperti itu ialah data yang lainnya harus diperlakukan sebagai pelengkap saja.
b. Tidak atau belum ada cara-cara atau alat untuk mengintegrasikan data kuantitatif dan kualitatif: Sampai saat ini penulis belum mendapatkan alat untuk mengintegrasikan data dalam bentuk teks, gambar, suara, kejadian ataupun kombinasinya.
c. Desain penelitian yang berbeda akan menghasilkan temuan yang berbeda: Desain penelitian yang berbeda akan menghasilkan temuan-temuan penelitian yang berbeda pula. Dengan menggunakan desain penelitian yang berbeda pada waktu yang bersamaan akan memungkinkan menghasilkan temuan yang berbeda bahkan kontradiksi satu dengan yang lain dikarenakan ketidak-mampuan peneliti dalam memadu metode secara tepat.
d. Metode gabungan belum tentu lebih baik dari metode tunggal.. Apabila kita bukan seorang ahli metodologi, akan lebih baik untuk tidak menggabung metode. Menggabung metode, lebih lanjut, tidak menjamin hasil yang lebih baik disbanding dengan menggunakan satu metode.
e. Untuk dapat menggabungkan dua metode yang berbeda, kita membutuhkan keahlian dan pengetahuan kedua pendekatan tersebut.. Apabila kita ingin menggabung pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam suatu penelitian yang sama, pertama kali hal yang harus diketahui ialah mengenal masing-masing pendekatan terlebih dahulu. Jika keahlian peneliti tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut, maka penelitian akan berjalan salah dan hasil penelitiannya akan menyesatkan.

11.5. Strategi Menekan Kesalahan
Untuk menekan tingkat kesalahan dalam menggabung dua metode, penulis menyarankan beberpa hal di bawah ini:
1. Rumuskan tujuan-tujuan penggunaan masing-masing metode atau teknik, misalnya apa tujuan menggunakan kuesioner? Apa tujuan menggunakan panduan wawancara? Jangan menggunakan kuesioner untuk metode yang kualitatif sebaliknya juga jangan menggunakan wawancara untuk metode yang kuantitatif.
2. Spesifikasi dan tentukan sebelumnya tipe dan karakteristik data yang akan dikumpulkan. Apakah data kuantitatif primer atau sekunder? Apakah data kualitatif primer atau sekunder? Ataukah data gabungan? Jika digabung, seleksi mana yang dapat digabung dan mana yang tidak dapat, misalnya tidak mungkin menggabung data teks dengan data berskala interval ?
3. Selalu pertimbangkan bahwa data yang akan dikumpulkan harus segaris dengan teori.. Dalam pendekatan kuantitatif, masalah ini dapat dicek dengan melihat angka signifiknasi (probabilitas). Dalam pendekatan kualitatif, data yang dikumpulkan harus dipandu oleh tujuan-tujuan penelitan yang sudah dirumuskan terlebih dahulu. Jika data bertentangan dengan teori, maka data tersebut harus diganti.
4. Perhatikan secara baik dan hati-hati dalam menentukan langkah-langkah kegiatan penelitian.. Jika kita ingin melakukan penelitian, kita harus mulai dari identifikasi dan rumusan masalah, baru kemudian kita menentukan pendekatan, metode dan teknik kuantitatif atau kualitatif.
5. Gunakan masing-masing desain penelitian dengan baik dan tatailah aturan-aturan yang berlaku. Misalnya, jangan menggunakan responden yang ditarik dengan menggunakan teknik sampling probabilitas untuk diinterview dan jangan meminta responden yang diambil dengan menggunakan teknik non probabilitas untuk mengisi kuesioner.
6. Selalu sesuaikan antara tipe data, instrument pengukuran dan alat pengambilan data dengan tujuan penelitian; contoh, jika kita meformulasikan suatu masalah penelitian sbb:Berapa besar peranan desain Point Of Purchase terhadap minat beli ?” maka kita memerlukan data kuantitatif, ukuran persentase atau rata-rata, dan menggunakan kuesioner. Jika masalah sbb, ” Bagaimana peranan desain Point Of Purchase terhadap minat beli ?” maka kita memerlukan data kualitatif.
7. Bedakan secara jelas antara menggabung data kuantitatif dengan data kualitatif memadu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Yang pertama adalah pada tataran parktis__yang dapat menimbulkan potesni kesalahan. Yang kedua pada tetaran teori__ yang jika dilakukan dengan baik dan benar akan membawa hasil yang benar.
8. Jangan mencoba melakukan kuantifikasi atau mengukur data kualitatif karena hasilnya akan meragukan dan bersifat relative / terikat pada kondisi saat penelitian dilakukan. Perlu diingat tujuan penelitian kuantitatif adalah melakukan generalisasi sample kedalam populasi yang hal ini tidak dapat dilakukan dalam penelitian kualitatif; contoh, kita membuat kategori hasil wawancara dan kemudian menggambarkan dalam grafik dengan angka-angka yang menunjukkan hasil wawancara.
9. Jangan merasa benar jika anda mempunyai data kualitatif digunakan sebagai data pendukung kuantiatif atau sebaliknya.. Ingat bahwa perbedaan tipe data dapat menciptakan interpolasi__menambah data atau informasi yang dapat mengakibatkan kesalahan atau bertentangan satu dengan yang lain. Oleh karena itu lakukan pengecekan berulang-ulang data yang sudah dikumpulkan apakah mereka segaris atau tidak.
11.6. Kesimpulan
Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan beberapa hal pokok mengenai cara-cara memadu kedua pendekatan di atas, yaitu:
* Pendekatan kuantitatif dan kualitatif mempunyai perbedaan yang fundamental terkait dengan filsafat yang mendasarinya, teori pijakannya dan metode serta teknik yang berbeda tujuannya..
* Memadu kedua pendekatan hanya mungkin pada tataran praktis: metode dan teknik misalnya dalam mengumpulkan data sekalipun dmeikian peneliti harus dapat mengantisipasi kemungkinan munculnya kesalahan yang menyebabkan hilangnya validitas hasil penelitian.
* Meski ada cara untuk memadu kedua pendekatan tersebut, hasilnya tetap tidak akan utuh dan terintegrasi.
* Dalam Ilmu Desain Komunikasi Visual dapat dilakukan penelitian gabungan, sekalipun demikian persyaratan mutlak menggunakan metode yang berbeda, peneliti harus mengerti kedua metode yang berbeda dengan baik dan benar.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsini. (1992). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Brannen, Julia. (1992). Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research. Brookfield, USA: Avebury, Aldershot Publisher

Chadwick, Brainerd Terry. (2001). How to Conduct Research on the Internet. World Wide Web: http://www.tbchad.com/resrch.html

Davis, Duane dan Conseza Robert. (1985).Business Research for Decision
Making. California: Wadsworth Inc.

Faisal, Sanapiah. (1990). Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasinya.
Malang: YA3

Greene, J., & Caracelli, V. (Eds.). (1997). Advances in Mixed-Method Evaluation: The Challenges and Benefits of Integrating Diverse Paradigms. San Francisco: Jossey-Bass

Harris, Robert. (2003). Evaluating Internet Research Sources. World Wide Web: http://www.virtualsalt.com

Jones, Ian. (1997). Mixing Qualitative and Quantitative in Sport Fan Research.
The Qualitative Report, Volume 3, Number 4, December, 1997 (http://www.nova.edu/ssss/QR/QR3-4/jones.html)

Marshal, Catherine dan Gretchen B Rossman. (1995). Designing Qualitative Research. California: Sage Publication,. Inc.

Miles, M.B., and Huberman, A.M. (1994). Qualitative Data Analysis, 2nd Ed. Newbury Park, CA: Sage

Reswell, J. W. (1994). Research design: qualitative and quantitative approaches.
Bibl. gén. H 62 C923

Sarwono, Jonathan.(2004). Strategi Melakukan Penelitian di Internet. Majalah Ilmiah Maranatha Vol XXIV Januari 2004. U.K Maranatha

Sarwono, Jonathan. (2003). Penelitian di Internet (Virtual Book). World Wide Web: http://js.unikom.ac.id

Sarwono, Jonathan. (1995). Penuntun Penelitian Praktis, Bandung: Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Kristen Maranatha

Suriasumantri, Yuyun. (1990). Filsafat Ilmu. Jakarta: Sinar Harapan
Smith, S. P., Sells, T. E., & Sprenkle, D. H. (1995). Integrating qualitative and quantitative research methods: A research model. Family Process, 34(2), 199-218.

University of Delaware Library. (2003). Searching for Quality in Internet. World Wide Web: http://www.lib.udel.edu

Lampiran
1. Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah Menurut American Psychological Association (APA)

PEDOMAN PENULISAN MAKALAH MENURUT
APA (AMERICAN PSYCHOLOGICAL ASSOCIATION) STYLE

Alih Bahasa: Salmon P. Martana, S.T.,M.T.

Makalah/paper diketik dengan rapi dengan pedoman sesuai yang tercantum di cover belakang Majalah Ilmiah UNIKOM.

Bila hendak memasukkan makalah dalam bentuk file elektronik, maka hanya Microsoft Word atau Rich Text Format format digital yang dapat diterima.

Cantumkan nama lengkap penulis beserta institusi asal. Hanya nama lengkap, tidak ditambahi dengan gelar akademik maupun non akademik seperti S.H., M.Sc., Ph.D., Prof, atau K.R.T., B.R.Ay dan lain sebagainya.

Tidak diperkenankan menggunakan footnote atau catatan kaki. Kutipan atau acuan hendaknya langsung dicantumkan dalam bodytext dengan menyebutkan sumbernya di dalam kurung, berupa nama keluarga/nama belakang pengarang, koma, spasi, tahun penerbitan acuan.
Contoh:
Beban pada bangunan timbul dan dibangkitkan baik oleh alam sendiri maupun oleh manusia, di mana terdapat dua sumber utama beban pada bangunan, yaitu sumber beban geografis dan sumber beban buatan manusia (Schueller, 1977).
Acuan harus tercantum di daftar pustaka, sehingga berkaitan dengan kutipan di atas pada daftar pustaka harus termuat:
Schueller, W. (1977). High-rise building structure. New York: John Wiley & Sons.

Daftar Pustaka ditulis sesuai urutan abjad penulis utama. Yang dicantumkan pada bagian penulis hanya inisial nama depan dan nama keluarga/nama belakang penulis. Tidak diperkenankan menambahkan/menyertakan gelar-gelar baik akademik maupun non akademik seperti S.H., M.Sc., Ph.D., Prof, atau K.R.T., B.R.Ay. dan lain sebagainya. Ketentuan-ketentuan yang lebih mendetail tercantum di bawah ini.
BUKU
Material yang terambil dari Buku, dengan hanya satu pengarang.
* Nama keluarga pengarang diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Tahun penerbitan terakhir dalam kurung diikuti titik, spasi
* Judul buku dicetak miring (Setiap huruf pertama kata-kata yang penting merupakan huruf besar) diikuti titik, spasi
* Kota tempat publikasi diikuti titik dua, spasi
* Nama penerbit (hanya nama, sebutan lain seperti PT, Inc, Ltd, Company tidak dicantumkan) diikuti titik

Contoh: Hellman, L. (1986). Architecture for beginners. London: Writers & Readers.

Material yang terambil dari buku dengan dua penulis
* Nama keluarga pengarang pertama diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang pertama diikuti titik setelah setiap huruf, spasi, koma, spasi
* Tanda “&”, spasi
* Nama keluarga pengarang kedua diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang kedua diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Tahun penerbitan terakhir dalam kurung diikuti titik, spasi
* Judul buku dicetak miring (Setiap huruf pertama kata-kata yang penting merupakan huruf besar) diikuti titik, spasi
* Kota tempat publikasi diikuti titik dua, spasi
* Nama penerbit (hanya nama, sebutan lain seperti PT, Inc, Ltd, Company tidak dicantumkan) diikuti titik

Contoh: Bawden, D. ,& Blakeman, K. (1990). IT strategies for information management. London: Butterworth.

Material yang terambil dari buku dengan lebih dari dua penulis.
* Nama keluarga pengarang pertama diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang pertama diikuti titik setelah setiap huruf, spasi, koma, spasi
* Nama keluarga pengarang kedua diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang kedua diikuti titik setelah setiap huruf, koma, spasi
* (Nama-nama penulis berikutnya diperlakukan seperti pengarang kedua kecuali pengarang terakhir)
* Tanda “&”, spasi
* Nama keluarga pengarang terakhir diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang terakhir diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Tahun penerbitan terakhir dalam kurung diikuti titik, spasi
* Judul buku dicetak miring (Setiap huruf pertama kata-kata yang penting merupakan huruf besar) diikuti titik, spasi
* Kota tempat publikasi diikuti titik dua, spasi
* Nama penerbit (hanya nama, sebutan lain seperti PT, Inc, Ltd, Company tidak dicantumkan) diikuti titik

Contoh: Gelebet, I.N., Megananda, I.W., Negara, M.Y., Suwirya, I.M., & Surata, I.N. (1982). Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Material dari buku yang bukan edisi pertama
* Nama keluarga pengarang diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Tahun penerbitan terakhir dalam kurung diikuti titik, spasi
* Judul buku dicetak miring (Setiap huruf pertama kata-kata yang penting merupakan huruf besar) diikuti spasi
* Tanda kurung buka, nomor edisi diikuti “ed” lalu titik, kurung tutup, titik, spasi
* Kota tempat publikasi diikuti titik dua, spasi
* Nama penerbit (hanya nama, sebutan lain seperti PT, Inc, Ltd, Company tidak dicantumkan) diikuti titik

Contoh: Babbie, E. (1991). The practice of social research (6th ed). California: Wadsworth.

Material bersumber pada essai dalam sebuah buku yang diedit
* Nama keluarga pengarang essai diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang essai diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Tahun penerbitan terakhir dalam kurung diikuti titik, spasi
* Judul essai (Setiap huruf pertama kata-kata yang penting merupakan huruf besar) diikuti titik, spasi
* Kata “Dalam”
* Inisial nama depan editor buku diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Nama keluarga editor buku
* Kurung buka, kata “Ed”, titik, kurung tutup diikuti koma dan spasi
* Judul buku dicetak miring (Setiap huruf pertama kata-kata yang penting merupakan huruf besar) diikuti spasi
* Dalam kurung, dituliskan halaman essai pada buku yang bersangkutan. “hlm” diikuti titik, nomor halaman awal essai, tanda garis pisah, halaman akhir essai. Setelah kurung tutup diikuti titik dan spasi
* Kota tempat publikasi diikuti titik dua, spasi
* Nama penerbit (hanya nama, sebutan lain seperti PT, Inc, Ltd, Company tidak dicantumkan) diikuti titik

Contoh: Byrne, U. (1989). Information for strategic planning. Dalam C. Oppenheim (Ed.), Perspectives in information management (hlm. 339-351). London: Butterworth.

JURNAL/MAJALAH ILMIAH
Material bersumber dari artikel di Jurnal/Majalah Ilmiah
* Nama keluarga pengarang essai diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang essai diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Tahun penerbitan dalam kurung diikuti titik, spasi
* Judul artikel (Setiap huruf pertama kata-kata yang penting merupakan huruf besar) diikuti titik, spasi
* Nama jurnal dicetak miring dengan huruf besar pada setiap awal kata, diikuti koma,spasi
* Volume jurnal dicetak miring, diikuti nomor jurnal dalam kurung, koma, spasi
* Nomor halaman awal artikel, tanda garis pisah, nomor halaman akhir artikel

Contoh: Martana, S.P. (2002). The impact of Tourism on Ubud Painting Art. ASEAN Journal on Hospitality and Tourism, 1(2), 117-132.

SURAT KABAR
Material bersumber dari artikel di Surat Kabar
* Nama keluarga pengarang essai diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) pengarang essai diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Kurung buka, tahun penerbitan, koma, tanggal dan bulan penerbitan, kurung tutup, titik
* Judul artikel, titik, spasi
* Nama surat kabar dicetak miring, koma, spasi
* “hlm”, titik, spasi, nomor halaman suratkabar yang memuat artikel.

Contoh: Wattimena, S. (2003, 8 September). Peranan tari dalam pembentukan budaya populer. Kompas, hlm. 24

SITUS INTERNET
Dokumen bersumber dari suatu halaman tertentu di internet
* Nama keluarga penulis artikel diikuti koma dan spasi
* Inisial nama depan (dan tengah) penulis artikel diikuti titik setelah setiap huruf, spasi
* Tahun penulisan artikel di dalam kurung, diikuti titik dan spasi
* Judul artikel dicetak miring diikuti titik dan spasi
* “Diakses pada” tanggal akses, bulan akses, koma, spasi, tahun akses “dari World Wide Web”, tanda titik dua, spasi
* Alamat lengkap artikel yang dituju

Contoh: Noor, I.M. (2002). Peningkatan peranan guru dalam kurikulum berbasis kompetensi. Diakses pada 22 September, 2003 dari World Wide Web: http:tesisamon.tripod.com/bpk/kompetensi.html

LAIN-LAIN
Dokumen-dokumen dengan pengarang dan tahun yang sama
Jika dalam daftar referensi terdapat dua atau lebih makalah yang ditulis seorang pengarang yang sama dan diterbitkan pada tahun yang sama, beri tanda urutan a, b, c pada bagian tahun penerbitan.
Contoh:
Permana, D. (1999a). Filsafat ilmu pasti. Bandung: Penerbit Rosda.
Permana, D. (1999b). When civilization gone with the wind. Boston: John Wiley & Sons.
Oleh Novi Hendra (novi_hendra24@yahoo.co.id)
Ex-mahasiswa ilmu Politik Universitas Andalas Padang
1